Caroline'S Story

Caroline'S Story
Episode 17


__ADS_3

Ujian kenaikan kelas telah selesai. Sudah seminggu sejak ujian selesai. Kami melihat perkembangan Olif dan senior Kevin. Aku penasaran sudah sampai tahap mana?. Aku bertanya kepada dia saat pulang sekolah.


"Hei Olif bagaimana kabarmu?" Aku bertanya sambil berbisik.


" Apa maksudmu? Aku baik baik saja" Olif memasukkan buku kedalam tas.


"Ish bukan itu maksudku, maksudku adalah bagaimana perkembangan mu dengan senior Kevin?" Aku berbisik lagi.


"Aih akan aku beritahu" Olif mendekatkan mulutnya ke telingaku.


"Aku sudah berpacaran dengan senior Kevin" Olif berbisik.


"Apaaaaaa!!!!!" Aku benar benar terkejut.



"Kapan itu terjadi?" Aku sangat penasaran.


"Itu... rahasia. Oke sampai jumpa" Olif pergi meninggalkan ku di kelas.


Hans datang dan memegang pundakku dari belakang. Sembari membawa tas.


"Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?" Hans berkata sambil menghadapkan badanku agar dia bisa melihat wajahku.


"Olif dan senior Kevin... mereka sudah jadian" aku berkata dengan ekspresi kaku.


"Oh sudah jadian" Hans mengangguk saja serta belum sadar.


"Apaaaaaa!!!!" Hans tiba tiba berteriak.


"Ya begitulah...."aku berkata dengan wajah kaku.


"Astaga...kita ketinggalan Yo?" Hans bertanya dengan wajah tidak percaya.


"Yo" aku benar benar membatu.


"Miris Yo?" Hans jangan katakan itu.


"Yo" kaku dan membatu itulah ekspresi ku saat ini.


"Ayo pulang saja...eh" Hans menarikku untuk pulang tapi karena tubuhku membatu. Dia menarikku sekuat tenaga.


"Ayyyyoooo....huh...huh....bergeerakkk...." Hans menarikku agar aku pindah tempat dari tempatku berdiri sekarang sampai wajahnya memerah. Tapi itu tidak berhasil.


"Ah iya, ibumu akan pulang hari ini. Kau tidak mau membereskan barang barangmu?" Hans mencari topik agar aku bisa beranjak dari tempat berdiriku.


"Ah benar juga...ayo" aku tersadar dan berlari sambil menarik tangan Hans.


Sesampainya di rumah Hans. Aku langsung membereskan barang barangku. Aku benar benar sibuk. Dan akhirnya selesai juga. Aku meletakkan barang barangku di depan pintu agar mudah membawanya.

__ADS_1


"Hei, apakah kau senang kembali ke rumah orang tua mu?" Hans berkata sambil duduk di sofa.


"Tentu saja,sudah sebulan aku tidak melihat orang tuaku" aku duduk di samping Hans.


"Lalu aku?" Hans bertanya dengan wajah sedih.


"Apa maksudmu? Kau akan datang ke rumah ku setiap hari setelah pulang sekolah. Bukankah waktu itu kau sudah berjanji?" Aku berkata sambil tersenyum.


"Oh ayolah jangan memasang wajah sedih begitu....kau bisa kerumahku kapan saja saat kau merasa kesepian" aku mencubit pipi Hans.


"Iya iya baiklah, berhenti mencubitku" Hans melepaskan cubitan ku.


"Kau sudah janji kalau aku akan datang kerumahmu kapanpun aku mau" Hans meyakinkan diriku.


"Iya iya aku janji" aku mengusap kepalanya.


~Ting tong~


"Ah sebentar..."aku membuka pintu dan alangkah senangnya aku ketika melihat...


"Ayah? Ibu? Kalian datang menjemput ku?" Aku langsung memeluk ibuku.


"Ah sayang aku merindukanmu" ibu membelaiku.


"Ah nak Hans kemari" ibu memanggil Hans.


"Oh tidak masalah bibi" Hans tersenyum.


"Apakah kalian melakukan sesuatu yang tidak wajar?" Ayah kenapa kau bertanya seperti itu.


"Itu..." Hans ingin menjelaskan tapi di potong oleh ibu.


"Hei apa yang kau tanyakan? Ah maaf Hans karena membuatmu kerepotan dengan mengurus linlin" ibu benar benar percaya kepada Hans.


"Ah baru pertama aku melihat mu,kau sangat tampan... apakah kau sudah memiliki pasangan?" Ibu kenapa kau bertanya seperti itu.


"Emm sudah ibu ayo kita kembali pulang. Aku benar benar merindukan masakan ibu." Aku mendorong ibu agar tidak bertanya itu lagi.


"Ah baiklah tunggu sebentar, oh ya Hans...nanti malam datang ke rumah kami. Kita makan malam bersama" ibu mengundang Hans sambil memegang tangannya.


"Ah tidak perlu bibi. Aku..." Hans malu malu atau begimana?


"Tidak perlu malu. Lagipula aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu" Ayah wajahmu kenapa tidak berekspresi?.


"Emm baiklah paman" Hans merasa tertekan.


"Ya kalau begitu sampai jumpa nanti malam" ibu melambai dan kami meninggalkan rumah Hans.


[WRITER ROOM]

__ADS_1


Ayah caroline: writer (dingin)


Writer: ya saya disini


Ayah caroline: bagaimana sikap Hans?(dingin)


Writer: eh bentar bentar,paman lagi cosplay jadi CEO sombong atau gimana?


Ayah caroline: hm...


Writer: dengar paman, kata ayahku "Jadilah diri sendiri, karena sikapmu mencerminkan kepribadian mu dan nilaimu di mata orang" jadi paman ... Jadi lah diri sendiri


Ayah caroline: ah baiklah.. caroline apakah Hans akan menjadi menantuku?(mengeluarkan sikap asli yaitu sikap imut)


Writer: nah ini baru bagus...jadi diri paman sendiri๐Ÿ‘๐Ÿป๐Ÿ‘๐Ÿป


Writer: sepertinya begitu


Ayah caroline: apakah dia baik?


Writer: ya anda bisa menilainya sendiri


Ayah caroline: kau tidak ada niatan untuk memberikan spoiler begitu?


Writer: sebenarnya aku mau tapi masalahnya....


Ayah caroline: apa masalahnya? Akan aku bantu


Writer: aku belum memikirkan ide untuk episode selanjutnya hehe...


Ayah caroline terkejut dan lemas tak berdaya.


Writer: heyy paman....Monyet!!!! Mana kau!!!


Monyet: datang ni.. kenapa?


Writer: tolong bawa paman ke rumahnya


Monyet: caranya?


Writer: terserah kamulah


Monyet: oke bang...


Monyet menyeret ayah caroline sampai ke rumah


Writer: wih di seret dong


Writer: Yasudah lah yang penting paman pulang.

__ADS_1


__ADS_2