CEO CANTIKKU

CEO CANTIKKU
Episode 5


__ADS_3

Rahma yang merasa sangat terpukul telah melupakan segalanya tentang Rudi.


   Tetapi tidak dengan Ara yang masih saja mengingat Alex, ia sudah berusaha menyembunyikan perasaannya selama ini dengan senyuman.


   


                                000


    Tiba saat hari keberangkatan mereka, keluarga kedua gadis tersebut ikut mengantar sampai bandara.


    Di Bandara beberapa bodyguard  Ara telah menunggu, dan semua sudah di persiapkan.


     Ara dan Rahma memasuki pesawat pribadi milik Ara, yang akan terbang menuju NYC.


    Di dalam pesawat, Rahma tak henti hentinya mengagumi interior jet pribadi milik sahabatnya, berbanding terbalik dengan Rahma yang sibuk dengan iphad di tangannya dan beberapa pikiran mengganjal lainnya.


    Sesampainya di NYC, Rahma ingin sekali berteriak, karena ini pertama kalinya dia menginjakkan kaki di kota besar ini, tetapi dia harus tetap profesional agar tidak mengganggu nama baiknya dan nama baik perusahaan.


    Ara melenggangkan kakinya yang jenjang ke arah pintu keluar yang sudah di jaga oleh beberapa bodyguardnya dan langsung memasuki mobil yang telah di siapkan.


    Rahma pun hanya melongo saat memasuki mobil, karena semua orang memberi hormat dan sepertinya banyak orang di bandara yang telah mengenali sahabatnya itu, bahkan mereka terlihat segan terhadapnya.


   "ra lo terkenal banget ya di sini?"


Pertanyaan itu dengan lancarnya terucap dari bibir Rahma


   Sedangkan Ara hanya menjawab dengan senyum samarnya yang terlihat puas dengan pemandangan yang di katakan sahabatnya.


"mulai sekarang lo harus terbiasa, dan usahakan selalu bersikap profesional di hadapan publik karena jika kita melakukan kesalahan, itu akan membuat media menyoroti kita dan nama baik perusahan akan goyah"


    Setelah percakapan singkat itu, hanya hening yang di rasakan keduanya. Sedangkan pikiran mereka  menyeruak kemana mana.


    Mereka langsung tidak langsung pulang untuk mengistirahatkan tubuh mereka, melainkan langsung pergi ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan.


     Tetapi saat mereka berada di ruangan Ara, keduanya malah berbincang.


    "Rahma...gua mau bicara sebagai temen lo"


   


    "ada apa Ra? Lo ada masalah?"


   "Gak kok gua cuma mau nanya, lo mau tinggal sama gua apa lo mau tinggal di tempat yang berbeda, kalo misal lo mau di tempat yang berbeda sih gua bakalan beliin apartement buat lo."


   "hmm  tenang aja Ra.. gua gak mau ngerepitin lu. Nanti gua ganti uangnya oke."


   "ehh ngapain sih pake acara ganti uang segala... Lo kayak gak tau gua aja, lagian ya dari dulu juga yang selalu ngebantuin gua itu lu jadi anggep aja ini balesannya."


    "gua dari dulu ngebantuin lo gak minta bantuan cantik."


    "terserah deh apa kata lu, anggep aja hadiah yasyakuran dari sahabat lo yang paling cantik di dunia."


    "hmmm jadi sayang deh sama lo Ra, thanks ya udah mau nemenin gua dari nol dan selalu ngesuport gua."

__ADS_1


    "tapi... Rahma gua mau nanya lagi, kenapa sih dulu lo mau jadi temen gua, padahal ya... Saat itu keluarga gua baru aja jatuh dan hancursedangkan keluarga lo itu tergolong keluarga yang harmonis dan berkecukupan, terus temen temen yang lain juga udah gak ada yang mau jadi temen gua, tapi kenapa lo masih bertahan?"


    "Ra.. Gua dari dulu temenan sama lo itu gak pernah mandang apapun, dan gua juga tulus mau jadi temen lo. Udah jangan nangis lah Ra nanti cantiknya ilang loh, terus kalo tertangkap media gua yang susah."


   "kenapa lo yang susah?"


   Pletak!


    Satu jitakan mendarat di jepala Ara.


"lo itu ya? Tadi lo sendiri yang ngomong kalo kita harus jaga jaga dari media karena kita akan selalu di awasi. Misalkan ga Ara yang cantik lo keliatan sembap gara gara kebanyakan nangis, otomatis gua juga yang kena sirotan media, nanti di bilang gak becus ngurusin lo lah yang gini lah, pegawai yang tidak bisa apa apa yang ini lah. Susah jadinya."


   "utututuuu... Sekretarisku lagi mikir konsekuensinya, pinter banget sih."


Ruangan itu di dominasi oleh tawa renyah mereka, yang tidak akan di dengar oleh pegawai lainnya kecuali jika menguping.


   "Ok deh Rahma, sekarang lo pilih apartementnya." Ara menyodorkan beberapa katalog bangunan apartemen pada Rahma yang di terima dengan raut bingung di wajahnya.


   


   "Ra? Lo gila ya? Ini mahal banget!! Lagian gua cuma tinggal sendiri kan?!! Gak gak mau pokoknya gua mau apartement yang sederhana atau gua pulang sekarang juga, dan gua risign dari kantor lo." kata Rahma mengancam Ara, walaupun Rahma tidak benar benar mengatakan ingin risign, hal itu cukup bisa membuat Ara kelabakan dan segera mengganti dengan gambar apartemen yang sederhana.


    "jangan gitu dong ma, iya iya ini gua cariin yang sederhana. Gua itu cuma mau buat lo nyaman aja di Amerika, gua kira lo bakal nyaman kalo hidup mewah di sini."


    "Gua nyaman tuh kalo misal gua selalu ada buat sahabat gua, dan sahabat gua tetep selalu setia, gitu aja gua udah nyaman banget kok , apalagi di NYC bareng sahabat, bahagia banget gua, jadi sekretaris boss lagi. Lo jangan pernah mikir gitu lagi ya Ra? Gua tetep mau hidup sederhana dan gak ngerepotin lo walaupun lo juga gak merasa din repotin karena uang lo tuh udah banyak banget gak bakal habis." panjang lebar Rahma menjelaskannya pada Ara, hingga akhirnya mereka menjatuhkan pilihan pada salah satu apartemen yang sederhana tetapi elegant, dan tak jauh dari Maison Ara.


    Setelah urusan tempat tinggal selesai, mereka segera berkutat dengan pekerjaan yang telah menanti mereka hingga jam kerja berakhir.


    Seperti biasa saat pulang jerja pun Ara tetap cantik dan sedikit dingin, ah.. Salah bukan lagi sedikit tapi sangat dingin. Walaupun sebenarnya Ara sangatlah hangat, sebenarnya Rahma juga tau apa yang menyebabkan Ara berubah. Beberapa masalah keluarga memang sedikit banyak bisa merubah seseorang.


     "Rahma.. Apa jadwal saya untuk hari ini?" dengan wajah datarnya seperti biasa, yang membuat semua orang pasti tidak percaya jika mereka bersahabat, karena biasanya jika sahabat pasti akan memberikan pekerjaan lebih dari orang biasanya, tetapi hal itu tidak berlaku pada Rahma pekerjaannya sangatlah banyak dan melelahkan.


   "pukul 10 akan di adakan rapat dengan perusahaan johanson's group di kantor pimpinannya. Anda akan berhadapan langsung dengan pemegang saham."


   "Baiklah... Akan ku pastikan mereka menandatangani kontrak dengan perusahaan kita. Kamu boleh kembali dan lanjutkan pekerjaanmu."


  "siap miss, terimakasih."


  "mss.bryan apakah anda akan mengajak saya untuk mengikuti ralat ini?"


  "Rahma  panggil saya mss.Kylie atau mss.Kyl."


  


  "Maaf kan saya miss."


  "ya, tolong jangan di ulangi lagi.""Dan untuk rapat, saya tau pekerjaan kamu sangat banyak. Jadi kamu tidak perlu ikut dan selesaikan saja pekerjaanmu."


  "Baik mss.Kyle terimakasih."


Rahma segera memberi hormat dan meninggalkan ruangan itu.


   Selepas kepergian Rahma dari ruangannya gadis yang menjadi pimpinan lerusahan itu mempelajari berkas berkas yang akan ia presentasikan, agar klien bisa percaya dan menyetujui perjanjian kontrak dengan perusahaannya.

__ADS_1


    Ara melirik jam tangan berlian yang bertengger di pergelangannya telah menunjukkan pukul setengah sepuluh.


    Dengan segera Ara bangjit dari kursi kebesarannya dan melenggangkan kaki jenjangnya keluar untuk pergi ke salah satu gedung termewah di New York.


     Gedung pimpinan johanson's group memang sangatlah indah, Ara cukup berharap dia bisa bekerja sama dengan perusahaan ini.


     Setelah masuk menemui recepsionis, sekretaris pimpinan yang sedarin tadi menunggu jedatangan Ara menunjukkan ruangan yang akan di jadikan tempatnya untuk meeting.


    Di perusahaan itu tetap saja Ara sangat dingin, bahkan ia tidak menurunkan kepalanya dan terus melangkahkan kakinya dengan lebar tanpa mengindahkan pasang mata yang mengintimidasi  dan tatapan lapar dari karyawan pria yang ada di sana.


    Dengan berkharisma Ara mempresentasikan untuk meyakinkan kliennya, hingga di saat saat terakhir akhirnya kertas kontrak di tandatangani, yang membuat senyum mengembang di bibirnya tanda kepuasan.


    "Selamat bekerjasama dengan johanson's group mss.Kyle." Pria paruh baya tersebut menyalami Ara yang telah menyelesaikan presentasinya dengan sangat memukau.


    "Terimakasih mr. Johanson saya berharap kerjasama ini akan membuahkan hasil yang sangat menguntungkan bagi kedua pihak."


    "mss. Kyle apakah anda berkenan untuk makan malam dengan keluarga saya?"


    "tentu mr, saya akan menghadirinya."dengan senyum hangat yang hanya di tunjukkan oleh orang orang tertentu, dan entah mengapa Ara merasa ludwick johanson adalah pria yang baik


    "Baiklah, saya bersama keluarga akan menunggu di masion saya pukul tujuh malam."


    "jika begitu saya permisi mr. Johanson."


    


    Pria yang telah berumur 50 tahunan itu merasa di balik sikap dingin Ara terdapat kehangatan yang sengaja di kubur.


    Entahlah ludwick sudah menganggap Ara seperti putrinya sendiri, walaupun ini pertama kalinya mereka bertemu.


    Dengan senyum mengembang ludwick melihat isi pesan dari istrinya, ia pun segera pulang ke rumah untuk menemui putranya yang baru saja datang dari indonesia untuk mengolah bisnisnya.


     Dilain tempat Ara terlihat sangat serius menyelesaikan pekerjaannya, ia menginginkan yang terbaik dari yang baik. Itulah yang menyebabkan bisnisnya melesat hingga seperti sekarang.


    Pukul 5 sore, Rahma menghampiri Ara yang tetap saja berkutat dengan berkas berkas dan layar komputernya. Ia pun hanya geleng geleng kepala melihat temannya yang begitu kompeten dengan pekerjaan.


    "Mss. Kyle pekerjaan saya untuk hari ini telah selesai, jadi saya permisi dahulu."


    "Oke Rahma sekretarisku sudah pergi sekarang tinggallah Rahma sahabatku." berjalan ke arah rahma dan merangkul pundaknya, yang membuat mereka berdua tertawa lepas untuk pertama kali, pada hari ini.


   "Ra... Lo sibuk gak?"


   "yang tau jadwal gua itu lo bukan gua." Ara mengatakannya sambil mencubit pelan pipi Rahma, sedangkan yang di cubit hanya diam melongo.


    "iya juga ya, ok fix jadi sekarang lo gak sibuk. Udah semuakan pekerjaan lo hari ini, gua lihat tadi kayaknya lo sibuk banget deh?"


    "gak kok, itu tadi pekerjaan buat besok."


    "Ra lo bisa ngabterin gua ke mall gak? Gua mau belanja bahan dapur nih, masa iya gua mau makan di luar terus, boros kali."


    "Oke langsung aja sekarang kita berangkat, kalo nunggu nanti malem gua gak bisa, tadi di ajak makan malam di masionnya pemegang saham johanson's group."


    "ya udah let's go my boss."

__ADS_1


Kata itu di sambut dengat tawa dari keduanya, tetapi tawa mereka terhebti saat keluar dari pintu ruangan Ara, bagaimana tidak jika Ara langsung berubah sangat dingin. Rahma yang sudah fahan pun memakluminya.


     Ara tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya, entah apa sesuatu yang akan terjadi di kediaman Johanson family, Ara tidak bisa menerka itu, dan tidak menyadarinya.


__ADS_2