Calon Malaikat Kecil

Calon Malaikat Kecil
6. Taruhan


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Hal apa yang sangat di sukai oleh Taksa? Tentu saja taruhan.


Karena baginya permainan seperti itu sangat menantang baginya, tentu sangat menyenangkan jika Taksa berkali-kali menang dalam taruhan yang akan ia mainkan nanti.


Setiap minggu Taksa dan teman-temannya akan bermain taruhan seperti Siapa yang berhasil meluluhkan seseorang akan mendapatkan mobil Lamborghini?


Taksa selalu tergila dengan taruhan tersebut, di mana semua barang-barang milik temannya akan menjadi miliknya jika laki-laki tersebut menang dalam permainan tersebut.


Taksa sudah beberapa kali memenangkan permainan tersebut sehingga barang-barangnya lumayan banyak, hanya saja Taksa termasuk seseorang yang mudah bosen dengan barang-barang lamanya.


Sehingga barang-barang lamanya itu dia berikan ke teman-temannya, atau tidak dia langsung memberikan mobil itu kepada orang tuanya.


"Sa? Mau main taruhan lagi gak?" tanya salah satu temannya.


Taksa langsung mematikan ponselnya dan memasukan ponsel tersebut ke dalam saku celana, dan mengambil tempat bersebelahan dengan pemuda tersebut.


"Taruhannya apa?"


"Karena semua murid di sini sudah tau kalau kau selalu gonta-ganti cewek jadi taruhannya sekarang adalah menjadikan Adiva kekasih mu selama seminggu? Bagaimana mau tidak?" tawarnya.


Karena dia tau pasti Taksa akan menerima taruhan tersebut, sebab Taksa selalu bersemangat jika mereka bermain dengan permainan taruhan ini.


"Cuman itu doang?" tanya Taksa terlihat sombong.


"Kalau mau juga putuskan Adiva dengan cara menyakitkan," jawabnya dengan tatapan mengejek.


"Kalau aku bisa melakukannya bagaimana?" tanya Taksa terdengar menantang.


"Ku serahkan blackcard limited edition padamu... Tapi jika kau gagal maka barang-barang game mu menjadi milikku,"


Oke deal!


Keduanya saling menjabat tangan masing-masing, di mana teman Taksa terlihat puas jika Taksa langsung menerima taruhan mereka dengan mudah.


Tentu saja dia senang, karena pemuda itu gampang terpancing dengan hal-hal barang-barang seperti itu.


Tidak terlalu buruk! Karena aku suka dengan permainan yang menantang, batin Taksa tersenyum-senyum di balik tatapan tajam itu.


Sementara di dalam kelas, sekarang jam istirahat kedua. Kebetulan Amber tak dapat melaksanakan salat seperti biasanya, karena tadi pagi dia langsung halangan.


"Amber? Ku dengar-dengar kau dan Adiva dulu bukan temanan, ya? Kok sekarang kalian berdua bisa dekat seperti sahabat?" tanya Oliver membuat menghentikan acara belajar Amber.


Benar juga, ya? Kok kami berdua bisa dekat? batin Amber juga merasa bingung dengan dirinya dan Adiva.


Dulu Amber emang sangat membenci Adiva, karena gadis itu selalu membesarkan masalah kecil mereka dengan tak bersalah.


"Kayaknya kalian berdua juga bingung," ujar Oliver terkekeh melihat wajah Amber seperti bingung dan terkejut.


Dari raut wajah Amber sudah terbaca dengan mudah, kalau dia juga bingung. Bagaimana bisa mereka berdua bisa sedekat ini? Bahkan dulu saja mereka tidak pernah akur sama sekali, selalu saja saling bertemu mereka akan menyindir satu sama lain.

__ADS_1


...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...


Suara bel sudah berbunyi, Adiva menarik tasnya dan menggendongnya ke punggung paling belakang.


"Oliv? Aku pulang dulu, ya?" pamit Adiva lalu mendapatkan anggukan dari Oliver.


Setelah selesai berpamitan dengan Oliver dan Amber, Adiva pun langsung melangkah keluar kelas.


"Kamu mau cepat-cepat naik bus, ya?" tanya Amber yang langsung terburu-buru keluar kelas.


"Iya. Biasanya bus sekolah bakalan cepat sampai jika sudah jam pulangan," jawab Amber dengan anggukan.


Oliver akui, dia tidak pernah bertemu dengan sosok orang tua Amber. Setiap hari gadis itu selalu berangkat sekolah menggunakan bus sekolah, apakah orang tuanya sesibuk itu?


Bahkan Oliver secara tidak sengaja telah melihat pekerjaan orang tua Amber di raport barunya, tertulis kalau orang tua Amber bekerja sebagai pengurus perusahaan yang lumayan besar di Indonesia.


Oliver menatap punggung Amber yang sudah keluar dari kelas, dia pun juga melangkahkan kakinya keluar kelas. Masih tersisa beberapa siswa-siswi saja di koridor sekolah, karena mereka masih belum ada yang pulang ke rumah.


"Hanya orang tua Amber saja aku belum pernah bertemu sama sekali," gumam Oliver.


Dia masih penasaran dengan orang tua Amber, walaupun dia tau kalau keluarga Amber adalah pemegang saham perusahaan salah satu di Indonesia tapi dia sama sekali tak pernah bertemu dengan sosok tersebut.


Saat berada di luar mata Oliver tak sengaja melihat Dylan sedang menaiki motornya dengan baik, dengan langkah cepat Oliver berlari menuju Dylan.


"Dylan?"


Pemuda yang di panggil Dylan itu sontak langsung menoleh, di mana Oliver sedang berlari menuju dirinya. Dylan menunggu Oliver sampai di depan, karena dia penasaran apakah ada sesuatu yang ingin gadis itu bicarakan.


Sebenarnya dia ingin cepat-cepat pulang ke rumah, karena sebenarnya lagi hujan akan turun.


"Iya. Emangnya kenapa?"


"Aku boleh numpang gak? Aku mau cepat-cepat pulang," jawab Oliver dengan perasaan khawatir.


Lalu Dylan mengangkat kepalanya untuk melihat langit-langit sore, ternyata hari sudah mendung mungkin sebentar lagi hujan akan turun.


"Baiklah!" jawab Dylan.


Dylan melemparkan helmnya ke Oliver, Oliver tentu saja dengan cepat menangkap helm tersebut dan segera menaiki motor milik Dylan.


"Pegangan yang kuat! Karena aku bakalan ngebut," ujar Dylan.


Oliver di belakang punggung Dylan sudah tersenyum manis mendengar ucapan Dylan, dia sontak meletakan tangannya ke pinggang Dylan.


"Bukan di situ! Kamu bisa pegangan di bahu ku saja," jawab Dylan karena merasa geli saat Oliver menyentuh pinggangnya.


Oliver langsung melunturkan senyumannya menjadi masam, dan membawa kedua tangannya berpegangan pada bahu kanan dan kiri Dylan.


Dengan hitungan detik, Dylan pun membawa motornya keluar dari pekarangan sekolah.


...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...

__ADS_1


Bram...


Adiva menutup pintu mobilnya dengan kasar, sehingga orang tuanya langsung terkejut melihat Adiva masuk ke rumah dengan perasaan badmood.


Orang tuanya tentu saja tau kalau Adiva sedang ada masalah, tapi orang tuanya juga tidak tau apa penyebab gadis itu langsung murung seperti ini.


"Kenapa bisa Amber dan Oliver melarang ku untuk dekat dengan Taksa? Bukan, 'kah Taksa adalah pria yang baik?" gumam Adiva saat dirinya sudah di depan pintu kamar.


Setelah itu Adiva melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar, dan menguncinya dari dalam.


Sebelum pulang sekolah tadi, Adiva sempat di larang oleh kedua gadis tersebut untuk menolak ajakan Taksa. Dia merasa bingung dengan Amber, bukan, 'kah mereka berdua adalah anak baru berapa bulan yang lalu.


Bagaimana bisa gadis itu menyimpulkan kalau laki-laki bernama Taksa itu bukan laki-laki baik?


Bahkan Amber tidak pernah akur sama sekali dengan pemuda tersebut, jika saja bertemu mungkin mereka berdua akan beradu mulut dan saling melemparkan tatapan tajam satu sama lain.


"Kasian Taksa kalau mereka berdua selalu menuduh laki-laki itu," ujar Adiva merasa kasian dengan Taksa.


Pasti pemuda itu sakit hati saat mendengar Amber dan Oliver mengatai pemuda tersebut bukan laki-laki yang baik, mungkin Adiva kira Amber hanya menuduh laki-laki itu bukan laki-laki baik karena sikap dan perilaku yang benar-benar seperti anak nakal.


Setelah meletakan tas sekolahnya ke atas meja belajar, dia pun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar mandi, Adiva sempat meraih handuk yang ada di dekat lemari pakaian dan barulah dia melangkah masuk ke kamar mandi tersebut.


Beberapa menit kemudian...


Adiva membuka pintu kamar mandi, dan melangkah keluar dengan rambut yang sedikit basah.


"Hari Senin sudah Ulangan Tengah Semester jadi hari besok dan minggu aku harus benar-benar giat biar bisa mengalahkan Amber," gumamnya.


Adiva langsung menuju meja belajar, dan mengeluarkan semua buku-buku pelajaran nya dan menarik bangku meja belajar.


Sementara di tempatnya Oliver, gadis itu sedang duduk di ruang tengah dengan buku-buku pelajaran yang menumpuk di meja dekat sofa tersebut.


"Sayang? Apa kamu sudah memiliki kekasih?" tanya sang Ibu pada Oliver.


"Belum, Mah! Tapi kalau seseorang yang aku sukai sih ada," jawab Oliver dengan malu-malu.


"Siapa?" tanyanya sekali lagi.


"Teman sekelas, Mah! Cuman kayaknya dia gak suka sama aku," jawab Oliver lesu.


"Kok kamu mikirnya gitu sih? Mungkin dia gak tau kalau kamu suka sama dia," ujar sang Ibu menenangkan sang anak.


Iya lah. Toh dia lagi suka sama seseorang, batin Oliver.


Pemuda yang di sukai oleh Olivier itu adalah teman dekatnya waktu SMP dahulu, mereka selalu bersama dan semasa SMA ini keduanya jarang sekali pulang bersama kecuali kalau Oliver pulang sendirian menggunakan kendaraan umum.


"Tapi Mamah kayaknya mau ngenalin kamu sama seseorang! Dia orangnya baik, tampan dan juga seumuran dengan mu," ujar sang Ibu membuat Oliver menghentikan kegiatannya.


"Jangan jodoh-jodohin aku, ya?!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2