Caroline'S Story

Caroline'S Story
Episode 7


__ADS_3

Pagi pagi sekali aku pergi ke rumah Hans. Aku membawakan sarapan untuk Hans. Aku sampai di rumahnya dan menekan bel.


~Ting tong~


"Tunggu sebentar" kata Hans sambil membuka pintu.


"Heh caroline, masuklah" Hans menyuruhku masuk. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat rumah Hans yang sebelumnya rapi berubah menjadi kapal pecah.


"Apa ada perampok?" Aku bertanya dengan ekspresi aneh.


"Tidak,maaf aku akan membersihkannya agar kamu bisa duduk" Hans mencoba membersihkan rumahnya,tapi kelihatannya dia benar benar lelah.


"Tidak Hans" aku menarik tangan Hans untuk mencegahnya membersihkan.


"Aku yang akan bersihkan,mandi dan ganti pakaian mu,kita akan ke sekolah setelah sarapan" aku berjalan dan membersihkan rumah Hans.


"Baiklah maaf merepotkan" Hans berjalan ke kamarnya.


Setelah selesai membersihkan,aku pergi ke dapur. Aku membuka makanan yang aku bawa. Aku membuat susu hangat untuk Hans. Tiba tiba dari belakang Hans memelukku.


"Sudah mandi kah? Ayo sarapan" aku mengajak dia sarapan sambil memegang pipinya yang ada di belakang telingaku.


"Kenapa kau perhatian dengan ku?" Hans bertanya sambil memelukku dengan erat.


"Oh ayolah jangan dipikirkan... Ayo makan kalau tidak susunya akan dingin" aku mendorong Hans untuk melepaskan pelukannya.


"Roti lapis? Kelihatan nya enak" Hans duduk dan makan roti lapisnya.


"Iya, ibuku yang membuatnya" aku mengatakan sambil menyodorkan susu.


Aku menatap Hans yang sedang makan. Ternyata dia tampan juga. Beberapa saat kemudian Hans sudah selesai makan.


"Ayo berangkat" Hans menarik tanganku.


"Ah kita naik apa?" Aku bertanya karena jarak sekolah dan rumah Hans sepertinya jauh.


" Aku tau jalan pintas" Hans berkata dengan penuh keyakinan.


Aku dan Hans berjalan menuju sekolah dengan melewati jalan pintas yang diberitahu Hans. Tiba tiba Hans menggendong ku dan berlari.


"Hans apa yang kau lakukan? Cepat turunkan aku" aku memberontak karena malu jika dilihat orang.


"Diamlah, terkadang disini ada preman...jadi karena kau tidak bisa berlari cepat makanya aku mengambil cara yang aman" Hans berkata dengan senyum. Sepertinya itu senyum jahat.


"Terserah" aku menenggelamkan wajahku ke dadanya.


Hans berlari sampai ke jalan dekat sekolah. Aku diturunkan di situ dan mulai berjalan. Aku dan Hans berjalan sampai ke kelas. Sesampainya di kelas aku menyadari sesuatu.


"Hei aku baru sadar" aku mengatakan itu dengan wajah menyadari sesuatu.


"Apa?" Hans bertanya dengan wajah tenang.

__ADS_1


"Kau menipuku, mana mungkin ada preman di jalanan hutan dan bahkan sekarang masih pagi" aku berteriak dan menatap mata Hans dengan penuh kemarahan.


"Emm yaaa....aku sengaja" Hans berkata sambil tersenyum.


"Kenapa kau lakukan itu?" Aku bertanya dengan wajah ingin membunuh.


"Karena aku ingin menggendongmu" Hans berkata sambil mencubit pipiku.


"Ahahahahaha anak aneh" aku tertawa terpaksa dan memalingkan wajah. Tunggu sepertinya aku tersipu. Apa arti tersipu ya? Ah sudahlah.


Aku melihat Olif masuk ke kelas dengan wajah gelisah. Aneh, kemarin dia bahagia tetapi sekarang dia gelisah. Sebenarnya apa yang dia sembunyikan dariku.


"Mau bertanya? Mari kita coba" Hans bertanya kepadaku.


" Iya,aku ingin" aku gembira karena Hans mengijinkan aku bertanya kepada Olif.


"Olif kau kenapa?" Aku bertanya dengan wajah heran.


"Oh emm tidak apa apa....aku akan pergi sampai jumpa caroline" Olif pergi dengan terburu-buru.


"Sudahlah mungkin dia sedang tidak ingin diganggu" Hans berkata sambil menepuk pundak ku.


"Apa aku melakukan kesalahan yang membuatnya tidak menyukai ku?" Aku berbicara sendiri dengan wajah sedih.


"Hey lihat aku" Hans memegang wajahku dan membuatku menatap wajahnya.


" kau tidak melakukan kesalahan apapun... mungkin suasana hati Olif sedang tidak bagus atau mungkin sedang tidak ingin di ganggu...jadi jangan menangis oke" tiba tiba Hans memelukku dengan erat. Perasaan hangat dari pelukan Hans membuatku lebih tenang.


"Hum...aku sudah baikan sekarang" Aku berkata sambil mendorong Hans untuk melepaskan pelukannya.


Pelajaran sudah dimulai,aku melihat Olif gelisah. Aku juga merasa tidak enak jika melihat temanku seperti itu. Tapi Hans berkata jika aku tidak usah khawatir dengan Olif.


"Anak anak, sebentar lagi kalian ujian...jadi belajar lah dengan giat dan jangan mengecewakan bapak... mengerti semua?" Pak guru berkata di depan kelas.


"Mengerti pak!!" Murid murid menjawab.


"Baiklah sampai disini perjumpaan kita hari ini, mohon ulang ulang lagi pelajaran yang telah bapak sampaikan....bapak pergi dulu" pak guru berkata sambil meninggalkan kelas.


~♪♪♪♪♪♪~


Telepon ku berbunyi. Siapa yang menelpon ku di jam segini? Biasanya tidak ada. Oh ibu yang menelpon.


"Halo ibu" aku mengangkat telepon.


"Halo linlin kamu sedang bersama Hans?" Kenapa ibu bertanya tentang itu.


"Oh iya Bu, kami akan pulang" aku berkata sambil buru buru memasukkan buku kedalam tas.


"Tidak nak...berikan teleponnya kepada Hans" ibu menyuruh ku dengan nada bahagia. Aneh,bukan hanya aneh tapi sangat aneh benar benar aneh.


"Hans..ibuku ingin berbicara denganmu" aku memberikan telepon ku ke Hans.

__ADS_1


"Halo bibi" Hans menerima telepon ku dan berbicara dengan ibuku.


"........" Tidak terdengar apapun


"Baik bibi, oh iya bibi, ya baiklah, tidak merepotkan sama sekali...oh tentu bibi. Baiklah semoga liburannya menyenangkan" Hans sebenarnya apa yang ibu bicarakan denganmu.


"Apa yang dikatakan ibu?" Aku penasaran


"Kau harus tinggal bersamaku untuk sebulan" Hans berkata dengan nada tenang.


"Apa!!!!! Kenapa???" Aku benar benar terkejut.


"Ya kata bibi dia pergi berlibur bersama paman secara mendadak.....bibi mengeluarkan pakaianmu dan dia letakkan di depan rumahku...." Hans menjawab dengan tenang lagi. Hei hei hei apa kau tidak waspada? Pria dan wanita hanya berdua di rumah.


"Kenapa tidak meninggalkan kunci saja!!" Aku berteriak.


"Ah bibi bilang, ehem" Hans sedang mengatur nafas?


"Jika aku meninggalkan kunci untuk linlin, aku tidak tau apa yang akan dia perbuat dengan rumahku. Rumahku sudah rapi benar benar rapi. Hanya kamar linlin yang sangat berantakan. Jadi aku tidak ingin rumahku kotor...jadi sekian" Hans berkata dengan nada seolah dia adalah ibuku.


"Pft..hahahahahaha.... sungguh lucu...oke aku tinggal di rumahmu" aku tertawa melihat tingkah laku Hans.


"Kau cantik saat tersenyum" Hans bergumam.


"Apa?" Aku bertanya karena tidak mendengar apa yang dia katakan tadi.


"Ah tidak apa apa....ayo pulang" Hans memegang kepalaku sembari memegang tanganku untuk diajak pulang.


[WRITER ROOM]


IBU CAROLINE DATANG KE RUANGAN WRITER


Ibu caroline: writer...


Writer: iya bi?


IBU caroline: kenapa kau membuatku pergi dari rumah dan meninggalkan putriku?


Writer: oh ayolah...aku memberikan bibi sebulan kebahagiaan


Ibu caroline: apanya yang sebulan kebahagiaan?


Writer: iya lah bi....Bibi kan pergi berlibur bersama suami bibi yang artinya....


Ibu caroline: oh aku tau...yang artinya aku memberikan kesempatan kepada linlin dan Hans


Writer: bukan itu maksudku


Ibu caroline: ohh atau aku memberikan kesempatan kepada mereka untuk memberikanku cucu? Yeyy aku akan menjadi nenek....


Writer: hadeh...yowis lah sak karepmu

__ADS_1


__ADS_2