Calon Malaikat Kecil

Calon Malaikat Kecil
7. Aksi Taksa


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Keesokan harinya...


Pagi yang cerah Adiva merentangkan kedua tangannya ke udara, karena baru saja bangun dari tidur. Setelah terdiam di atas kasur selama dua menit, akhirnya Adiva beranjak dari kasur dan membawa kedua kakinya menuju kamar mandi.


Malam tadi adalah malam yang panjang karena dia harus mempelajari semua soal-soal yang sudah di berikan oleh sang guru, karena itu lah Adiva harus telat bangun pagi.


Untung saja hari ini adalah hari Sabtu, yang merupakan hari libur bagi anak Sekolah Menengah Atas seperti Adiva dan yang lainnya. Adiva langsung masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan dirinya karena tidur yang sangat melelahkan.


Berapa menit kemudian...


Adiva keluar dari kamar mandi dengan keadaan rambut yang sudah basah, sementara handuk berwarna merah muda masih bertengger di atas kepala Adiva agar bisa mengeringkan rambut tersebut.


"Sekarang sudah jam berapa?" tanya Adiva melirik jam yang ada di atas dinding.


Jarum jam itu sudah menunjukkan angka tujuh, di mana sekarang dia telat bangun sekitar satu jam lebih.


Lalu suara dering ponsel berbunyi, membuat Adiva langsung melangkahkan kakinya menuju nakas dekat dengan ranjangnya tersebut.


"Taksa? Ngapain dia nelpon di pagi-pagi seperti ini?" gumam Adiva merasa bingung saat melihat nama yang tertera di layar ponsel miliknya.


Setelah itu dia pun meraih ponsel tersebut dan menekan icon berwarna hijau, sehingga Adiva membawa ponselnya untuk dekat dengan daun telinga kanannya.


"Halo?"


"Pagi, Diva!"


"Iya. Pagi," jawab Adiva singkat.


Jujur saja Adiva bingung harus merespon apa lagi, karena dia juga bingung dengan Taksa yang pagi-pagi sudah menelponnya.


"Div? Siang nanti kamu gak sibuk, 'kan?" tanya Taksa setelah berdehem kecil untuk memulai pembicaraan.


Adiva hanya diam karena dia juga sedang memikirkan, apakah dia akan sibuk nanti atau tidak.


"Kayaknya enggak, deh!" jawab Adiva setelah cukup lama diam.


"Bisa gak nanti ketemuan di taman kota? Ada yang ingin ku bicara dengan mu," ujar Taksa menyeringai.


Pokoknya dia harus menyelesaikan taruhannya ini, karena dia akan merasa puas jika dia sudah mendapatkan barang-barang yang dia inginkan. Apa lagi dia sedang bermain taruhan, jadi barang-barang temannya itu akan menjadi miliknya selama-lamanya.


Barang-barang saja Taksa mudah bosan, bagaimana dengan pasangan hidupnya nanti? Jujur saja Taksa sudah termasuk salah satu laki-laki yang mudah bosan dengan pasangannya sendiri.


"Baiklah! Sekitar pukul berapa ketemuan?" tanya Adiva begitu yakin ada sesuatu yang sangat penting di bicarakan oleh Taksa nanti.


"Jam sepuluh bisa?" tanya Taksa terlihat tak sabaran.

__ADS_1


"Mungkin bisa! Ku usahakan," jawab Adiva membuat Taksa menghela napas lega.


...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...


...D...


i sini lah Adiva sekarang, sesuai janjinya dan Taksa dia sudah duduk di bangku taman kota sendirian. Sudah hampir lima menit dirinya menunggu kedatangan Taksa, tapi sayangnya pemuda tersebut tidak datang dari tadi.


"Taksa kemana, ya? Kok lama banget?" tanya Adiva menatap kedua kakinya dengan tatapan sendu.


Sementara di lain tempat, Taksa menatap seorang gadis dari kejauhan. Dia sekarang sudah duduk di dalam mobil dengan tatapan serius, seseorang yang sedang dia awasi adalah Adiva.


Tapi sayangnya pemuda tersebut tidak ada niatan untuk menghampiri gadis tersebut, hanya diam sembari menatap gerak-gerik Adiva yang terlihat sedikit bosan menunggu.


"Kau yakin untuk menghampiri nya sekarang?" tanya Nanda melirik Taksa sekilas.


"Lupakan dia! Sebaiknya kita ke suatu tempat dulu baru menghampirinya," jawab Taksa tak berperasaan.


"Kau gila?! Kasian Adiva kalau dia menunggu mu terlalu lama," ujar Nanda menatap Taksa dengan tatapan tajam.


"Aku tidak peduli! Karena dia bukan siapa-siapa ku," sahut Taksa. "Oh iya. Kalau kamu mau menghampirinya, jangan lupa beritahu dia kalau aku ada urusan sedikit jadi jangan lupa ke rumah terlebih dahulu,"


Nanda keluar dari mobil Taksa dengan perasaan kesal, bagaimana pemuda tersebut dengan teganya membiarkan Adiva menunggu sendirian di taman kota. Taksa tak peduli dengan Nanda yang menutup pintu mobilnya dengan kasar, karena dia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.


"Seandainya Adiva tau kalau Taksa sengaja membiarkan dirinya menunggu lama mungkin dia akan kecewa dengan laki-laki tersebut," gumam Nanda.


Lalu matanya menatap Adiva yang sedang memejamkan kedua matanya sebentar, lalu matanya terbuka perlahan karena seperti ada seseorang yang berjalan mendekat. Adiva kira seseorang yang berjalan dekat dengannya itu adalah Taksa, tapi sangat di sayangkan bukan Taksa melainkan orang lain.


"Apa aku boleh duduk di samping mu?" tanya Nanda setelah berdehem kecil.


Adiva lantas menganggukkan kepalanya, walaupun mereka berdua tak pernah dekat tapi mereka saling mengenal karena mereka merupakan teman sekelas.


"Lebih baik kamu belajar di rumah! Apa lagi hari Senin kita sudah melaksanakan Ulangan Tengah Semester," ujar Nanda memulai pembicaraan.


Adiva hanya diam tapi matanya sibuk menatap Nanda, sebenarnya dia ingin belajar di rumah untuk mempersiapkan dirinya. Tapi karena dia sudah berjanji untuk bertemu dengan Taksa di taman, dia rela menunda belajarnya demi mendengar tujuan Taksa mengajaknya ketemuan.


"Kamu tau... Taksa di mana?" tanya Adiva.


Apa aku harus memberitahu dirinya kalau Taksa sedang bertemu dengan kekasihnya? batin Nanda memalingkan wajahnya ke arah lain.


Nanda takut kalau Taksa akan melakukan sesuatu yang berbahaya jika Nanda memberitahu semuanya pada Adiva, karena laki-laki tersebut orangnya melakukan sesuatu tanpa di pikir-pikir terlebih dahulu.


"Katanya dia ada urusan," jawab Nanda.


"Yahh... Kalau gitu. Kenapa gak ngabarin kalau dia sedang ada urusan?" tanya Adiva terlihat kecewa.


Sialan, seharusnya kau malu karena gadis sebaik Adiva kau permainkan, batin Nanda menatap Adiva kasian.

__ADS_1


Bagaimana reaksi gadis itu kalau tau Taksa sedang menghampiri kekasihnya terlebih dahulu, pasti Adiva akan menunggu lama di taman kota ini.


Adiva mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, lalu menatap layar ponselnya dengan tatapan sendu.


"Seharusnya dia mengabari kalau dia sedang ada urusan jadi aku tidak terlalu bodoh menunggunya terlalu lama di sini," gumam Adiva.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu? Seperti nya kamu terlihat lapar," kekeh Nanda.


Adiva langsung menutup wajahnya karena malu, dia emang sedikit lapar karena tadi pagi dia tidak sempat memasak sarapan di rumah.


"Iya. Tapi sekalian temani aku belanja bulanan, ya?"


Nanda menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Adiva, karena dia juga akan membeli beberapa makanan untuk stok di kamarnya nanti.


Nanda menarik tangan Adiva untuk beranjak dari bangku taman kota, di pertengahan jalan Nanda mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi supir di rumah.


...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...


Nanda dan Adiva sudah memasuki sebuah supermarket, Adiva akan belanja keperluan rumah seperti bahan makanan lalu bumbu-bumbu untuk masakan.


Sementara Nanda setia mendorong troli untuk Adiva, karena dia sudah berjanji untuk menemani gadis tersebut. Nanda sedikit senang dan tenang karena dia bisa menepati janjinya pada Adiva, walaupun dia tidak ada niatan untuk membuat janji dengan gadis tersebut.


"Aku boleh minta tolong gak?" tanya Adiva membuat Nanda menghentikan langkahnya.


"Kamu bisa carikan aku bumbu ini?" tanya Adiva segera mengirimkan sebuah foto berisi bumbu masakan pada nomor ponsel Nanda.


Nanda tentu langsung mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, lalu menatap foto tersebut dengan tatapan biasa-biasa saja.


"Aku tau bumbu ini! Soalnya aku pernah bantu Bibi buat belanja sayuran," jawab Nanda membuat Adiva lantas tersenyum manis.


"Kamu tinggal sama Bibi, ya?" tanya Adiva langsung meraih bahan makanan di rak tersebut.


"Tidak!"


"Terus kok bisa belanja bareng sama Bibi yang kamu maksud?" tanya Adiva bingung.


Tangannya sudah penuh dengan bahan masakannya, dan memasukan bahan-bahan tersebut ke dalam troli.


"Bibi emang kerja di rumah jadi juru masak karena aku tidak ada kerjaan jadi aku menemaninya belanja setiap sebulan sekali," jelas Nanda.


Adiva hanya mampu menghela napas panjang, sepertinya dia melupakan sesuatu jika Nanda tinggal bersama dengan orang tuanya. Terlebih lagi keluarga Nanda adalah orang-orang yang terpandang, jangan lupa semua sudut rumahnya sangat mewah.


"Aku mau cari bumbu ini dulu, ya?" pamit Nanda karena Adiva dari tadi hanya diam sembari mengatur napasnya.


Nanda kira gadis itu diam karena tak suka kalau Nanda membicarakan keluarga mereka yang kaya itu, Nanda biasanya akan mudah berpikiran negatif jika teman-temannya selalu bercanda masalah kekayaan Keluarganya.


"Apakah aku berlebihan?" gumam Nanda.

__ADS_1


Sebenarnya Nanda sedikit tidak ada kebebasan saat dirinya menjadi anak orang kaya, karena kebanyakan teman-temannya suka menghabiskan uangnya tanpa ampun.


Bersambung...


__ADS_2