
Teringat saat Han Du menyelesaikan lukisan wajahku untuk kesekian kali, pernah sambil bercanda dia berkata, " Wa, cok ka'i li e se lui e mak ciu, li e gan sing cetiam ah u sing A Hua,"
( aku mengagumi mata sipitmu dan alis yang melengkung indah bagai goresan pelangi yang menghiasi langit. matamu memiliki daya tarik tersendiri, dan seiklas caramu menatap mirip tatapan A Hua.)
Saat itu, hatinya tiba-tiba berbunga mekar, terlihat dari senyumnya, namun hanya sejenak lalu wajahnya kembali sendu. ada rasa cemburu menyelinap di hatiku. andai bisa, ingin sekali aku menggantikan kedudukan gadis itu. Ah, semakin ingin melupakan mu, mengapa semua kenangan dan kebersamaan kita kian berputar jelas di Kepala ku?
******
waktu terus berjalan. ada kalanya aku mulai terbiasa. Namun saat aku sendiri, aku selalu mengingat Han Du. kerinduan sering datang tiba-tiba, seakan mengantarkan sunyi paling menyakitkan dalam hatiku. ups, aku teringat sesuatu. aku segara, mengenakan jaket untuk melindungi kulit dari sengatan matahari yang tak bersahabat. ku starter motor adikku setelah mengetahui hari ini dia tak kemana-mana. aku menuju warnet.
Di warnet, aku buka Facebook. ku ubah nama samaran, Gadis borneo, menjadi nama asliku, Lim Sui Lan. aku cek inbox, begitu banyak inbox masuk, namun tak ada satu pun dari Han Du. aku ke Facebook Han Du, aktif. dia masih rutin menulis. Membaca tulisannya melalui terjemahan google translate, masih saja terasa nuansa kerinduan. Ternyata, dia tak dapat menghapus A Hua. meski begitu, aku tetap meninggalkan tanda jempol di semua catatannya.
__ADS_1
Lalu aku sempat membaca tulisannya yang berjudul" Gadis dalam mimpi"
***kuingin engkau datang
meskipun hanya serupa angin
atau bayangan
dan kerinduan terperi
sanggupkah mengantar debar
__ADS_1
ke ujung lautan. untuk mu gadis dalam mimpiku.
Siapakah gadis yang engkau maksud? A Hua atau siapa? Entahlah, semoga kelak waktu mengirimkan jawabannya. kusapa Han Du di inbox sekedar menanyakan kabar, tak berapa lama dia membalas dengan kalimat( aku kangen kamu) dan aku kebingungan untuk menjawabnya. mungkin dia tak sadar mengucap kalimat itu, ataukah hanya sekedar kerinduan pada seorang sahabat. tapi aku tak peduli, aku bahagia karena tahu dia merindukan ku***.
sejak saat itu, Han Du selalu menelpon dan memintaku untuk mengambil kursus bahasa Mandarin agar memudahkan komunikasi, dia juga yang menanggung semua biaya kursusku.
tak terasa waktu berjalan sangat cepat. setengah tahun aku mulai menguasai bahasa Mandarin. sedikit demi sedikit aku bisa membaca dan menulis, meski tak jarang ada satu dua huruf yang salah, namun Han Du bisa mengerti apa yang ku maksud.
Pernah suatu ketika, aku membaca cerita yang dia tulis di Facebook, dan tulisan itu mendapat banyak komentar dari sahabat-sahabatnya. kisah tentang seorang laki-laki yang mencintai seorang. perempuan, namun karena cacat fisik( dia tak menyebutkan cacat kaki) membuat laki-laki itu mengurungkan niat untuk mengutarakan pada si perempuan karena dia merasa taj akan dapat membahagiakan gadis yang di cintai nya lahir batin. itulah tulisan terakhir yang kubaca di catatan Facebook nya. sejak itu dia tak pernah lagi menulis, sekedar mengirim pesan pada inbox ku pun tak pernah.
Hampir setahun tak ada berita, kupikir Han Du benar-benar menghindari ku. Aku coba membuka hati pada laki-laki lain, hingga aku menjadi pacar ivan. namun, karena hatiku sudah terlanjur mecintai Han Du, sulit sekali untuk bisa mencintai Ivan. akhirnya kami putus dan ivan pergi dengan prasaan marah.
__ADS_1
" Aku benci kau! kau mempermainkan ku! " teriak ivan saat aku meminta mengakhiri hubungan dan berteman saja seperti sebelumnya. Ah, hatiku pun tak bisa menerima kehadiran laki-laki lain begitu saja.