CERPEN ( CERITA PENDEK) Kisah Buruh Migran Indonesia Di Taiwan

CERPEN ( CERITA PENDEK) Kisah Buruh Migran Indonesia Di Taiwan
Di BALIK SELEMBAR MIMPI PART 2


__ADS_3

***Ah!!! Suara itu kembali mengangguku. Aku merinding, bulu kuduk ku berdiri. Tiba-tiba kulihat seorang bocah perempuan tersenyum menatapku. Aku benar-benar terperanjat. Bibirku gemetar dan kakiku dingin. cepat-cepat kutarik selimut. Dari kepala sampai ujung kaki kini berlindung di balik selimut.


" Hallo, apa kabar? " sapa bocah itu ramah.



Hah? Kok bocah ini bisa berbahasa Indonesia pikirku kaget.



" Aku ingin kita bisa menjadi sahabat, " lanjut bocah yang kini sudah berada di pinggir ranjang tempat ku tidur.



Jangan ganggu aku! Aku ingin berkata begitu. Namun entah kenapa suaraku seakan tak bjsa keluar dari kerongkongan.



" Tenang saja, Aku tak mengganggumu, " jawab anak itu.



Kalau begitu pergilah! jangan ke sini! Pikirku, Sambil berusaha mengeluarkan suara yang sedari tadi tercekat di tenggorokan. meski sudah berteriak, tetap saja tak ada suara yang keluar. Namun aneh, bocah itu seakan bisa mendengar nya.



" Mau pergi kemana? Aku tak punya tempat lain. Tempatku hanya dsini, " jelasnya



" Apa? tidaaaaaakkkk" teriakku.

__ADS_1



Tiba-tiba pintu kamar ku di ketuk keras oleh Akong dan Ama


" Nini, Nini! " Suara Akong dan Ama mengejutkan ku


Aku cepat-cepat bangun dan membuka pintu.


" Akong, Ama, pai se wa co mang( maaf sya tadi mimpi), " Jawabku malu. Aku tak mungkin menceritakan mimipiku tadi karena bahasa Taiyu ku masih belum terlalu fasih.



" Hao, khin kun. May kia, may kia! ( baiklah cobalah tidur lagi. Jangan takut, Jangan takut.) " Ujar Ama seraya menyelimuti tubuhku.


Ingin rasanya menahan Ama unt tidur bersamaku di kamar ini, tapi aku malu mengatakan nya.


" Ya Allah, Jauhkanlah aku daeu mimpi buruk. "



Baru saja mataku terpejam bocah itu kembali melompat lalu duduk di sebelah ku.


" Boleh aku memanggil mu Li ( bibi) ingin rasanya aku berteriak lagi, karena yakin di rumah ini tak mungkin ada bocah kecil ini.


"Tak perlu takut. aku tak akan menggangu mu. Aku hanya saja kesepian dan sedih. Aku sendirian jelasnya.


" Kok sedih? " tanyaku berusaha memberanikan diri.



"Wajahmu mengingatkan ku pada mamaku warna kulit kalian sama. Matamu yang bulat juga sama. Dia mengeluarkan aku dengan paksa dari rahimnya mengunakan ramuan cina, " paparnya.

__ADS_1



"Tapi aku bukan mama mu. Aku tak mengenalmu, " kata ku.



" Apa kamu mau bersahabat denganku,? Aku tahu kau juga kesepian. Kau merindukan anak-anakmu yang jauh dsana. Kita bisa saling berbagi kesedihan, " ajaknya.


" Kamu masih kecil kok sudah pintar bicara tanyaku penasaran.


"Umurku sudah 16 tahun, " jelasnya.


" Kok, kecil begitu? " meluncur saja kalimat yang menggambarkan keheranan ku.



" Boleh aku tidur di sebelah mu? " tanyanya tiba-tiba tanpa menghiraukan pertanyaan ku.



" Tidaaakk! " teriakku.


Akhirnya aku terbangun. Kuusap mataku berkali-kali. kucari sosok tadi yang begitu jelas bicara denganku, Tapi tak kutemukan. " Syukurlah hanya mimpi.


Akhirnya aku kembali merebahkan diri di tempat tidur dan kembali memejamkan mata.



\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Pagi ini cuaca cerah sekali. Seperti minggu minggu yang lalu, Laupan ( panggilanku pada anak Akong dan Ama) dan istrinya akan datang menjenguk Akong dan Ama. senang rasanya melihat rasa bakti anak- anak orang Taiwan. mereka membawa banyak makanan sesuai pesanan Akong. Namun yang paling menyenangkan adalah ketika Laupan menyodorkan sebuah tabloid***.

__ADS_1


__ADS_2