Calon Malaikat Kecil

Calon Malaikat Kecil
26. Paksaan


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Abian, dan Gilang menatap Amber yang terus-terusan memukul wajah Taksa dengan kasar, mereka berdua tau kalau Amber marah besar dengan pemuda tersebut. Mungkin ini kesempatan gadis itu untuk melampiaskan kemarahannya, apa lagi hampir seminggu dia tidak marah Taksa gara-gara Adiva tak ingin Ayah dari anaknya itu babak belur.


"Perempuan kok kasar?" pancing Taksa membuat Amber langsung melayangkan sebuah pukulan di pipi kiri pemuda tersebut.


"Yang penting bukan pengecut kayak kamu!" jawab Amber setelah melayangkan sebuah pukulan di pipi kiri Taksa.


Saat Taksa ingin membalas pukulan ke Amber, tiba-tiba saja Abian langsung menarik Amber untuk menjauh. Taksa terlalu berani untuk memukul perempuan, makanya Gilang langsung menahan tangan Taksa agar tak memukul perempuan seperti Amber.


"Kamu mau pukul Amber? Dia perempuan," ujar Gilang masih menahan tangan Taksa dengan kasar.


"Dia duluan yang memukul wajah ku! Tentu saja aku membalas pukulannya," jawab Taksa tak terima.


"Kamu pantas mendapatkan nya! Siapa suruh menghamili banyak perempuan demi menuntaskan hasrat mu?" tanya Gilang menurunkan tangan mereka berdua.


Sekarang Abian berusaha untuk menenangkan Amber yang sedang memberontak, walaupun wajahnya cantik tapi tetap saja dia harus melampiaskan kemarahannya pada pemuda bernama Taksa itu.


"Bian! Awas! Aku harus memukul wajahnya," ujar Amber mendorong wajah Abian dengan kasar.


"Eh? Ingat kamu sudah mengenakan hijab jadi jaga lah sikap dan martabat kamu pada orang lain," sahut Abian dengan nada khawatir.


Lalu Amber menghentikan pemberontakan nya, dia baru sadar kalau sekarang dia sudah mengenakan hijab dan dia harus menjaga sikap dan perilakunya pada orang lain. Amber juga menarik tangannya dari genggaman Abian, mereka berdua bukan mahram.


"Awas aja kalau kau tetap tak ingin bertanggung jawab! Maka aku akan membongkar semua rahasia mu pada orang tua mu!"


Setelah Amber pergi dari Rooftop sekolah, Taksa langsung memukul tembok sekolah dengan kasar. Abian dan Gilang yang berada kejauhan malah terdiam sambil menatap Taksa yang melampiaskan marahnya pada tembok sekolah, mereka berdua tau kalau ini kesalahan Taksa sendiri makanya itu mereka berdua membiarkan Taksa menyadari kesalahannya lalu bertanggung jawab pada Adiva yang sudah mengandung anaknya.


"Sialan! Bagaimana bisa ini terjadi?!"


"Bagaimana bisa Amber mengetahui orang tua ku? Apa mungkin perusahaan orang tuanya bekerjasama dengan perusahaan kami?"


Setelah bertanya-tanya dengan dirinya sendiri, akhirnya dia memutuskan untuk melangkah pergi meninggalkan Rooftop. Dia tak menyangka Amber akan memukuli wajahnya itu, mana dia perempuan lagi.


...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...


Adiva dan keluarganya sudah duduk di sofa dengan napas yang belum teratur, barusan saja mereka bertiga berharapan dengan Kepala Sekolahnya langsung kalau Adiva akan dari di sekolahan. Sang Ibu mengelus perut sang anak dengan lembut, akhirnya dia bahagia pemuda bernama Taksa itu mau bertanggung jawab.


"Bu...? Bagaimana dengan Amber, ya? Diva dengar tadi Amber memukul wajah Taksa untuk bertanggung jawab," ujar Adiva menoleh ke kanan.


"Entah! Berdoa saja agar dia baik-baik saja," jawab sang Ibu sambil mengedikan bahunya tak tau. "Tadi pagi sekitar pukul tujuh Tantenya datang kemari untuk mengambil pakaian Amber," lanjutnya.


"Untuk apa, Bu?" tanya Adiva terkejut.

__ADS_1


"Tantenya bilang Amber harus pulang ke rumah karena orang tuanya sudah ada di sana,"


Sang Ayah menatap keduanya dengan tatapan sendu, dia tak menyangka jika Amber sebaik itu pada mereka.


"Diva? Kamu beruntung sekali memiliki teman seperti Amber! Walaupun dia tau kalau kamu sedang mengandung tapi tetap saja dia mau berteman bahkan rela memukul Taksa agar mau bertanggung jawab," ujar sang Ayah. "Kapan-kapan ajak Amber ke sini untuk mengucapkan terima kasih padanya,"


"Iya, Ayah!" jawab Amber dengan anggukan.


"Maafkan Diva! Diva tau kalian berdua kecewa dengan kejadian ini,"


Adiva langsung berlutut di hadapan kedua orang tuanya, air matanya terus-terusan mengalir tanpa henti.


"Maafin Diva! Kalau Diva membuat kalian malu dengan guru-guru!" Adiva memeluk kaki kedua orang tuanya.


Karena tak tega melihat sang anak berlutut di hadapan mereka, akhirnya sang Ibu menarik Adiva untuk duduk di sofa. Kejadian ini sudah terjadi, jadi Adiva harus menerima semua rintangan dengan lapang dada.


"Gak papa! Setidaknya Ibu senang karena kamu mau merawat anak ini saat kami berdua belum tau,"  jawab sang Ibu mendapatkan anggukan setuju dari sang Ayah.


"Ibu..."


Ayah menahan tubuh Adiva karena gadis itu ingin memukul tubuh sang Istri, sekarang Adiva menatap dirinya dengan tatapan tajam.


"Ingat! Kamu sedang mengandung jadi tak bisa lagi berpelukan dengan Ibu," goda Ayah.


"Ibu...? Lihat Ayah!"


"Hehe... Janda doang Beb!" Devian cengengesan menatap sang Istri dan anaknya.


Lalu sang Istri membawa Adiva untuk beranjak dari sofa, sebelum melangkahkan kaki mereka menuju tangga. Wanita itu menyempatkan diri untuk melemparkan bantal sofa pada wajah sang suami, Devian lantas terkejut karena sebuah bantal sofa mendarat di wajah tampannya.


"Makan tuh Janda!"


...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...


Tuan Dirgantara menempelkan ponselnya pada telinga kanan, dia sedang mendengar cerita dari Pak Harto di guru. Pak Harto sedang menceritakan penampilan Amber padanya, awalnya dia bingung kenapa gadis itu mengubah penampilan nya tapi saat Pak Harto menceritakan kalau Amber sempat memukul wajah Taksa menggunakan tangan kanannya membuat marahnya memuncak.


"Lalu? Anak saya bagaimana?" tanyanya dengan nada dingin.


Setelah selesai berbicara dengan Pak Harto melalui telpon, dia pun memutuskan sambungan telpon secara sepihak. Tuan Dirgantara beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkahkan kedua kakinya keluar dari ruang kerja.


Menatap sekitar rumah yang nampak hening, lalu membawa kedua kakinya menuju pintu kamar Amber. Dia sempat mendengar suara teriakan kesakitan dari dalam kamar tersebut, lalu mendengar suara tangis yang sangat menderita.


"Ku mohon! Jangan menyiksa ku seperti ini! Berikan aku kesempatan untuk hidup dan memperbaiki diri,"

__ADS_1


"Walaupun mereka tak ingin aku hadir dalam hidup mereka! Tapi tetap saja aku harus bertahan demi mereka,"


Deg...


Jantung Tuan Dirgantara berdenyut dengan kencang, dia tau yang di maksud oleh Amber. Dia meremas dadanya yang terasa sakit itu, dia tak menyangka kalau Amber juga memiliki riwayat yang penyakit.


"Amber? Ayo keluar?" ajak Tuan Dirgantara dengan lembut.


Tuan Dirgantara diam saat mendengar tak ada sahutan dari arah dalam, lalu dia mengetuk pintu kamar sebanyak tiga kali.


"Siapa kamu?" teriak Amber.


"Ini Papah! Sekarang ayo keluar?" jawab Tuan Dirgantara khawatir.


"Gak mungkin Papah! Papah gak pernah peduli sama Amber! Jadi Bibi tak perlu membohongi ku," jawaban Amber membuat jantung Tuan Dirgantara berdenyut dua kali lipat.


Pria paruh baya itu menatap pintu kamar sang anak dengan tatapan tak percaya, sejauh mana dia membuat anaknya menderita?


Kenapa kedua anaknya memiliki penyakit secara bersamaan? Lalu bagaimana cara dia agar kedua anaknya kembali sehat seperti semula.


Tanpa pikir panjang Tuan Dirgantara langsung mendobrak pintu kamar sang anak, membuat pintu itu langsung terbuka lebar. Matanya membulat sempurna melihat penampilan sang anak yang terlihat pucat, lalu pakaiannya berantakan.


"Amber?"


Pria itu membawa kedua kakinya menuju Amber, lalu menepuk pipi sang anak berulang kali untuk sadar dari pingsan tersebut. Air mata Tuan Dirgantara tiba-tiba mengalir deras saat Amber tak kunjung bangun dari pingsan, setelah itu Tuan Dirgantara menggendong Amber dan membawa gadis itu keluar dari kamar.


Dia harus membawa Amber ke Rumah Sakit secepatnya, agar Amber bisa tertolong.


Berapa menit kemudian Tuan Dirgantara sudah sampai di Rumah Sakit, tempat di mana sang Istri bekerja. Dia menurunkan Amber di atas ranjang Rumah Sakit, lalu ikut saat para perawat membawa sang anak untuk masuk ke dalam ruangan.


"Bapak di sini saja! Karena Dokter ingin memeriksa pasien,"


Terpaksa Tuan Dirgantara harus menunggu di luar dengan keadaan panik dan khawatir, lalu dia meraih ponselnya dari saku celana segera mungkin dia menghubungi sang Istri.


"Mah? Cepat ke UGD!"


"Amber sedang di tangani oleh Dokter Ridwan," jawab Tuan Dirgantara menatap pintu itu dengan khawatir.


Setelah selesai berbicara dengan sang Istri, akhirnya dia memutuskan untuk memutuskan sambungan telpon. Matanya masih menatap pintu ruangan tersebut dengan perasaan khawatir, dia tidak ingin anak pertamanya meninggalkan mereka bertiga begitu saja.


"Amber! Bertahan lah untuk Papah dan Mamah!"


Tuan Dirgantara menjatuhkan tubuhnya di bangku tunggu, lalu menundukkan kepalanya saat baru sadar kalau selama ini Amber hanya seorang diri.

__ADS_1


Apakah mereka terlalu keterlaluan? Sehingga Amber menderita seperti ini.


Bersambung...


__ADS_2