Calon Malaikat Kecil

Calon Malaikat Kecil
18. Amber yang sabar


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Seminggu kemudian...


Kalian tau apa yang paling melegakan? 


Tentu saja saat Ulangan Tengah Semester akhirnya selesai juga, hampir dua Minggu satu sekolah mengadakan Ulang Tengah Semester.


Walau masih Tengah Semester, tapi tetap saja mereka belum di perbolehkan melihat nilai mereka sebelum Ulangan Semester satu. Agar mereka giat belajar lagi nantinya, bahkan siswa-siswi tidak mempermasalahkan nya karena mereka takut melihat nilai-nilai yang ada yang buruk.


"Amber? Kamu mau belajar bareng lagi?" tanya Rehan menatap Amber yang ingin ke kantin sekolah.


"Gak dulu deh! Soalnya aku mau makan siang," jawab Amber sendu.


Rehan menganggukkan kepalanya paham dengan jawaban Amber, dia tidak mungkin memaksa Amber untuk belajar bersama terus karena ada waktunya mereka lelah karena belajar.


Sekarang Amber dan Adiva sudah duduk di meja makan, keduanya hampir bingung dengan sikap Oliver akhir-akhir ini. Karena setelah Adiva tidak masuk karena ulah Taksa, sekarang gadis bernama Oliver itu seolah-olah menjauhi mereka berdua.


"Div? Kamu sadar gak sih sama sikap Oliv akhir-akhir ini?" tanya Amber menatap Adiva yang duduk di hadapannya.


Sementara Adiva tak menjawab melainkan dirinya hanya menggelengkan kepalanya pelan, dia juga merasa begitu kalau si Oliver menjauhi keduanya. Adiva juga bingung, apakah alasan gadis itu menjauhi mereka berdua?


Seketika Adiva diam dan menatap kakinya dengan tatapan sendu, mungkin saja Taksa memberitahu Oliver kalau dirinya pernah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya mereka lakukan. Entah lah akhir-akhir ini juga Adiva selalu mudah berpikir negatif tentang orang lain, bahkan dia juga mudah sekali menangis di pojokan kamar.


"Apa mungkin Taksa kasih tau kalau aku sama dia melakukan itu, ya?"


Amber menoleh ke arah Adiva, karena Adiva tiba-tiba saja mengeluarkan cairan bening dari kelopak matanya. Amber lantas terkejut dan berusaha untuk menenangkan Adiva yang akan menangis, banyak sekali pasang mata yang menatap keduanya dengan tatapan berbeda dari bingung hingga sinis.


"Div? Kamu kenapa? Kok tiba-tiba nangis?" tanya Amber sedikit meringis.


Dia sadar kalau banyak sekali pasang mata yang menatap mereka berdua, bahkan banyak juga yang mengira kalau Amber lah yang membuat gadis itu menangis sesenggukan.


Lalu Ibu-ibu kantin datang sambil membawakan pesanan keduanya, detik itu juga Adiva langsung berhenti menangis dan menarik mangkoknya dengan tatapan berbinar. Amber lagi-lagi meringis melihat cara makan Adiva yang sepertinya kelaparan, Amber tersenyum canggung menatap siswa-siswi yang ada di kantin.


Sungguh Amber benar-benar malu dengan Adiva yang kelaparan seperti ini, Amber menepuk keningnya pusing dengan tingkah Adiva.


"Mau menghilang aja rasanya!"


...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...


Saat jam pelajaran Adiva tiba-tiba saja mengajak Amber ke Ruang Kesehatan, karena Adiva terus-terusan mengeluh sakit pada perutnya itu. Amber akhirnya mengantar Adiva ke Ruangan Kesehatan, tapi saat di pertengahan jalan Adiva langsung menahan lengan Amber tiba-tiba.


Amber menoleh dan menatap Adiva dengan tatapan khawatir, terlihat jelas di wajah Adiva kalau gadis itu sedang memohon padanya.


"Amber? Ayo kita makan seblak?"

__ADS_1


Amber menatap Adiva dengan tatapan tak percaya, bukannya gimana tapi Amber tidak di perbolehkan untuk makan pedas seperti seblak itu.


"Aku cuman nemanin kamu aja, ya?" tanya Amber dengan hati-hati.


"Gak mau! Pokoknya kamu harus ikut makan sama aku," jawab Adiva sambil mengeluarkan air matanya.


Amber ingin menyerah dengan tingkah Adiva ini, bagaimana bisa sikapnya langsung berubah manja dan menyebalkan seperti ini.


"Sekarang?" tanya Amber lagi.


"Enggak lah! Aneh aja! Habis pulang sekolah lah!" Jawab Adiva sedikit ngegas.


Amber terkejut dengan jawaban Adiva, lalu mengelus dadanya dengan sabar. Amber ingin sekali mendorong Adiva ke jurang dan membiarkan gadis itu sendirian di sana, ayo lah Amber lama-lama bisa gak tahan dengan tingkahnya itu.


"Ayo? Katanya mau ke Ruang Kesehatan," ajak Amber langsung menarik tangan Adiva.


"Gak! Tiba-tiba aja perutku sudah enakan," jawab Adiva dengan santai.


Mau mati aja rasanya, batin Amber berusaha untuk tabah dengan tingkah Adiva.


Berapa jam kemudian akhirnya bel pulang berbunyi, membuat Adiva lantas menarik tangan Amber dengan cepat lalu melangkahkan kaki mereka keluar dari kelas.


"Div? Pelan-pelan!" tegur Amber karena pergelangan tangannya terasa sakit sebab ulah Adiva.


Adiva senang melihat seblak yang di buat oleh penjual tersebut, beda lagi dengan Amber yang menatap kedai tersebut dengan tatapan sedih. Amber tidak bisa membayangkan bagaimana pedasnya seblak yang akan di pesan oleh Adiva nanti, jujur saja dia benar-benar tidak di perbolehkan makan pedas tersebut takutnya maag nya akan kambuh.


"Amber? Ayo duduk? Aku sudah pesan seblak nya loh," sahut Adiva menarik tangan Amber untuk duduk di sebelahnya.


"Emangnya... Level berapa yang kamu pesan?" tanya Amber hati-hati.


"Level lima dong!" jawab Adiva sambil tersenyum manis.


Amber sudah mengeluarkan air matanya saat mendengar jawaban Adiva yang kelewatan polos itu, Adiva lantas bingung melihat Amber menangis kecil.


"Kamu kenapa nangis?" tanya Adiva menatap Amber bingung.


"Aku sedih karena kamu pengertian mau mesan makanan buat aku," jawab Amber berbohong.


Dia tidak mungkin menjawab kalau dia menangis karena mendengar pesanan Adiva, apa lagi Adiva gampang sekali berubah-ubah sikap dan mood.


...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°...


Malam ini Adiva mendudukkan dirinya di kursi meja makan dengan gelisah, entah kenapa dia tiba-tiba saja gelisah dengan cara duduknya. Tanpa pikir panjang lagi Adiva menaiki kaki kirinya ke kursi, lalu barulah dia bisa makan dengan tenang mengundang tatapan aneh dari kedua orang tuanya.


"Diva? Makan yang benar? Gak sopan kamu duduk kayak gitu," tegur sang Ayah menatap Adiva dengan tatapan aneh.

__ADS_1


"Gak tau, Yah! Tiba-tiba aja aku mau makan dengan kaki kayak gini," jawab Adiva bingung.


Akhirnya orang tua Adiva tak peduli dengan cara makan Adiva, mereka lantas menyantap makanan mereka dengan tenang.


"Diva? Seminggu nanti Ayah sama Ibu bakalan kerja keluar kota untuk mengurus klien baru kita," ujar sang Ibu mendapatkan anggukan dari sang suami.


"Oke! Tapi boleh, 'kah kalau Diva ajak Amber buat nginap di sini?" tanya Adiva menatap keduanya secara bergantian.


"Boleh! Asalkan orang tuanya tau kalau Amber nginap di sini," jawab sang Ayah mengangguk setuju.


"Gak mungkin juga orang tuanya peduli dengan Amber! Buktinya aja Amber kayak di buang," sahut Adiva.


"Div? Gak boleh ngomong gitu!" Tegur sang Ibu menatap Adiva dengan tatapan tajam.


"Benar kok! Mereka terlalu gila dengan pekerjaan lalu fokus dengan anak bungsunya," jawab Adiva tak peduli dengan tatapan tajam orang tuanya.


"Serah kamu aja!"


Tengah malam Adiva terbangun dari tidurnya, lalu mengusap matanya pelan lalu menatap jam yang ada di atas nakas. Sekarang masih pukul dua malam, dan tiba-tiba saja perut Adiva merasa lapar.


"Amber? Bangun!"


Adiva menoleh ke arah kanan di mana Amber sedang tertidur dengan nyenyak, sebelum orang tuanya pergi ke bandara mereka sudah menjemput Amber terlebih dahulu untuk menemani Adiva di rumah. Amber menggeliat tak nyaman saat telapak tangan Adiva sengaja di letakan di wajah cantik Amber, lalu membuka kedua matanya perlahan.


"Apaan sih?!" tanya Amber kesal.


"Aku mau makan!"


Amber melirik ke arah layar ponselnya, lalu meraih benda pipih tersebut.


"Astaga! Div sekarang masih pukul dua malam," pekik Amber memejamkan matanya pusing.


"Iya tau! Tapikan aku lapar," jawab Adiva menatap Amber dengan memohon.


Amber menghela napas berat lalu menatap mata Adiva yang masih memohon itu, lalu beranjak dari ranjang dan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar. Mereka berdua benar-benar keluar kamar menuju dapur, ini kemauan Adiva yang ingin makan di tengah malam.


"Kita masak mie instan aja, ya?"


Amber lagi-lagi menghela napas berat lalu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, jujur saja dari tadi Amber berusaha untuk menahan diri agar tidak marah dengan Adiva. Amber benar-benar bingung dengan tingkah Adiva akhir-akhir ini, yang mudah berubah sikap dan lain-lain.


Malam itu keduanya memasak mie instan sesuai dengan keinginan Adiva, malam itu juga Amber lebih banyak diam dari pada berbicara untuk menanggapi ucapan Adiva.


Ingat. Amber berusaha untuk tidak marah dengan gadis itu, dia juga tidak ingin kalau Adiva akan menangis karena ulahnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2