Caroline'S Story

Caroline'S Story
Episode 22


__ADS_3

Aku pulang dan tiba tiba ibu langsung berteriak.


"Linlin cepat...." Ibu lari ke arah ku.


"Apa ibu?"


"Kau pergilah ke bandara xx sekarang" ibu kau terengah-engah.


"Ada apa?"


"Tadi ibu menerima telepon di teleponnya Hans, katanya Hans kembali lalu kau disuruh untuk pergi menjemput dia"


"Owlh oke, aku makan dulu"


"Tidak, cepat sana pergi sekarang" mendorong ku untuk keluar dari rumah


"Aaa baiklah baiklah" astaga ibu kira aku siapa anak atau bukan.


[Bandara xx]


Astaga aku menunggu lama sekali disini (writer: jangan percaya, dia baru datang dan masuk ke bandara). Kata ibu pesawatnya mendarat jam 12.00 sekarang sudah jam 11.58, jangan jangan tidak jadi mendarat.


~Ting Ting Ting Ting~ penerbangan xx dari negara ZZ ke negara XX dengan nomor penerbangan 01XXX sudah mendarat.


"Wih keren, negaranya seperti orang tidur ZZZZZZZZZ hahaha"


"Caroline....." Tunggu siapa yang berteriak?


Aku menoleh ke kanan ke kiri dan ternyata yang berteriak adalah Hans. Astaga kenapa dia ini. Dia berlari ke arah ku dan langsung memeluk ku.


"Caroline aku...." Hei apakah dia akan menangis?


"Hey kau kenapa?"


"Aku....sangat merindukanmu"


"E apa?" Hans melepaskan pelukannya


"AKU MERINDUKANMU....kurang jelas?" Hey hey hey tidak perlu berteriak.


"Oke oke berhenti berteriak"


"Oh iya kau bawa ponsel ku kan?"


"Tidak, ponselnya ku buang"


"Oh ayolah,jangan bercanda"


"Iya iya aku bawa...ayo pulang kerumah ku kata ibu, aku harus membawamu ke rumah ketika kau sudah sampai"


"Apa kau tidak berganti pakaian dan langsung datang menjemput ku ketika kau mendengar berita itu?"


Astaga, bukan begitu sebenarnya tapi kalau ku beri tau segalanya nanti kau sedih.


"Em ya begitulah"


"Wahh terima kasih linlin ku" Hans menggendong ku dan berputar.


"Wah mereka pasangan serasi"


"Ya sangat serasi"


"Lihat seragamnya, wanita itu mungkin tidak sabar menemui kekasihnya"


"Aaa indahnya masa muda mereka"


Astaga banyak orang yang melihat, kumohon hentikan. Aku mendorong Hans untuk menurunkan ku.


"Turunkan aku, banyak orang yang melihat"


"Baiklah oke,ayo pulang"


[Rumah Caroline]


"Wahh Hans pulang,ayo ayo masuk makanannya sudah siap. Kau pasti lelah"


"Mari makan" aku menjulurkan tangan untuk mengambil makanan.


~pletak~ ibu memukul tanganku


"Kau ganti baju dulu lalu cuci tangan,baru boleh makan"


"Tapi Hans ....."


"Diam....sana pergi ke kamar mu"


Cih, apa apaan ini. Sebenarnya anak mu itu aku atau Hans

__ADS_1



Aku masuk ke kamar dan berganti pakaian. Setelah itu aku turun dan makan. Aku melihat pemandangan yang sangat tidak biasa. Apa yang mereka bicarakan saat aku berganti pakaian.


"Ibu dimana ayah?"


" Ayahmu sedang menyelesaikan proyek di perusahaan nya"


"Oh nak Hans, apakah benar mereka berkata begitu?"


"Iya bibi aku jujur, aku juga bahagia"


"Aaaa syukurlah"


"Uhuk....aku selesai" aku masuk ke kamar.


"Baiklah sana" dasar ibu tidak tau perasaan anaknya.


"Linlin aku ingin menanyakan sesuatu" Hans memegang tanganku.


"APA!!" huh esmosi aku


"Emm.....itu...."


"Cepat!!"


"Tentang pelajaran"


"Ow...oke. Mari ikut" owalah ku kira apa ternyata pelajaran toh.


[Kamar ku]


"Jadi ini semua pelajaran nya" aku memberikan Hans tumpukan buku.


"Sebanyak ini?"


Rasakan itu,siapa suruh kau pergi tanpa mengabariku dulu.


"Iya sebanyak itu. Kenapa? Masalah? Siapa suruh kau pergi"


"Em kau marah karena aku pergi tanpa mengabarimu?"


"Tentu saja aku marah. Kau kira aku tidak menghawatirkan mu ha? "


"Maaf,oh ya aku ingin mengatakan sesuatu" Hans memegang tanganku.


"Ayo bertunangan"


"Eh"


"Begini,aku pergi untuk mencegah orang tuaku mencarikan jodoh untukku"


"Kenapa kau cegah? Kenapa tidak terima saja"


"Itu karena,aku menyukaimu"


"Apa?"


"Kau tau, waktu aku pertama kali melihat mu. Aku sudah menyukaimu"


"Oww"


"Waktu itu kau yang melindungi ku, tapi untuk sekarang dan selamanya aku yang akan melindungi mu"


"Apa? Jadi kau dari dulu menyukai ku?" Astaga perasaan apa ini.


"Iya, kumohon ayo bertunangan"


"Tunggu dulu, biasanya orang itu berkata mau kah kau menjadi kekasihku"


"Iya aku mau"


"Astaga bukan begitu maksudku"


"Oke oke langsung ke intinya, biasanya orang bilang begitu,tapi kenapa tiba tiba kau mengatakan ayo bertunangan?"


"Karena kita sudah berpacaran"


"Hee kapan?"


"Tadi baru saja, kau yang bilang kan"


Astaga budak....mana pisau mana pisau. Aduh pusing kepalaku. Kenapa aku bertemu dengan teman seperti dia.


"Tapi aku serius" Hans berkata dengan serius.


"Hah?"

__ADS_1


"Aku ingin hidup bersama denganmu, melindungi mu selamanya. Ayo bertunangan denganku"


Ya ampun writer....takdir apa yang kau tulis untukku. Ku mohon tulis apa dialogku selanjutnya. Aku tidak bisa berpikir.


"Em...aku akan memikirkannya dulu baru memberimu jawaban oke"


"Kenapa tidak sekarang"


"Heee kau kira jawaban ku ini semudah membalikkan telapak tangan ha? Ini jawaban untuk masa depan ku-_-"


"Baiklah,oh bukunya aku bawa dulu oke. Dan akan ku kembalikan ketika sudah selesai"


"Hey jika aku butuh bukunya?"


"Tinggal ambil di tasku atau tinggal ambil dari kamar ku"


"Jadi kau berniat menyimpannya ha? Bagaimana kalau ada pekerjaan rumah?"


"Kerjakan bersama"


"Apa ini ribut" ibu kenapa kau datang, firasat ku buruk


"Aku meminjam buku linlin"


"Ah baiklah, linlin akan datang setiap hari untuk belajar bersama mu"


Beh sudah ku duga apa yang akan terjadi. Firasat ku benar benar tepat. Kenapa aku harus memiliki ibu seperti dia.


"Oh baiklah aku pulang sekarang"


"Hey nak kau tidak mandi dan menginap disini?"


"Tidak, lagipula masih sore jadi aku bisa melakukan itu semua di rumah"


"Kalau begitu biar linlin yang hantar"


"Emm..." Menoleh ke arah ku


Baiklah aku akan mengeluarkan jurus tersembunyi milikku yaitu berpura pura lelah.


"Em tidak usah bibi, linlin sepertinya lelah karena tadi langsung menjemputku tanpa makan dulu"


"Ah baiklah,kau anak yang baik sekali"


"Baiklah bibi, aku akan pulang"


"Baiklah, sampai jumpa. Hati hati"


Ibu menoleh dan menatapku dengan tatapan mata tajam. Tiba tiba ibu mendekati ku.


"Nak,kau berbohong ya"


"Em itu .. aku benar benar lelah"


"Oh baiklah sayang, istirahat lah kau pasti lelah"


"Em ibu"


"Ya sayang"


"Hans tadi berkata kalau dia ingin bertunangan denganku"


"Lalu bagaimana jawaban mu?" Ibu kenapa tiba tiba kau bisa di ajak berbicara.


"Aku masih bingung, bagaimana aku harus menghadapinya"


"Itu mudah sayang lakukan aktivitas mu seperti biasa"


"Aku tau dia tidak akan menanyakan jawabannya saat aku tidak mengatakannya tapi ku tau dia pasti menunggu jawabanku"


"Sekarang ibu tanya, apakah kau menyukai Hans?"


"Itu aku juga tidak tau"


"Haih,lebih baik kau tanyakan kepada otak mu dulu, karena jawaban dari otakmu akan membawamu ke masa depan. Tapi jika kau mengikuti kata hatimu, hatimu hanya akan merasakan kebahagiaan sementara karena hati hanya ingin kebahagiaan dan tidak berpikir dulu. Jadi, pikirkan secara matang oke"


"Baiklah ibu"


"Nah gitu kan bagus,jangan terlalu di pikirkan"


Eh tunggu, apakah aku benar benar berkata kepada ibu dan ibu menjawab dengan sangat tenang?. Bertanya kepada otak ya.


"Hei otak,apa jawaban mu?"


"......."


"Aaaa tidak berhasil. Aku tidur saja lah"

__ADS_1


__ADS_2