
Aku dan Hans sudah sampai di rumah Hans. Aku bergegas masuk dan berganti pakaian. Hans masih saja dingin dan cuek.
"Hans,aku pergi keluar sebentar ya?" Aku bertanya kepada Hans tetapi dia malah memalingkan wajahnya.
"Hih ya sudah" aku pergi ke kamar dan mengambil tasku yang berisi pakaian. Aku berjalan kearah pintu keluar dan berkata.
"Jika kau tidak menganggap ku ada disini, yasudah aku pergi saja" sambil membawa tas aku akan membuka pintu. Tiba tiba Hans berdiri dari tempat duduk nya.
"Berhenti!!" Hans berteriak benar benar menakutkan. Tapi karena egoku begitu kuat,aku tidak mendengarkan dia. Tiba tiba Hans mendorongku hingga ke tembok dan mencium ku.
~Cup~
Seketika tasku terjatuh. Aku mendorong dengan sekuat tenaga agar dapat terlepas dari ciumannya.
"Apa yang kau lakukan?" Aku berteriak dengan nada gemetar.
"Kembalikan barang barangmu ke kamar,kau tidak akan kemana mana atau aku akan melakukan hal yang lebih dari ini" wah tatapan Hans seperti tatapan pembunuh.
"Baik baik,tapi aku ingi pergi keluar sebentar...kau harus memperbolehkan ku atau aku keluar dari sini" aku mengancamnya.
"Yaya pergilah" hans menjauh dariku.
"Sungguh? Jangan marah oke" aku berkata sambil mendekat ke arah Hans.
"Pergilah,atau aku akan berubah pikiran. Cepat bawa kembali pakaianmu dan pergi jika ingin pergi" Hans berjalan ke sofa depan TV.
"Ah oke" aku berjalan ke kamar untuk mengembalikan tas berisi pakaian dan pergi ke taman seperti yang sudah dijanjikan oleh senior Jonas.
Aku sampai di taman dan menoleh kesana kemari. Aku tidak melihat ada senior Jonas disini. Aku menunggu 30 menit disana. Mungkin dia tidak akan datang. Tiba tiba dari belakang ada yang menutup mataku.
"Siapa" aku mencoba melepaskan tangan orang itu dari mataku.
"Tebak siapa" Suara pria yang benar benar falimiliar ditelinga ku.
"Oh senior Jonas" aku membalikan badan untuk melihat dia.
"Eh bukan?" Seperti nya aku salah. Pria itu berambut hitam dan memakai kacamata. Dia bukan senior Jonas tapi sepertinya aku mengenalnya.
"Yap tepat sekali,aku Jonas" dia tersenyum. Benarkah dia senior Jonas?
"Ah bukan...kau???" Aku berpikir Sepertinya pernah melihat nya. Oh iya benar dia kan adalah seniorku di SMP waktu itu namanya...
"Rivanno? Benarkan kau Rivanno" kata ku sambil menjentikkan jari.
"Ah iya kau masih mengingat ku" Rivanno tersenyum. Dia dari dulu sampai sekarang masih lembut. Benar benar tidak berubah.
"Ya,lalu kenapa kau bilang kalau kau Jonas?" Aku bertanya karena suaranya sama persis dengan senior Jonas.
"Ya karena aku Jonas dan juga Rivanno" dia berkata sambil memegang pundaknya. What? Apa maksudnya.
"Apa?" Aku heran
"Ya kau tau aku kutu buku,tapi semenjak aku masuk SMK... semua orang menganggap diriku membosankan,aku tidak memiliki teman yang bisa mengerti perasaan ku seperti dirimu....dan sejak saat itu aku mengubah warna rambutku dan menggunakan lensa kontak" dia berkata dengan ekspresi kesepian.
__ADS_1
"Lalu kenapa namamu Jonas?" Apakah dia juga mengubah namanya.
"Karena nama asliku adalah Jonas" dia berkata sambil merasa bersalah.
"Lalu nama Rivanno itu?" Apakah selama ini aku salah memanggil namanya. Tapi di sekolah dulu,semua orang memanggilnya Rivanno.
"Oh itu nama yang di populerkan pak guru,dia menganggap ku mirip seperti senior Rivanno yang sudah lulus. Jadi aku dipanggilin Rivanno dan semua orang mengikutinya" dia tersenyum malu.
"Oh jadi itu kamu...dengarkan aku,kau tidak perlu merubah penampilan" aku berkata serius.
"Apa?" Senior Jonas sepertinya bingung.
"Ku bilang,kau harus percaya diri dengan dirimu sendiri,jangan mendengarkan kata orang tentang dirimu. Jadilah dirimu dan buatlah dirimu di kenal banyak orang sebagai orang yang hebat. Jadi nantinya mereka tidak memiliki alasan untuk mengejek mu. Paham!!!" Aku menjelaskan panjang lebar.
"Ah..oh,paham nyonya" senior Jonas memberikan hormat. Pft...hahaha. Benar benar lucu.
Tiba tiba dari kejauhan ada yang berteriak memanggil namaku sambil menangis.
"Caroline.....hu...hu...hu" astaga ternyata itu Olif. Dia datang dan memelukku.
"Hei...ada apa dengan mu?" Aku bertanya dengan nada panik.
"Tolong aku..." Olif berkata sambil menangis.
"Oke..oke tapi jangan menangis. Katakan apa yang terjadi?" Aku bertanya sambil kebingungan.
"Kevin dia....hu...hu..huhu" Olif berkata sambil menangis lagi. Ya mana ku paham dia berkata apa.
"Iya Kevin kenapa?" Aku bertanya karena aku tidak tau.
"Memangnya kenapa astaga?" Apa yang harus ditangisi. Anak ini benar-benar
"Begini,aku ingin mendekati dia. Dan sudah hampir berhasil tapi ada yang menghalangi. Huwaaaaaaaa....aku sedih..." Olif berkata dan menangis sambil memukul ku. Sakit woii
"Em mungkin aku bisa membantu mu" senior Jonas memberikan bantuan.
"Siapa kau?" Olif bertanya sambil bersembunyi dibalik tubuhku.
"Jonas,teman satu meja dan bestie nya kurasa" oke senior Jonas memperkenalkan diri.
"Oh senior yang populer itu, apakah kau mewarnai rambut mu?" Olif bertanya sambil memegang rambut senior Jonas.
"Em ya begitulah,jadi mau ku bantu untuk mendapatkan hati Kevin?" Senior Jonas benar benar tidak berubah, selalu membantu orang.
"Kenapa kau ingin membantuku?" Olif bertanya dengan sikap waspada.
"Karena kau temannya caroline dan juga karena kau imut" senior Jonas berkata sambil tersenyum.
"Baiklah....aku pulang duluan. Kalian berdua sampai jumpa di sekolah. Jangan lupa senior Jonas. Kau berjanji untuk membantuku. Aku lapar jadi mau pulang. Dada" Olif benar benar bahagia dan meninggalkan kami begitu saja?. Untung dia temanku kalau bukan, habis kau.
"Em kalau begitu aku akan mengantarmu pulang" senior Jonas menawarkan bantuan.
" Ah tidak usah,aku bisa pulang sendiri" aku menolak dengan sopan.
__ADS_1
"Ow baiklah aku pulang dulu,kalau begitu hati hati dijalan. Sampai jumpa linlin" senior Jonas melambaikan tangan.
Aku berjalan pulang sendiri. Sebelum pulang,aku membeli cemilan kesukaan Hans. Ku harap dia tidak marah atau mengamuk.
[WRITER ROOM]
Hans masuk ke ruangan writer dengan wajah lesu
Writer: astaga monyet siapa kau?
Hans: Hans...
Writer: kenapa lesu begitu ha?
Hans: lihat di ruang break, mereka sedang apa
Writer: apa lagi masalah anak ini..siapa?
Hans: linlin dan Jonas berduaan di ruang break
Writer: iya kah? ( Berjalan melihat jendela)
Writer: astaga monyet betul ternyata apa yang anak ini bilang
Writer: woi mana ada aku tulis kalian berdua di ruang break...jaga jarak sekarang ada pirus (berteriak dan menunjuk ke arah caroline dan Jonas)
Mereka malah menghiraukan ucapan writer
Writer: oh tidak mau jaga jarak ya....ku hitung sampai 3 bah...kalau ngga jaga jarak juga ku penggal kepala kalian satu satu ni haa....(menggulung lengan bajunya untuk bersiap menyerang)
Writer: ... Satu....
Caroline dan Jonas menjaga jarak sedikit.
Writer: lagi lebih jauh..satu meter cepat sekarang gak pake lama....ayo buruan
Writer: .... Dua....
Caroline dan Jonas bergeser satu meter.
Writer: nah gitu kan bagus...eh tapi kayaknya kurang bagus pemandangannya.
Writer: nah Jonas pergi ke kamar mandi sekarang, nanti kalau dah ada naskah ku panggil..sana cepet
Jonas: lha kok di kamar mandi?
Writer: kenapa? Gak suka? Kalau begitu suka suka kau lah mau pergi kemana,cepat... sepet mata aku ni liat kau
Jonas: okey...(pergi jauh entah kemana, mungkin ke Kutub Utara)
Writer:nah sudah selesai masalah mu... (berbalik dan melihat Hans)
Hans: Zzzzzzzzz
__ADS_1
Writer: astaga monyet....aku bantuin dia eh dia malah tidur...wah gak bener ni....aku tandain kamu yoo....