
Ara sang presiden direktur melangkah memasuki mansion yang sangat luas, bahkan melebihi mansion miliknya.
Rumah itu terlihat menenangkan, dan teduh. Ara menebak pasti akan sangat nyaman dan damai berada di rumah ini.
Dengan senyum yang mengembang, ia melenggangkan masuk pintu utama, yang di antar oleh seorang pelayan untuk langsung ke meja makan karena mr. Johanson telah menunggu.
Malam ini Ara sangatlah cantik dan anggun, dengan dress navynya yang sepanjang lutut, memiliki potongan yang membuat bahunya sedikit terekspos sangat pas dan cocok berada di tubuhnya, apalagi kulitnya yang putih bersih membuatnya
Semakin bersinar, di tambah high heels setinggi 10cm membuatnya semakin berkelas.
Cantik... Manis... Sexy... Tetapi tetap sopan dan anggun Itulah kesannya, dengan rambut yang tersanggul rapi, hanya menyisahkan sehelai rambut di depan semakin menambah nilai pluss pada diri Ara

Saat memasuki ruang makan, Ara mendapati mr. Johanson telah tersenyum menyambutnya, tetapi ada seorang pria yang tidak di kenal sedang duduk membelakanginya.
"selamat malam mr, maafkan saya jika anda telah menunggu lama."
"don't worry mss. Kyle, silahkan duduk."
Istri dari mr. Johanson yang bernama lestari keturunan indonesia, dia juga tersenyum serta menyalami tamunya malam ini.
Tetapi ada yang aneh, Ara tidak mengerti siapa yang duduk membelakanginya, dan tidak memberikan salam padanya.
"humm mss. Kylie, bolehkah kami memanggil anda hanya dengan nama depan saja? Karena saya rasa di sini kita keluarga, dan tidak perlu bersikap formal."
Tutur mrs. Johanson atau lestari.
"Baiklah, anda bisa memanggil saya Ara."
Deg..
Dengan cepat pria yang membelakangi Ara membalikkan badannya.
Seketika tatapan mereka bertemu, dan Ara langsung di buat lemas dengan hal itu.
__ADS_1
"Ara? Kamua benar Ara kan?"Bertubi tubi kalimat itu di lancarkan dalam hati, seolah olah dia menemukan sesuatu yang sangat berharga di dunia ini.
"wil..." dengan berbisik yang hanya di dengar oleh dirinya sendiri.
Tenggorokan Ara serasa tercekat mengucap nama itu, ingin sekali rasanya dia berlari pergi, tapi tubuhnya tidak merespon pikirannya dan malah membuat Ara terpaku di tempat.
Dengan kaku Ara menduduki kursi yang sudah di sediakan, dan menghiraukan perasaan yang berkecamuk di hatinya.
Tidak tidak... Aku tidak boleh jatuh cinta lagi, kenapa dia selalu menghilang lalu tiba tiba muncul dan akan meninggalkanku lagi, ini sudah kejadian yang keberapa kalinyaa, aku sudah lelah dengan ini.
Pikirannya berkata seperti itu, tetapi hatinya berkata lain. Hatinya tetap milik Will, meski sebelumnya lernah terbagi dengan kedatangan Alex.
Seketika keadaan menjadi sangat canggung, percakapan di dominasi oleh mr. Johanson dan istrinya, sedangkan Ara dan Will hanya menjawab pertanyaan yang di lontarkan keduanya.
Selesainya, Ara segera pamit untuk pulang, Johanson's family mengantarkannya sampai pintu utama mansion.
Ara yang pada malam itu di antar oleh sopir, meminta di turunkan di sebuah rumah ice cream, dan meninggalkan Ara untuk sendiri.
Lama sekali Ara berada di dalam sana, hingga pemilik toko itu memberitahu jika toko akan segera tutup.
Keluar dari sana, Ara kembali tidak langsung pulang, melainkan berhenti di sebuah taman.
Taman itu begitu indah, di tengahnya terdapat sebuah danau kecil, yang menenangkan.
Di situ lah Ara terdiam, memandang air yang tenang, pupilnya yang indah telah menatap kosong ke dalam suasana.
Tak jauh dari tempat ia berdiri, terdapat sebuah bangku taman.
Ara menghampiri benda itu, dan berakhir dengan ia duduk di situ.
"Aku ingin menemukan cinta yang baru, bukan cinta dari masalalu."
"huh.." dengan senyum miringnya dua berkata sendiri, dan terlihat sangat kacau untuk hari ini.
"Aku pergi karena ingin meninggalkan luka, tapi kenapa sekarang luka itu menghampiriku, berapa banyak lagi sakit yang akan aku rasakan kembali?"
__ADS_1
Tanpa sadar dan tanpa perintah, bukir bening mulai membasahi pipinya, membuat keadaannya semakin hancur kala itu.
Tangisnya semakin pecah membuat malam ikut bersedih. Bulan pun menutup diri.
Selang beberapa waktu dia menangis, Ara di kejutkan oleh sebuah ice cream di hadapannya.
Sebuah tangan yang manis, telah menyodorkan ice cream vanilla kesukaannya.
Ara hanya menatap tangan itu tanpa berkata apa apa, hatinya telah kalut.
Saat Ara mendongak, sahabatnya lah yang berdiri di sana. Rahma langsung ikut duduk di samping Ara dan memberikan pelukan pada sahabat terbaiknya.
Ara yang melihat itu, langsung menangis di bahu sahabatnya.
Mata cantiknya terlihat berair dan buliran cristal bening itu tak berhenti menetes.
Segera Rahma menuntun sahabatnya untuk pulang, karena udara semakin dingin, dan Ara hanya memakai dress selutut.
000
Selang dua hari Ara tidak hadir, pagi ini dia memasuki kantor dengan sangat anggun dan dingin seperti biasa.
langkah kaki jenjangnya selalu membuat seseorang tertunduk hormat, dan segan.
Para karyawan sepanjang jalan menyapanya, tetapi seperti biasa, tidak ada yang di balas.
Sedangkan dari kejauhan terdapat seseorang yang telah memperhatikannya, seorang pria yang menjadi salah satu alasan Ara untuk pergi ke NYC.
"humm... Aku suka gayamu, dingin.. Tapi anggun, dan aku suka . Lihat saja sebentar lagi.. Apa yang akan terjadi."
Senyum devil terpancar jelas pada raut mukanya.
__ADS_1