
...~Happy Reading~...
Pagi sekali Adiva sudah berangkat sekolah di antara oleh sang Ayah, siang nanti kedua orang tuanya akan datang untuk bertemu dengan Kepala Sekolah mengenai masalah Adiva. Adiva duduk di bangkunya lalu menatap Amber yang baru saja datang, wajah gadis itu terlihat pucat dan tak bersemangat.
Hari ini ada pelajaran olahraga, jika dia meminta izin untuk istirahat mungkin saja guru tersebut tak memberikannya waktu istirahat karena lelah. Nanti mereka akan mengambil nilai praktek Basket, pasti Amber akan banyak lelah setelah itu.
Ada sesuatu yang berubah dengan penampilan Amber, yaitu dia menggunakan hijab ke sekolah. Bahkan seragam sekolahnya lebih tertutup dari pada biasanya, entah kenapa Amber terlihat manis dan cantik di waktu bersamaan.
"Amber? Kamu baik-baik saja?" tanya Adiva sebelum bertanya tentang berubah penampilan.
"Alhamdulillah baik." jawab Amber dengan nada sopan.
"Penampilan kamu berubah, ya? Sekarang sudah pakai hijab," sahut Adiva memancing Amber agar bercerita.
"Haha... Iya! Soalnya seseorang ngasih saran agar aku menggunakan hijab agar terhindar dari hal buruk," jawab Amber sambil tersenyum manis.
"Emangnya seseorang itu siapa sih?" tanya Adiva penasaran.
Amber diam lalu memejamkan matanya, harus kah dia menjawab kalau seseorang yang sudah membuat hatinya deg degan itu adalah Kak Deon?
"Kak Deon," cicit Amber.
Adiva yang tak mendengar nama yang di sebut oleh Amber itu pun langsung menarik kursinya agar dekat dengan Amber, dia benar-benar penasaran dengan nama yang di sebut oleh Amber tadi.
"Siapa tadi?" tanya Adiva mendekatkan dirinya ke Amber.
"Kak Deon!" jawab Amber kesal.
Adiva mengerutkan keningnya bingung, dia tak pernah sama sekali mendengar Amber menyebut nama pemuda bernama Deon itu. Karena Amber hanya dekat dengan Rehan, pemuda yang rela membantu dirinya untuk belajar bersama setiap hari.
Berapa lama kemudian bel masukan telah berbunyi membuat siswa-siswi yang masih berada di luar kelas langsung masuk ke kelas dengan tergesa-gesa, hanya dalam hitungan menit akhirnya guru yang mengajar hari ini masuk sambil membawa buku tulis anak-anak.
"Baiklah! Anak-anak sebelum memulai pelajaran hari ini lebih baik kita berdoa terlebih dahulu!"
Rehan sang ketua kelas langsung memimpin teman-temannya untuk berdoa sebelum belajar di mulai, setelah selesai berdoa akhirnya sang guru menatap wajah anak-anaknya satu persatu. Kedua sudut bibirnya langsung tertarik saat melihat Amber mengenakan hijab ke sekolah, bahkan pakaiannya terlihat sopan karena tertutup oleh seragam sekolah.
"Amber? Sekarang kamu mengenakan hijab?" tanya wanita itu sambil tersenyum manis ke arah Amber.
Amber lantas membalas senyuman tersebut dengan senyuman manis, setidaknya ada seseorang yang menyadari penampilan nya selain Adiva.
__ADS_1
"Iya, Bu!" jawab Amber dengan anggukan.
"Pertahankan! Karena Ibu senang melihat kamu menutup aurat seperti itu,"
Tanpa mereka sadari Dylan menatap Amber dengan tatapan dalam, dia baru sadar atas berubah penampilan gadis itu. Dylan akui kalau penampilan Amber sekarang jauh lebih cantik dan menawan, tapi entah kenapa sebuah perbedaan yang tercetak jelas membuat dirinya sakit hati.
"Abaikan! Karena masih ada seseorang yang menyukai mu," ujar Gilang sambil melirik seseorang.
"Tidak mungkin! Karena aku memiliki banyak kekurangan," sahut Dylan sambil terkekeh canggung.
"Mungkin kau berpikir seperti itu! Pasti ada seseorang yang bisa menggantikan posisi Amber di hati mu," ujar Abian menepuk pundak kanan Dylan.
Abian baru mengetahui kalau temannya di Dylan memiliki perasaan dengan Amber, tapi Abian lebih mendukung Rehan dan Amber karena keduanya sama-sama menganut Agama Islam. Rehan mungkin mengambil tindakan cepat tapi dia sadar kalau Amber belum ada perasaan sama sekali dengannya, dengan perasaan sabar akhirnya Rehan memutuskan untuk menunggu gadis itu memiliki perasaan padanya juga.
...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
Bel istirahat berbunyi begitu nyaring memenuhi sudut sekolah, Amber mengajak Adiva untuk ke kantin bersama. Kedua orang tua Adiva juga sudah bersiap-siap datang ke sekolah, untuk membahas masalah Adiva dan calon bayi yang sedang dia kandung.
"Amber? Seandainya Taksa tak mau bertanggung jawab bagaimana?" tanya Adiva saat keduanya sudah duduk.
"Ku usahakan agar dia bisa bertanggung jawab," jawab Amber cepat.
Sekalian menggunakan paksaan, batin Amber melirik ke sembarangan arah.
Sementara Amber hanya tersenyum manis lalu menatap meja dengan tatapan tersipu malu, dia berubah demi kebaikan yang sudah mendapatkan saran dari Kak Deon tadi malam.
"Malam tadi aku ketemu sama Kak Deon karena di depan gang aku hampir di lecehkan oleh anak-anak komplek kalian," jelas Amber membuat kedua mata Adiva membulat sempet.
Dia baru ingat kalau anak-anak komplek selalu berkumpul tengah malam di depan gang, seharusnya Adiva ingat dan menemani gadis itu sampai tujuan.
"Karena aku gak tau arah minimarket... Jadi aku memutuskan untuk bertanya pada mereka. Tapi mereka malah menunjukkan jalan buntu," lanjut Amber dengan menatap Adiva tanpa kebohongan di dalamnya. "Untung aja Kak Deon datang terus membantu ku untuk mengusir mereka. Setelah itu Kak Deon memberikan saran pada ku untuk menutup aurat agar terhindar dari hal buruk seperti itu," tambahnya.
"Kamu yang di perlakukan Kak Deon seperti itu tapi... Malah aku yang baper," ujar Adiva membuat Amber langsung ketawa mendengar jawaban Adiva.
Keduanya terlarut dalam tawa bahagia, di mana Adiva terus-terusan menggoda Amber karena di perlakukan baik oleh pemuda bernama Deon itu.
Ting...
Sebuah suara membuat tawa mereka langsung terhenti, Adiva lantas mengeluarkan ponselnya dari saku seragam lalu menatap nama yang ada di layar ponsel. Dia tiba-tiba saja merasa tidak nyaman melihat nama sang Ayah tertera jelas di layar ponsel, dengan perasaan khawatir akhirnya dia memutuskan untuk mengangkat telpon dari sang Ayah.
__ADS_1
"Halo Ayah?"
"Div? Ayah dan Ibu sudah di ruang Kepala Sekolah jadi... Kamu bisa ke sini untuk menyelesaikan masalah,"
"Baiklah, Yah!" jawab Adiva.
Lalu sambungan telpon di antara keduanya pun terputus, dengan cepat Adiva beranjak dari tempat duduknya lalu melangkahkan kakinya untuk membayar semua makanannya.
"Tunggu! Biar aku saja yang bayar!" teriak Amber membuat Adiva langsung berhenti menyodorkan uang kertas berwarna biru.
Amber berlari kecil ke arah mereka, lalu mengeluarkan uang kertas berwarna merah muda pada Bibi Kantin. Adiva menatap uang tersebut dengan tatapan tak percaya, kenapa gadis itu yang membayar semua makanannya?
"Kenapa?" tanya Adiva masih terdiam.
"Aku belum pernah mentraktir mu jadi sekarang waktunya untuk mentraktir mu walaupun kau tidak menginginkan nya," jawab Amber sopan.
Setelah itu dia pun mendapatkan uang kembalian dan menarik tangan Adiva untuk keluar dari kantin, dia tau kalau kedua orang tua Adiva sudah di ruang Kepala Sekolah untuk membahas masalah sang anak. Karena tak ingin mereka menunggu lama makanya tadi Adiva langsung cepat-cepat membayar semua makanannya, tapi dengan baik hatinya Amber membayar semua makanan tersebut.
Setelah sampai di depan ruang Kepala Sekolah Amber langsung menahan tangan Adiva untuk sementara, dia sebenarnya tidak terima jika gadis itu akan di keluarkan dari sekolah tapi... Mengingat ada satu nyawa di dalam perutnya.
Semua pihak sekolah sudah melarang semua anggota sekolah untuk mengeluarkan murid-murid yang sudah berani hamil dan menghamili anak orang, ini sudah di setujui oleh semua murid.
"Yang kuat! Dan aku juga akan berusaha untuk meminta Taksa bertanggung jawab," ujar Amber.
Adiva langsung membawa tubuhnya untuk ke dalam pelukan Amber, dia tidak menyangka Amber akan sebaik ini padanya. Amber juga menawarkan diri untuk membantunya agar meminta Taksa bertanggung jawab, entah kenapa bagaimana caranya dia berterima kasih pada gadis itu.
"Makasih!"
...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
Amber membuka pintu Rooftop dengan kasar, lalu menatap Taksa dengan tatapan tajam.
"Sialan! Pokoknya kau harus bertanggung jawab dengan perbuatan mu!" ujar Amber membuat Abian dan Taksa langsung menoleh ke arahnya. "Brengsek! Kamu gak kasian dengan Diva yang sudah mengandung anak mu itu?!" tanya Amber memukul tembok sekolah dengan kasar.
"Buat apa aku kasian dengannya?" tanya Taksa santai lalu melipatkan kedua tangannya di depan dada.
"Masa depan Diva sudah hancur karena perbuatan mu! Maka kamu harus bertanggung jawab. Jika tidak... Aku tidak akan segan-segan menghabiskan mu sekarang juga,"
Amber membawa kedua kakinya menuju Taksa, lalu menarik kerah seragam sekolah Taksa sehingga dirinya harus berjinjit menjajarkan tinggi badannya dengan Taksa.
__ADS_1
"Satu lagi! Aku akan membongkar semua keburukan mu pada kedua orang tua mu kalau kau sudah menghamili banyak perempuan dalam waktu dekat," ujar Amber mengeluarkan senyuman iblis. "Maka... Bertanggung jawab lah!"
Bersambung...