
...~Happy Reading~...
Malam itu Deon harus menemani Amber menuju minimarket, Amber di sampingnya tentu saja merasa aman karena pemuda di sebelahnya ini adalah pemuda yang dia kenal.
"Amber? Kalau gak salah kamu Islam, 'kan?" tanya Deon tiba-tiba.
Amber langsung menoleh ke kiri, dan menatap wajah Deon yang sedang menatapnya dengan tatapan serius. Bagaimana pemuda itu tau kalau dia menganut Agama Islam?
"Iya, Kak!" jawab Amber bingung. "Emangnya kenapa?" tanya Amber dengan hati-hati.
"Kakak cuman ngasih saran aja, ya! Lebih baik kamu menutup aurat kamu agar laki-laki lain tidak melakukan hal macam-macam pada mu," jelas Deon. "Kamu tau, 'kan apa yang Kakak maksud?" tanya Deon sembari tersenyum.
"Maksud Kakak... Aku harus mengenakan hijab? Agar menutupi aurat?" tanya Amber sedikit deg-degan.
Entah kenapa Amber merasa senang jika ada seseorang yang peduli dengannya, walaupun itu orang yang tidak memiliki hubungan dengannya.
"Iya. Tentu saja," jawab Deon dengan anggukan. "Kakak gak maksa kamu buat mengenakan hijab tapi... Lebih baiknya kamu mengenakan itu agar terhindar dari perbuatan seperti mereka," tambah Deon.
"Kenapa Allah memerintahkan umatnya untuk mengenakan jilbab? Sesuai kandungan surat Al Ahzab ayat 59, Allah SWT memerintahkan kaum wanita untuk menutup aurat dengan jilbab untuk melindungi hambaNya. Tujuannya adalah menjaga kehormatan dan keselamatan diri para wanita saat beraktivitas." jelas Deon.
Tanpa Deon sadari gadis di sampingnya malah tersipu malu mendengar penjelasan Deon sendiri, sebenarnya dia gampang terbawa perasaan jika seseorang itu membawa-bawa Agama seperti itu.
Setelah sampai di minimarket akhirnya mereka masuk, Amber segera meraih keranjang berwarna biru tapi keduluan dengan Deon yang menghalang dirinya untuk membawa keranjang.
"Biar Kakak aja yang bawa!" ujar Deon mendorong pelan tubuh Amber menuju rak-rak makanan.
Amber berjalan paling depan sementara Deon masih setia berada di belakang gadis tersebut, berkali-kali Deon harus menyodorkan keranjang pada Amber saat gadis itu sudah mendapatkan belanjaannya. Deon mengerutkan keningnya bingung, menatap Amber yang meraih delapan bungkus mie instan.
Mie instan merupakan makanan yang tidak sehat, lalu Deon menahan tangan Amber saat Amber ingin mengambil beberapa bungkus lagi.
"Jangan memakan mie instan seperti ini! Kamu tau, 'kan kalau Mie instan itu makanan yang tidak sehat?"
Amber hanya menganggukkan kepalanya pelan, karena dia tau kalau Mie instan itu adalah makanan yang tidak sehat tapi... Amber tetap memaksa dirinya untuk makan mie instan hampir setiap hari.
"Kakak mirip seperti seorang Dokter, ya?" kekeh Amber sambil menggoda Deon.
"Ayah Kakak seorang Dokter jadi Kakak juga harus mengikuti jejak Ayah Kakak," jawab Deon membuat Amber bertepuk tangan dengan heboh.
"Hebat, Kak! Kapan-kapan Kakak kenalin Ayah ke Amber, ya?"
Deon mengangguk dan mengelus puncak kepala Amber dengan lembut, dia tidak menyangka kalau Amber ingin sekali bertemu dengan Ayahnya. Setelah selesai berbelanja di minimarket, akhirnya mereka pun memutuskan untuk membayar semua belanjaan Amber.
"Aduh! Maaf, Kak! Kayaknya aku lupa bawa dompet," lirih Amber menatap belanjaannya dengan tatapan sendu.
Deon tersenyum kecil lalu mengeluarkan kartu berwarna hitam pada kasir minimarket tersebut, membuat Amber langsung menatap kartu itu dengan tatapan bingung.
"Kenapa Kakak yang bayar?" tanya Amber sendu.
__ADS_1
"Biarkan saja! Kakak hanya membantu mu," jawab Deon dengan nada santai.
...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
Sementara Adiva duduk di sofa dengan perasaan gelisah, barusan saja dia menghubungi orang tuanya untuk pulang ke rumah secepatnya. Dia ingin memberitahu masalahnya pada mereka berdua, tapi entah kenapa perasaan nya merasa tidak nyaman saat Amber keluar dari rumah.
"Apakah Amber akan baik-baik saja? Ini sudah sejam keluar dari rumah," gumam Adiva.
Berapa menit kemudian akhirnya Amber masuk sambil membawa dua plastik berisi belanjaan, Adiva lantas beranjak dari sofa lalu melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Amber? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Adiva dengan nada khawatir.
"Aku baik-baik saja!" jawab Amber berbohong tapi matanya berkata sebaliknya.
Adiva menaiki sebelah alisnya seolah-olah dia tak percaya dengan jawaban Amber, yang benar saja gadis itu berbohong kalau dia baik-baik saja sementara matanya berkata sebaliknya.
"Yang benar?"
Amber menghela napas lalu menatap Adiva dengan tatapan malas, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dapur sambil mengeluarkan semua belanjaannya.
"Diva? Aku mau nanya,"
"Aku cocok gak sih pakai jilbab?" tanya Amber sedikit ragu.
"Cocok dong!" jawab Adiva singkat.
"Oh iya! Besok pagi Ibu sama Ayah bakalan pulang jadi besok kamu tetap nginap di sini, ya?" ujar Adiva.
Amber mengangguk sebagai jawaban, dia tau alasan Adiva menelpon orang tuanya agar datang ke Jakarta dengan cepat adalah masalah yang di alami oleh gadis itu. Setelah itu mereka menjalani kegiatan masing-masing, seperti Amber yang akan memasak makan malam untuk mereka berdua.
Adiva yang sudah selesai dengan membersihkan rumahnya, dia langsung membantu Amber untuk memasak di dapur bersama. Dia hanya membantu Amber dengan cara membersihkan barang-barang yang kotor, lalu menyodorkan barang yang sudah dia cuci ke gadis tersebut.
"Diva! Kamu mau pakai telur?" tanya Amber pada Adiva.
"Iya. Telurnya dua ya!" jawab Adiva dengan santai.
"Iya."
...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
Malam hari sekitar pukul sepuluh, seseorang telah menekan bel rumah membuat Amber langsung terganggu. Dengan perasaan malas dia beranjak dari ranjang, lalu membawa kedua kakinya menuju pintu kamar. Menelusuri pantai atas rumah dengan langkah pelan, ingatkan Amber bahwa dia baru saja bangun tidur dan tidak dapat bergegas menuju anak tangga.
Setelah sampai di pintu utama gadis itu langsung mengintip seseorang dari balik jendela, ternyata mereka adalah sepasang suami istri si pemilik rumah ini. Mereka adalah orang tua Adiva, yang kebetulan langsung bergegas pulang ke rumah saat mendengar kabar dari anak perempuan nya jika gadis itu akan memberikan kabar.
Amber langsung membuka pintu untuk mereka berdua, tidak mungkin dia memberikan orang tua Adiva menunggu di luar selama semalam.
"Assalamualaikum!"
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam!" jawab Amber lalu bersalaman dengan sepasang suami istri itu.
"Amber? Kok cuman kamu yang bangun? Diva mana?" tanya sang Ibu menatap sekitar untuk mencari keberadaan Adiva.
"Diva masih tidur, Tan!" jawab Amber canggung.
"Astaga!"
Lalu keduanya langsung melangkah masuk ke dalam, mereka tentu saja duduk di sofa terlebih dahulu setelah berjam-jam menuju kota Jakarta.
"Tante? Paman? Mau saya buatkan kopi dan teh?" tawar Amber dengan sopan.
"Boleh!" jawab keduanya kompak.
Dengan cepat Amber menuju dapur untuk membuatkan sepasang suami istri itu minuman, setelah selesai membuatkan minuman untuk mereka barulah Amber melangkah keluar sambil membawa nampan hitam berisi dua gelas minuman.
"Ini minuman kalian,"
Amber meletakan nampan berisi dua gelas minuman itu ke atas meja ruang tengah, berapa detik kemudian Adiva langsung turun saat melihat kedua orang tuanya sudah pulang ke rumah.
"Ibu! Ayah!"
Teriakan Adiva membuat ketiganya langsung menoleh ke arah anak tangga, di mana Adiva sedang berlari menuju ruang tengah.
"Jangan lari! Nanti kamu jatuh," tegur sang Ayah membuat Adiva langsung teringat kalau dia sedang membawa satu nyawa di dalam perutnya.
Setelah ingat dengan isi perutnya, Adiva langsung cengengesan lalu menormalkan langkahnya ke arah mereka bertiga. Setelah sampai di ruang tengah gadis itu langsung duduk di antara keduanya, menyenderkan kepalanya pada bahu sang Ayah.
"Ayah! Kalian lama sekali mengurus perusahaan nya," ujar Adiva terdengar manja.
Sementara Amber yang berada di dekat mereka langsung menghela napas berat lalu melangkahkan kakinya menjauh dari ruang tengah, cairan bening telah lolos melewati kedua pipinya.
"Kenapa rasanya sakit sekali?" gumam Amber lalu menggenggam erat dadanya yang terasa sakit.
"Kamu mau ngomong apa?" tanya sang Ibu mengerutkan keningnya bingung.
Tubuh Adiva langsung menegang saat mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut sang Ibu, dia tidak menyangka kalau orang tuanya akan pulang dengan cepat hari ini.
"Janji sama Diva! Kalau kalian tidak akan marah dengan Diva," cicit Adiva.
Keduanya saling melempar tatapan satu sama lain saat mendengar suara Adiva yang khawatir, mereka berdua semakin penasaran jika gadis itu berkata seperti itu.
"Tergantung apa yang kamu ceritakan," jawab sang Ayah menghela napas panjang.
Adiva langsung mengurungkan niatnya untuk bercerita dengan kedua orang tuanya, dia semakin nyakin kalau mereka berdua akan marah besar dengannya.
Bagaimana kalau mereka akan marah pada Adiva? Adiva belum siap jika mereka akan mengusirnya dari rumah.
__ADS_1
Bersambung...