
Pagi hari di dalam kamar Hans. Aku bangun dan mematikan alarm di hp ku. Aku membangunkan Hans.
"Hans...aku ingin bertanya sesuatu" aku bertanya sambil mencoba membangunkan Hans.
"Ummm.....pagi" Tiba tiba Hans menarik dan memelukku lagi.
"Heyy bangun...aku ingin bertanya apa ada kamar tidur lain di rumah ini?" Aku bertanya sambil mencubit pipi Hans.
"Ini apartemen jadi hanya ada 1 kamar di setiap rumah" Hans berkata sambil memejamkan mata dan masih memelukku.
"Lupakan aku ingin membeli kasur" aku melepaskan pelukannya.
"Tidak perlu, lagipula kau sudah tidur denganku semalam" Hans berkata dengan wajah tenang.
"Heyy itu tidak baik...aku bilang beli kasur ya beli kasur" aku berkata dengan nada memaksa.
"Akan kutemani, tapi tunggu aku mandi dulu" Hans bangun dan beranjak dari tempat tidurnya.
"Tunggu,ke perpustakaan dulu baru beli kasur" Hans berkata sambil mengusap matanya.
"Yayayaya terserah, cepatlah aku juga ingin mandi" Aku mengibaskan tangan.
"Mandi bersama saja" Hans memberikan ide.
"Tidak!!!! Cepat keluar!!!" Aku berteriak sambil melempar bantal ke arah Hans.
Setelah mandi Hans pergi keluar untuk mengambil koran. Setelah aku selesai mandi dan berganti pakaian,aku langsung pergi ke dapur. Tiba tiba dari belakang Hans memelukku.
"Wangi,sabun ku tidak sewangi ini....kau pakai apa?" Hans bertanya sambil memelukku.
"Payah,ini sabunku" aku berkata sambil mendorongnya agar tidak memelukku.
"Yayayaya yayayaya" Hans pergi menyiapkan meja.
Setelah aku dan Hans selesai makan. Kami pergi ke perpustakaan dan membaca buku. Disana aku tidak bisa meraih buku yang ada di atas rak. Padahal aku sudah menggunakan kursi.
__ADS_1
"Payah aku tidak bisa meraihnya" aku berjinjit di atas kursi kecil agar bisa meraih bukunya,tapi tetap tidak bisa.
"Ambil ini" Hans dengan mudah meraih buku dan memberikan nya kepada ku.
"Terima kasih, seharusnya aku menyuruhmu mengambilkan buku dari tadi" aku berbalik badan ke arah Hans.
Dari kejauhan terdengar suara ribut ribut. Ternyata sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Kenapa tidak ada yang melerai mereka. Tiba tiba Hans terdorong oleh mereka.
"Ummm....." Astaga aku dan Hans berciuman karena ulah mereka.
"Hei jangan menghalangi jalan...eh maaf kami tidak akan mengganggu" pasangan kekasih itu meninggalkan kami. Tapi kenapa Hans tidak melepaskan ciumannya.
Hans memperdalam ciumannya. Tunggu aku tidak bisa bernafas. Aku mendorong Hans dan ciuman kami terlepas.
"Ini perpustakaan,apa yang kau lakukan?" Aku marah karena malu.
"Emm maaf,aku tidak bisa mengendalikan diri....maaf aku membuatmu takut" Hans berkata sambil memelukku.
"Baiklah....ayo beli kasur untukku,sudah cukup belajarnya" Aku berjalan menuju pintu keluar.
"Baik nyonya" Hans mengikutiku keluar perpustakaan.
"Yang ini? tidak, yang ini? Tidak, yang ini? tidak, yang ini? tidak,yang ini? Tidak" aku bolak balik memilih kasur agar cepat pulang. Tapi ternyata itu malah semakin lama. Bahkan waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Besok aku harus sekolah.
"Bagaimana kalau yang ini?" Hans menunjuk ke salah satu kasur di sampingnya.
"Ah...oke oke mari pulang" aku mengambil kasur dan ingin pulang.
"Tunggu,bukankah kita harus membayarnya dulu?" Hans berkata sambil menunjuk arah kasir.
"A iya iya.." aku bergegas ke kasir dan membayar kasurnya.
"Ini nona potong dari kartu VIP ku" Hans langsung memberikan kartu hitam untuk membayar kasurku.
"Ah terima kasih....ayo pulang" aku bergegas meninggalkan toko itu.
__ADS_1
"Wah sepertinya istrimu sudah tidak sabar untuk mencoba kasur baru yang anda berikan" Nona kasir itu berkata sambil tersenyum.
"Heyyy..." Aku ingin memperingatkan nona itu tapi.
"Iya kurasa begitu, baiklah kami pergi dulu" Hans berkata sambil meninggalkan toko bersamaku.
Sesampainya di rumah. Aku bergegas menuju kamar dan menggelar kasur itu.
"Baik sudah malam kasur sudah waktunya tidur selamat malam" aku berkata tanpa jeda.
"Kau tidak berganti pakaian dulu?" Hans bertanya sambil mencoba membuka selimut ku.
"Tidak terima kasih" aku menarik selimutku dan menutupi wajahku.
"Ah baiklah selamat malam" Hans pergi ke ranjangnya dan bersiap untuk tidur.
"Astaga tadi canggung sekali" aku berkata dalam hati.
[WRITER ROOM]
Writer sedang berbicara di telepon. Dan tiba tiba Caroline datang.
Caroline: hee writer kenapa kau membuat suasana jadi canggung?
Writer: oh jadi begitu...kurang ajar(berbicara di telepon)
Caroline: writer?
Writer: dasar kurang ajar...memakan makanan milik orang tidak bilang bilang....dasar tidak ada akhlaknya (marah marah di telepon)
Caroline: aduh gawat aku lupa kalau aku menghindari dia,kenapa aku malah kemari...lebih baik aku kabur(berbicara dalam hati dan bergegas pergi tanpa diketahui)
Writer: ya benar sekali...maka dari itu aku tidak memelihara kucing takut ikan ku dimakan oleh dia....tapi kucing itu sangat lucu...aku jadi bingung untuk memelihara nya..ah sudahlah... baiklah aku tutup dulu,sampai jumpa.( berbicara di telepon)
Writer: iya siapa? Eh....( Menoleh kebelakang)
__ADS_1
Writer: tadi sepertinya ada orang....em entahlah mungkin hanya firasat ku saja(kembali ke layar komputer)
Ternyata hal yang dibicarakan writer di telepon adalah masalah temannya terhadap kucing peliharaannya. Mengapa caroline gugup dan meninggalkan ruangan writer saat writer berkata "dasar kurang ajar...memakan makanan milik orang tidak bilang bilang....dasar tidak ada akhlaknya" karena caroline merasa bahwa writer sedang membicarakan dirinya yang makan corndog milik writer.