
Makan malam sudah disiapkan. Hans datang dan ibu mempersilahkan nya duduk.
"Bibi aku membawa bingkisan" memberikan bingkisannya kepada ibu
"Ah tidak perlu seperti ini, tapi terima kasih ya Hans. Ayo masuk" menerima sambil memegang pipinya.
"Baik bibi, permisi" Hans berjalan masuk.
"Aaaaaaaaaaa....ayahhhhhh" aku berteriak dari dapur.
Ibu dan Hans pergi berlari menuju dapur. Ibu tertawa karena melihat aku dan ayah berlumuran tepung karena ulah ayah.
"Oh maaf ya nak....ayah tidak tau kau membawa tepung hehe" ayah kau benar benar tidak memiliki wajah bersalah.
"Pft" Hans menahan tawanya.
"Tertawalah sesukamu" Aku memarahi Hans.
"Eh, tidak aku tidak akan tertawa. Sana gantilah bajumu"apanya yang tidak akan tertawa? Kau saja tersenyum seperti orang idiot.
Aku berjalan pergi ke kamar untuk mengganti bajuku. Aku turun ke bawah dan aku melihat Hans membantu ibu untuk menyiapkan makanan.
"Bu, apa yang harus aku lakukan?" Aku mendekati Ibu.
"Ah kau sudah berganti pakaian? Tapi sepertinya kamu mandi ya nak?" Ibu memegang rambutku yang basah.
"Iya aku mandi....karena ayah, tepungnya mengenai rambutku" aku memberikan tatapan mematikan kepada ayah.
"Eee....ayo makan, nanti makanannya dingin loh, ayo Hans duduk" ayah aku benar benar akan membalasnya lihat saja.
"Sepertinya paman dan caroline sangat akrab satu sama lain ya" Hans berkata sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tidak mungkin!!" Aku dan ayah berkata secara bersamaan.
"Ah sepertinya kau benar Hans" ibu ada apa dengan dirimu.
"Ah sudahlah lupakan itu, mari kita makan" aku menyodorkan makanan apa saja kepada ibu dan Hans.
"Bagaimana dengan paman?" Hans menunjuk ayahku.
"Ambil sendiri lah" aku memalingkan wajah.
"Haih... putriku sudah marah pada ayahnya. Lalu apa yang akan terjadi kepada pria tua ini tanpa putrinya?" Ayah kau sangat pandai berakting. Sayang sekali kau bukan bintang film.
Kami makan dan menghabiskan makanan. Setelah makan aku ibu dan Hans membereskan piring piring nya.
"Ehem... Hans ikut aku ke ruang kerja ku. Aku ingin bicara kepadamu" ayah berkata sambil melihat aku yang memberikan tatapan membunuh kepadanya.
"Eh...sayang, jangan buat tamu terhormat kita ketakutan" ibu berkata sambil memeluk ayah dari belakang.
"Sampai kau membuat menantuku ketakutan,kau harus bersiap untuk tidur di luar" ibu berbisik kepada ayah. Ibu kau yang terbaik. Lanjutkan ibu, bahkan kalau itu menjadi kenyataan maka aku akan benar benar bahagia.
Sudah 1 jam setelah ayah dan Hans masuk ke ruangan kerja ayah. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan. Aku benar benar penasaran. Apakah aku akan menguping?. Ah sudahlah aku mencuci piring dulu.
~ Tik tik tik tik~
Astaga sudah 2 jam berlalu. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan. Aku tidak sabar lagi.
"Linlin sayang...ada apa?" Ibu menepuk pundak ku.
"Ah tidak ibu, aku ingin main komputer" aku pergi ke kamar.
Astaga sudah 3 jam berlalu. Aku ingin tau. Sangat sangat ingin. Benar benar meresahkan. Aku pergi ke bawah dan menunggu di depan TV.
__ADS_1
"Yaa jadi sering seringlah kemari" ayah dan Hans keluar. Oh ayolah aku benar benar ingin tau. Kenapa mereka berdua tersenyum? Apa yang mereka bicarakan.
"Baiklah paman,bibi, linlin aku pergi dulu" Hans berpamitan.
"Oh ya sampai jumpa sayang, oh iya kau harus datang saat makan siang ya" ibu mengundang Hans.
"Dan jika sarapan,linlin akan mengantarkan makanannya kepadamu" ayah kenapa kau berubah.
"Ya paman bibi, linlin sampai jumpa" Hans pulang ke rumah.
"Oh ya" aku melambai pelan
Tunggu apa? Linlin? Kenapa dia memanggilku seolah aku sudah sangat dekat dengannya? Kenapa? Ada apa ini? Dimana aku? Siapa aku?. Sudahlah mari tidur.
[WRITER ROOM]
Hans: writer apakah aku tidak memiliki musuh cinta?
Writer: itu Jonas kau anggap apa?
Hans: dia tidak berusaha mendekati Linlin
Writer: lihat saja nanti
Hans: eh... sudahlah malas aku
Monyet: kau benar benar tidak mau memberikan spoiler untuk dia?
Writer: tak nak
Monyet: kenapa?
__ADS_1
Writer: huh(menghela nafas) karena aku tidak tau juga apa yang akan aku lakukan dengan cerita ini besok.
Monyet: lah lah lah lah lah lah lah