CERPEN ( CERITA PENDEK) Kisah Buruh Migran Indonesia Di Taiwan

CERPEN ( CERITA PENDEK) Kisah Buruh Migran Indonesia Di Taiwan
DIMENSI HATI PART 2


__ADS_3

***Meski kami tak pernah berbincang, dia tak lagi marah-marah jika aku mengetuk pintu untuk mengantarkan makanan atau memeriksa kalau dia memerlukan sesuatu. Menjelang sore aku selalu menemaninya ke taman belakang rumah. disana, kami menunggu matahari yang perlahan-lahan tenggelam, dan di sana pula Han Du selalu melukis wajah seorang perempuan. Aku menduga itu pasti mendiang pacarnya, karena dapat kutangkap rasa rundu dan mendung di matanya.


Sore itu aku kaget saat tiba-tiba dia menyodorkan hasil lukisannya. " Li kuak! Li u kai ma? " ( coba lihat apa kamu menyukainya?). Oh, ternyata dia melukis wajahku. aku tak terlalu fasih bahasa Taiyu dan aku terlalu kaget sehingga bibirku sulit untuk terbuka.


" Wa? " ( saya?)


Hanya satu kata itu yang keluar. kuucapkan seraya menempelkan telunjuk ke dada dan sedikit mrngenyitkan kening. Dia menganggukkan kepala sedikit tersenyum. senyumnya tipis.


" Ya tuhan, baru kali ini aku mrlihat senyum dari bibirnya", gumamku dalam hati.

__ADS_1


Semenjak melukis wajahku, Han Du mulai mau bicara dan ngbrol denganku. Bahkan dia menceritakan banyak hal tentang pacarnya. Giok Hua, perempuan yang dikenal Han Du di sebuah tempat karaoke, bekerja sebagai gadis penuang bir untuk tamu demi membiayai perawatan adik semata wayangnya. keinginan Han Du untuk menikahi Giok Hua di tentang keras oleh kedua orangtua Han Du yang termasuk keluarga terpandang di Taiwan.



" Beh li kheng, di te ui wa min, li be kak pu sam pu su ca bo hi le ke hun? " ( mau kamu taruh dimana muka papa kalau kamu menikahi perempuan nakal itu?), tolak orangtuanya.



Demi menjaga keamanan A Hua, panggilan akrab pacarnya, Han Du setuju untuk tidak menemuinya lagi. Han Du tahu, apa pun dapat dilakukan orangtuanya. Baru tahu orangtuanya pergi ke luar kota atau mengikuti tur ke luar negeri, Han Du berani menemui kekasihnya.

__ADS_1


Malam itu, nasib naas menimpa mereka berdua sewaktu menuju Taipei. Orangtua Han Du tengah mengikuti tur keliling china. Han Du bercerita, di tengah suasana kerinduan yang begitu dalam, mereka sangat menikmati detik demi detik di malam itu. Selain perayaan akhir tahun, hari itu juga adalah ulang tahun A Hua. tak di sangka itulah pertemuan terakhir mereka, saat paling berkesan sekaligus memutus nadi bahagianya.


\*\*\*\*\*\*\*\*


Entah mengapa, Tiba-tiba Han Du tak mau lagi bicara padaku. Aku sama sekali tak tahu alasannya, apakah aku telah salah bicara atau telah melakukan sesuatu yang tak disukainya. Bahkan aku, tak boleh masuk ke kamarnya lagi. aku menarik nafas panjang, " Nasib orang tak punya, segala sesuatu harus menuruti keinginan mereka, " dengusku kesal.


Kurang lebih seminggu setelah melakukan aksi diam, tiba-tiba Han Du memberi ku sebuah ponsel, lalu dia juga mengajariku cara menggunakan nya. " Edan!, " runtukku dalam bahasa indonesia. " kayak cuaca aja, selagi baik ya baik, selagi tak mau bicara, bisa diam berminggu-minggu. "


" Li kong sa mi? " ( kamu ngomong apa?) tanyanya penasaran karena tak paham apa yang kuucapkan barusan.

__ADS_1


" Hehehe... " aku nyengir sambil menggelengkan kepala***.


__ADS_2