
kamu itu bagaikan balok es, dingin sekali . Bisa mencair dan menjadi hangat setelah terkena panas dan terlewat waktu, tapi juga akan kembali mengeras , beku , dan dingin kembali seperti sebelumnya
***
Ara pergi ke gudang masion Alex untuk mencari sebuah tangga ,yang akan di gunakan untuk mengambil kopernya yang di simpan di atas lemari.
Saat tengah mengangkat tangga , mata Ara tertuju pada lembaran foto yang berada di dalam kardus.
Ara mendekati kardus tersebut secara perlahan , dan dengan sangat penasaran Ara meyakinkan bahwa itu bukan suatu foto yg akan menyakitinya.
Tetapi saat Ara melihat foto itu, seluruh tubuhnya langsung lemas. Tanpa sadar Ara menitikkan bulir bulir kristal bening di pipinya. Terdapat 2 orang yang sedang bersebelahan tersenyum menghadap ke arah kamera, dan seseorang d foto itu tak lain adalah Alex , dan di belakang foto itu bertuliskan nama wanita tersebut. Ara tidak menyangka Alex memiliki wanita lain saat dia tidak berada di dekatnya, pertanyaan bertubi tubi menghunjam perasaannya, apakah Alex sudah mengahiri hubangan itu atau tetap dia jalankan?
Ara menuntaskan semuanya pada Rahma , semua kesedihannya ia bagi dengan sahabatnya . Gadis berambut hitam itu tidak tahu lagi harus bagaimana menyikapi sikap Alex, dia sangat bingung.
"Rahma ,siapa Angel itu? Hiks.. hiks ..apa hubungan mereka berdua? Hiks .. Jika aku tahu bakal begini sebaiknya aku mulai melupakan Alex." Tangis Ara, yang dengan sesenggukan berusaha berbicara dengan bersusah payah.
"Rahma, ayo kita pergi dari rumah ini." Ajak Ara kepada Rahma saat itu juga sambil menyeka air matanya.
Baru saja Rahma akan berbicara Ara seolah olah tahu apa yang akan di bicarakan sahabatnya itu.
"Jangan hawatir, mungkin aku telah menyembunyikan sesuatu dari kalian semua. Maafkan aku Rahma , selama ini aku telah memiliki suatu perusahaan besar , salah satu kantorku juga ada di kota ini, ealaupun kantor pusatnya berada d NYC. Dan jangan khawatir tentang harga penyewaan rumah di Surabaya, aku mempunyai apartemen di kota ini."
"Dan iya satu lagi Rahma , aku ingin kamu menjadi Sekretarisku. Aku mohon , aku bingung harus merekrut siapa, sekretarisku yang dulu benar benar tidak kompeten,jadi aku memecatnya dan ,tentu aku tahu jika kamu sangat kompeten , kamu juga pernah belajar berbisnis, jadilah sekretarisku ."
"Baiklah , aku juga tidak bisa menolak pekerjaan yang menggiurkan , bisa menjadi sekretaris pimpinan perusahaan , pemegang saham 100% di perusahaan itu . Aku jadi sangat bangga padamu."Jawab Rahma dengan wajah berbinar sangat bahagia atas keberhasilan sahabatnya.
"sudahlah ayo kita berangkat ma, aku akan menelfon seseorang untuk mengirimkan mobil kemari."
"oke, Ara temanku , Ayo kita segera berangkat. Tapi ra? Kita belum membereskan baju-baju kita?!."
Rahma terlihat sangat bingung dengan itu, pasalnya semua baju sudah dia masukkan rapi ke dalam lemari, akan membutuhkan waktu lama untuk mengemas kembali.
"Rahma, kita akan membeli lagi baju yang banyak. Bahkan yang lebih bagus lagi."
"iya deh percaya sama sahabat milyarderku." Jawabnya sambil cekikikan, sedangkan Ara hanya menanggapinya dengan santai.
Saat akan pergi keluar rumah , tak lupa Ara menulis sebuah pesan untuk Alex dan permintaan maaf untuknya karena tiba-tiba keluar tanpa sepengetahuannya. Ara tidak memberi alasan kenapa dia keluar, ia hanya meminta maaf saja.
000
selepas dari kantor, Alex langsung pulang ke rumah. Awalnya dia tidak menyadari apapun tetapi setelah di menjatuhkan dirinya d sofa, matanya terfokus pada amplop yang berada diatas meja. Alex segera meraihnya dan membuka amplop tersebut yang di dalamnya terdapat sebuah surat bertuliskan tangan.
Alex segera membacanya , dan ternyata , itu dari Ara . Alex sangat bingung, kenapa Ara secara tiba-tiba meninggalkan masionnya. Tetapi Alex tetap diam akan hal ini, dan membiarkan Ara meninggalkannya.
Disisi lain, Ara merasa bebas karena bisa tinggal di rumah miliknya sendiri. Apartementnya bisa di bilang cukup mewah, itulah sebabnya Rahma menjadi sangat senang bisa tinggal bersama Ara.
"Ra? Kok bisa sih lo ngediriin perusahaan segitu gedenya? Dapet modal dari mana?" Tanya Rahma dengan antusias.
"Sebenernya , gua sekolah dari awal senior high school udah dapat biayasiswa, dan jujur aja gua udah kerja, makan dan tempat tinggal sudah gua dapetin gratis , jadi uang kiriman dari mama di tabung dan uang hasil kerja d tabung juga."
__ADS_1
"Tapi apakah cukup buat ngediriin perusahaan besar?"
"Uang itu juga gua investasiin, dan gua juga dapet hadiah dari beberapa kompetisi yang udah gua menangin."
"Serius lo ikut kompetisi?wahhh emang sahabat gua satu ini pinter banget ya orangnya."
Ara hanya tersenyum mengingat perjuangannya selama ini, mungkin dulu ia harus menahan banyak keinginannya dan hidup sangat sederhana untuk mewujudkan cita-citanya, tetapi saat ini ia bisa mendapatkan apapun yang ia inginkan.
Karena mereka tidak membawa baju ,Ara mengajak Rahma untuk berbelanja , tetapi tetap saja Ara memesan beberapa potong setelan pakaian kepada beberapa brand merk terkenal , yang harganya bisa di bilang fantastis.
Ara mengendarai sendiri mobilnya yang bisa membuat Rahma melongo melihatnya. Ara dengan sangat pas memakai kacamata coklat dan rambut terurai bebas yang di tambah kemeja putih dan celana jins yang di padukan dengan sepatu heels 5centi berwarna senada dan tas juga warna senada, yang menambah kesan elegan pada Ara.
"wuihh sahabat gua, sumpah gua gak bohong ra , cantik banget, bidadari ya?"kata Rahma dengan tatapan memuja yang membuat Ara jengah dan nemutar bola matanya.
"udahan ah mujinya, masuk gih. Katanya butuh baju banyak, buruan kita pasti bakal lama belanjanya."
Ara pun nelajukan mobilnya ke salah satu pusat perbelanjaan di Surabaya.
Mereka berbelanja banyak sekali,segala macam model pakaian di belinya ,dan tentu saja sepotong pakaian harganya bisa di bilang cukup untuk makan seminggu.
Mereka selesai berbelanja saat hari sudah menunjukkan pukul 18.00,yang menandakan malam telah datang.
Ara segerah memerintahkan orang suruhannya untuk membawa barang belanjaannya ke apartemen miliknya, sedangkan mereka akan pergi ke salah satu restoran untuk makan malam.
Saat dia akan keluar dari mall Ara bertemu kembali dengan Cinta pertamanya,yang mati-matian telah berusaha ia lupakan. Bertahun tahun ia berusaha melupakannya sebelum akhirnya bertemu dengan Alex.
Kaki Ara tiba-tiba sulit untuk di gerakkan, dan dia hanya berdiri diam membeku menatap ke arah sana.
Rahma yang bingung pun ikut menatap ke arah yang sama.
"Ra...dia datang lagi kehidupan lo?orang yang pertama kali udah bikin lo jatuh cinta."
Suasana berubah menjadi bisu,walaupun sekeliling kedua gadis itu sedang ramai. Mereka sama-sama bergelut dengan pikiran masing-masing, sebelum akhirnya Ara menitikkan bulir kecil kristal bening di pipinya ,yang segera ia hapus,sebelum semua orang melihatnya."
Rahma segera menarik tangan Ara untuk pergi dari tempat itu,sebelum sahabatnya semakin terlarut dalam perasaannya.
Saat ini gantian Rahma yang menyetir mobil Ara.
Rahma segera melajukan mobil tersebut pada salah satu restourant yang terdapat di kota tersebut.
Rahma sengaja memilih tempat yang dekat dengan pantai,agar Ara cepat menenangkan hatinya.
Saat akan masuk ke dalam tempat tersebut , Ara yang sedang kalut menabrak seorang pria yang akan masuk juga ke restourant tersebut.
Ara segera meminta maaf pada pria tersebut,tetapi saat mengetahui, jika pria yang di tabraknya adalah seseorang yang menjadi cinta pertamanya, Ara langsung di buat syok dan benar benar lemas.
Tubuh Ara langsung limbung ke Rahma,dan dengan sigap sahabatnya langsung menopang tubuhnya.
__ADS_1
Pria yang berada di depannya juga ikut membantunya membawa Ara masuk dan memesan makanan ,pria itu mengira jika Ara belum makan ,jadi dia bisa lemas.
Suasana awal terasa sangat canggung sebelum pria tadi memulai pembicaraan dengan bertanya penyebabnya bisa limbung.
"Ara, kamu kenapa bisa limbung seperti tadi? Apa jangan jangan kamu belum makan sedari pagi?"
Tanya nya dengan sangat hawatir
Ara tidak berminat untuk menjawab,mukanya terlihat pucat dan tubuhnya terasa lemas. Dan tentu saja saat di tanya Ara hanya menatap kosong dan untung saja dia memiliki sahabat yang pengertian ,Rahma yang menjawab senua pertanyaan yang di lontarkan william, ya cinta pertamanya adalah seniornya dulu yaitu william rich johanson.
Ara menguatkan diri untuk berbicara dengan william.
"will, apa kabar dengan mu?"Kata ara untuk membuka percakapan dengan will.
"Aku baik, tetapi aku rasa kamu sekarang sedang tidak baik?"will menjawab pertanyaan Ara dengan balik bertanya sambil ,sedikit tatapan bertanya.
"Tidak will , aku baik , Hanya saja aku tidak mengisi perutku sejak pagi tadi. Itu lah sebabnya aku sedikit limbung tadi, dan ya terimakasih atas bantuannya ."tutur Ara dangan jujur,walaupun ada alasan lain di balik itu.
Arafa kylie bryan, ya... Gadis itu memang mempunyai kemampuan luar biasa untuk membius lawan bicaranya dan meyakinkannya , itulah mengapa Ara berhasil sukses besar pada umur 24 tahun.
000
"Pagi, my best friend."Sapa Rahma saat Ara turun dari tangga rendah di apartementnya untuk menuju ke meja makan.
Ternyata Rahma sudah bangun lebih awal dari pada dia. Ara pun langsung menjawab salam ceria Rahma ,dan menyambar roti yang sudah teroles nuttella di atas meja.
"Pagi juga sahabatku, by the way thanks ya rotinya, aku jadi merasa di repotkan olehmu."
"lo bisa aja , kayak gak tau sama siapa. Kita kan udah jadi sahabat, gak perlu sungkan deh." tutur Rahma sambil menyodorkan segelas susu pada Ara, yang langsung di raih olehnya dan memberi balasan senyum manisnya.
"Ra? Nanti jadwal lo padet banget,dan mungkin lo harus lembur."Jelas Rahma panjang lebar, yang di balas sebuah anggukan tanda mengerti.
Setelah sarapan selesai, mereka segera berangkat,dan kali ini Rahmalah yang menyetir.
Sesampai di kantor Ara ,segera masuk dan melewati beberapa karyawan yang menyalaminya, tetapi Ara hanya sedikit menganggkukkan kepalanya, dan segera melenggang masuk ke dalam lift pribadinya tanpa menghiraukan para karyawan.
Rahma yang mengetahui sisi lain dari sahabatnya pun terkejut, tidak biasanya Ara bersikap sangat dingin kepada orang lain, dan sikapnya tadi? Sepertinya para karyawan sudah terbiasa dengan sikap itu.
Di dalam lift, mereka seolah olah melupakan tujuan mereka datang ke surabaya.
Saat ini rupanya Ara sudah menghilangkan keinginannya untuk menulis sebuah novel,dan memilih untuk fokus pada perusahaan saja.
Ara melenggangkan kakinya kekuar dari lift , dan semua orang memberi hormat dan salam padanya, tapi tak satupun di jawab oleh Ara.
Sikap Ara begitu berbeda . Ara tidak pernah seperti ini di tempat lain , tp di sini Ara begitu dingin dan cuek .
Rahma benar benar bingung akan sahabatnya sendiri.
__ADS_1