
...~Happy Reading~...
Adiva memasuki pekarangan sekolah sambil merangkul pundak Amber dengan perasaan senang, membuat Amber yang risih mendapatkan rangkulan dari gadis itu langsung melepaskan rangkulannya.
"Bisa, 'kah kamu merangkul ku dengan biasa saja?" tanya Amber kesal.
"Tidak! Karena hari ini aku sedang bahagia," jawab Adiva dengan gelengan kepala.
"Sialan! Pasti gara-gara kamu sudah resmi menjadi kekasihnya Taksa, 'kan?" tanya Amber melirik gadis itu dengan tajam.
"Tentu saja! Kata siswi-siswi di sekolah bilang kalau Taksa itu populer di sekolahan," ujar Adiva bangga.
"Terus...? Kamu bangga gitu bisa pacaran sama pria brengsek kayak dia?" tanya Amber melipat kedua tangannya di depan dada.
Sekarang Adiva dengan senyuman yang masih mengembang di kedua sudut bibirnya, dia tidak peduli dengan pertanyaan dari Amber karena dia benar-benar bahagia sekarang.
"Semoga kau tidak menyesal nantinya!"
Amber melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Adiva sendirian di koridor sekolah ini, Adiva tak peduli dan membawa kedua kakinya dengan perasaan senang.
"Amber?"
Amber menoleh ke kanan dan ke kiri saat ada seseorang yang memanggil dirinya, lalu matanya tak sengaja melihat Dylan sedang melambaikan tangannya ke arah Amber.
"Ada apa, ya?" gumam Amber.
Lalu Amber melangkahkan kakinya mendekat ke arah Dylan, lalu saat tiba di hadapan pemuda tersebut dia langsung to the points karena penasaran.
"Ada apa?" tanya Amber langsung.
"Sudah sebulan kamu sekolah di sini... Terus entah kenapa perasaan aku tiba-tiba muncul saat kamu datang," ujar Dylan membuat Amber mengerutkan keningnya bingung.
Jujur Amber tidak suka kalau ada seseorang yang sengaja berlama-lama berbicara seperti ini.
"Terus...?" tanya Amber menaiki sebelah alisnya.
"Aku suka sama kamu! Jadi mau, 'kan jadi pacar aku?" tanya Dylan lalu bertekuk lutut di hadapan Amber.
Amber diam sibuk dengan pikirannya, walaupun keduanya sudah berteman tapi keduanya jarang sekali berkomunikasi satu sama lain. Mana pemuda itu mendadak nembak dia, dan lebih utamanya lagi ada seseorang yang menyukai laki-laki tersebut.
"Aku gak bisa! Soalnya aku sekolah untuk belajar bukan untuk mencari pasangan!" jawab Amber dengan gelengan kecil. "Apa lagi kita jarang sekali berkomunikasi jadi aku belum sepenuhnya tau sifat asli mu bagaimana," tambah Amber.
Dylan menundukkan kepalanya karena Amber sudah menolak cintanya, benar apa yang di ucapkan gadis itu karena Amber baru saja masuk ke sekolah ini sebulan yang lalu dan sekarang Dylan melontarkan pernyataan cinta pada gadis tersebut.
__ADS_1
"Oh iya! Satu lagi..."
"Ingat kita itu beda Agama! Walaupun kamu memiliki perasaan pada ku tapi Tuhan mu cemburu karena anaknya mencintai seseorang yang beda Agama," ujar Amber. "Aku hanya takut suatu hari nanti kamu akan meninggalkan Agama mu demi aku dan itu mungkin membuat Keluarga mu kecewa dengan keputusan mu," tambah Amber.
Dylan pun beranjak dari lantai lalu menatap manik mata Amber yang sedang berbicara dengan serius, gadis itu tidak akan menerima siapa pun masuk ke dalam kehidupannya kecuali suaminya kelak. Lalu hal yang paling penting Amber tidak mungkin meninggalkan Agamanya demi laki-laki, dia sudah berjanji akan tetap tinggal dengan Agama nya itu.
"Kita temanan aja, ya?"
Deg...
Dylan tidak sengaja menjatuhkan liontin yang seharusnya milik Amber itu ke lantai koridor sekolah, Amber menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena merasa bersalah sudah menolak pernyataan cinta dari Dylan.
"Terima kasih sudah mencintai ku! Aku kagum karena kau berani sekali menyatakan perasaan mu pada ku," ujar Amber tersenyum canggung.
"Tidak apa-apa!"
...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
Suara bel istirahat sudah berbunyi dari berapa menit yang lalu, membuat seluruh siswa-siswi langsung berhamburan keluar kelas menuju kantin sekolah.
"Diva? Pulang sekolah nanti kamu mau gak ke kosan ku dulu?" tanya Taksa saat Amber dan Oliver keluar kelas.
Adiva menoleh ke arah pemuda tersebut, di mana pemuda itu menatapnya dengan tatapan berharap. Berharap gadis itu akan menerima ajakannya ke kosannya, setelah seminggu mereka menjalin hubungan maka Taksa langsung memutuskan gadis itu secara sepihak.
"Sebentar aja! Cuman nemani aku di kosan aku aja kok," sahut Taksa berusaha agar Adiva mau ke kosannya.
"Tetap aja! Ibu sama Ayah bakalan kecewa kalau aku ke kosan cowok terus... Kalau terjadi apa-apa gimana?"
Taksa memutuskan untuk melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Adiva di dalam kelas, sungguh dia kesal dengan Adiva yang selalu membawa orang tuanya dalam perbincangan seperti ini. Apa lagi Adiva menolak ajakannya untuk menemaninya ke kosan, sebenarnya Taksa ingin berjalani aksinya seperti biasa untuk menjadikan Adiva korban selanjutnya.
"Sialan! Sok polos sekali dia," ujar Taksa menendang udara dengan kesal.
Taksa tak sengaja berpapasan dengan Oliver, karena gadis itu akan menyusul Adiva yang masih di dalam kelas. Sehingga menyisakan Amber yang bersender pada tembok sekolah, Amber menatap laki-laki tersebut dengan tatapan tajam.
"Apa lihat-lihat?!" tanya Amber sinis.
"Dih? Percaya diri banget kalau aku lihat kamu," sahut Taksa memutar bola matanya malas.
"Sialan! Awas aja!" ujar Amber ingin melayangkan tinju pada pemuda tersebut.
Taksa mendengus kesal lalu membawa kedua kakinya meninggalkan Amber sendirian di koridor tersebut, berapa lama kemudian Adiva dan Oliver datang secara beriringan.
"Haha... Walaupun dia berhasil menjadikan Adiva kekasih tapi tetap saja... Dia tidak mungkin merusak masa depan Adiva," ujar Amber tertawa sinis. "Tapi kalau Adiva bisa menjaga dirinya sendiri," lanjut Amber lalu diam menatap punggung Taksa yang mulai menjauh.
__ADS_1
Adiva dan Amber pun akhirnya berhenti tepat di hadapan Amber, sehingga ketiganya melanjutkan perjalanan mereka menuju kantin.
"Teman-teman! Tadi Taksa ngajak aku buat ke kosan dia tapi aku tolak soalnya takut Ibu sama Ayah khawatir kalau aku ke kosan cowok," ujar Adiva membuat langkah temannya seketika berhenti.
"Dia ngajak kamu ke kosan dia?" tanya Amber dengan kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
Sementara Adiva hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, benar kalau tadi Taksa sempat mengajaknya ke kosan. Tapi Adiva tidak tau, apa tujuan pemuda itu mengajak dirinya ke kosan laki-laki tersebut.
"Sialan! Kalau sampai dia melangkah lebih jauh lagi... Ku pastikan dia tidak hidup dengan tenang," Oliver langsung menenangkan Amber yang nampaknya akan mengeluarkan kemarahannya.
Amber berdiri tepat di hadapan Oliver karena gadis itu sedang mengepal kedua tangannya di sisi tubuh, lalu menatap kantin dengan tatapan tajam. Dia tau di kantin itu pasti ada Taksa karena mana mungkin pemuda itu berlari ke perpustakaan untuk belajar, Amber rela berlari keliling lapangan sekolah kalau sampai Taksa benar-benar ke perpustakaan untuk belajar saat jam istirahat berbunyi.
Di depan kantin ketiganya secara tak sengaja berpapasan dengan teman-teman Dylan, Abian dan Gilang tentu saja mengejek Dylan karena mereka bertemu langsung dengan Amber.
"Dylan? Siapa itu?" tanya Gilang dengan nada mengejek.
"Berhenti! Aku tidak menyukai Amber lagi," jawab Dylan menatap Gilang dengan tatapan sinis.
Bukannya dia benar-benar tidak menyukai Amber lagi, melainkan dirinya sekarang berusaha untuk melupakan perasaannya pada Amber. Apa lagi kata-kata Amber waktu di pagi hari membuat hatinya terasa sakit, benar apa yang di ucapkan oleh gadis itu karena mereka berdua memiliki keyakinan yang berbeda.
Tembok yang teramat besar dan kokoh itu tentu saja keduanya tak dapat merobohkannya, tembok itu juga sudah menjadikan penghalang dalam kisah cinta mereka berdua.
Hanya Dylan yang merasakan cinta pada Amber, sementara Amber sama sekali belum memiliki perasaan pada orang lain karena dia benar-benar belajar untuk sekolahnya.
"Baru sadar kalau kalian berdua beda Agama?" kekeh Gilang. "Ingat bro! Dia di jaga oleh Tuhan nya makanya itu dia menjaga hatinya untuk masa depannya nanti," tambah Gilang.
Amber tak merespon dan melangkahkan kakinya meninggalkan mereka bertiga, Abian sempat melambaikan tangan nya ke udara saat Amber dan yang lain masuk ke kantin untuk makan siang.
"Kenapa tuhan mempertemukan kami berdua lalu di pisahkan dengan cara menyakitkan?" tanya Dylan nampak seperti sadboy.
"Kami? Bukan nya kamu sendiri yang merasakan perasaan padanya?" tanya Gilang sekali lagi.
Plak...
Abian memukul lengan Gilang saat melihat wajah Dylan merasa sedih dengan pertanyaan dari Gilang, sepertinya laki-laki itu tidak mengerti dengan suasana sekarang.
"Diam! Berhenti berbicara!" tegur Abian pada Gilang.
Gilang yang merasa tidak mengerti dengan teguran Abian pun mengerutkan keningnya bingung, lalu ingin melontarkan beberapa pertanyaan tapi Abian lebih dulu menutup mulut Gilang menggunakan telapak tangan kanannya.
"Kata ku diam! Jangan banyak bicara!"
Bersambung...
__ADS_1