CERPEN ( CERITA PENDEK) Kisah Buruh Migran Indonesia Di Taiwan

CERPEN ( CERITA PENDEK) Kisah Buruh Migran Indonesia Di Taiwan
BUNGA MIMPI LURUH DI FORMOSA part 1


__ADS_3

Kutepuk-tepuk pipiku mencoba meyakinkan diri apakah yang barusan ku saksikan hanya mimpi ataukah kenyataan. sungguh, aku masih tak percaya. peristiwa yang tak sengaja kulihat saat hendak menghantar beberapa buku dan majalah bekas yang sudah selesai di baca, senantiasa mengusikku. kurang lebih satu meter dari depan pintu rumah utama, kudengar suara seseorang berteriak histeris


"jangan.... jangan... jangan..! "


kutajamkan pendengaran ku berusaha menangkap suara itu. suara siapa dan dari mana asalnya. Langkahku cepat cepat menuju pintu utama rumah. di depan pintu, kakiku malah bergetar dan terhenti. perasaan ragu kian menyelimuti. aku harus melanjutkan langkah untuk memasuki rumah itu, ataukah harus memastikan lagi apa yang terjadi. akhrinya aku berlari ke arah jendela kamar, tempat yang kurasa lebih aman untuk bersembunyi dan bisa melihat lebih jelas apa yang terjadi. tiba - tiba terdengar suara seorang laki-laki.

__ADS_1


" hahaha... ternyata kamu masih perawan. "


suara laki-laki tak ku kenal itu berbahasa Mandarin, bagai petir di siang bolong mengejutkan ku. kakiku bergetar, aku membisu. hah! lemas seluruh tubuhku.


Dari celah-celah jendela kulihat seorang laki-laki berbadan tegap, berjalan setengah sempoyongan keluar dari balik kamar kecil itu dengan pakaian berantakan. aku sulit mempercayai semua ini. ah... andai saja aku tak menyaksikan sendiri. sejenak aku terdiam, tak tahu mesti berbuat apa. melangkah masuk atau pulang, seolah tidak tahu apa-apa? Lama aku terduduk lemas. selang beberapa waktu baru aku mampu menguasai diri, lalu perlahan menggerakkan kaki. di depan pintu aku memanggil-manggil, "ayu... ada di rumah nggak? " aku harus berpura-pura tak tahu apa yang telah terjadi, meski nuraniku seakan terhujam saat kulihat sembab di mata ayu. aku kehilangan jejak cahaya kebahagiaan yang biasa aku lihat dari bening kejora matanya.

__ADS_1


*****


******


Selama di PJTKI kurang lebih dua bulan, ayu mendapat pembinaan dan pelatihan seadanya. baru sedikit yang di pelajarinya namun dia sudah mendapatkan pekerjaan dan segera di berangkatkan ke Taiwan. dengan satu kata " Bismillah, " antara takut dan nekad ayu melangkah ke Taiwan, yang juga dikenal dengan nama Formosa.

__ADS_1


Taiwan adalah sebuah negeri yang adat istiadat, budaya, bahasa, dan makanannya sama sekali berbeda dari Indonesia. namun demi uang, demi perubahan hidup, semua mesti dilewati. ayu tahu harus ada pengorbanan, dan satu-satunya cara adalah pergi ke negeri mimpi. di tanah kelahiran nya mencari lapangan kerja serupa mencari jarum dalam jerami. kalaupun ada, jauh dari rumah dengan gaji hanya cukup untuk transportasi dan makan. setelah keluarga berembuk, terpaksa mereka menjaminkan harta paling berharga yang mereka punya, tanah dan rumah yang di tinggali sejak ayu masih berumur tujuh tahun.


Sebelumnya, mereka sekeluarga menumpang di rumah nenek dari pihak ibu. tanah dan rumah di gadaikan pada pak madi, seorang rentenir kaya di kota metafora. penduduk yang mengalami kesulitan keuangan biasa mendatangi rumahnya. uang pinjaman itu untuk membayar separuh biaya pemberangkatan, separuhnya lagi diangsur dengan sistem potong gaji. berarti setiap bulan ayu harus membayar uang pinjaman dan juga mengalami pemotongan gaji selama setahun. memang berat, tetapi hanya itu satu-satunya cara memperoleh uang. dengan penuh pengharapan akan kehidupan yang lebih baik, tekadnya bulat, siap menelan oahit getirnya dan segala cobaan di tanah rantau..


__ADS_2