CERPEN ( CERITA PENDEK) Kisah Buruh Migran Indonesia Di Taiwan

CERPEN ( CERITA PENDEK) Kisah Buruh Migran Indonesia Di Taiwan
BUNGA MIMPI LURUH DI FORMOSA part 3


__ADS_3

" Maaf pak, ada apa ya? tanyaku dalam bahasa Mandarin patah-patah karena sehari hari aku lebih fasih menggunakan bahasa taiyu ( bahasa hokkien yang lazim di pakai di Taiwan). belum sempat pertanyaan ku terjawab, aku makin terkejut melihat ayu keluar dari rumah dengan tangan di borgol. dia di temani seorang perempuan, mungkin wakil dari kantor agen PJTKI atau penerjemah, entahlah. aku tak yakin siapa sebenarnya perempuan itu, di sebelahnya polisi mengawalnya. aku mendekati polisi tadi dan bertanya ada apa.


" Dia membunuh sopir, " jelas polisi itu.


" Hah! "


Aku jadi teringat laki-laki yang beberapa bulan lalu keluar tergesa-gesa dari pintu utama entah sudah berapa kali ayu jadi korban nafsu bejatnya. Ya tuhan, tak pernah kuduga, ayu tertimpa nasib seperti ini sehingga dia kehilangan pikiran sehat dan berbuat nekad.


salahkah aku yang tak menemani ayu saat jiwanya terguncang? kenapa aku malah sibuk dengan rasa khawatir yang justru memperparah masalah? seharusnya aku menjadi tempat curhatnya, tempat bertanya, dan membantu menyelesaikan persoalan nya. setidaknya melapor ke polisi atau layanan 1955, sebuah pengaduan bebas pulsa untuk membantu mengatasi masalah BMI baik dengan pekerjaannya, majikan atau juga agency yang jahil. Namun aku malah membiarkan dirinya melewati badai seorang diri. keputusan gilanya justru mejadi petaka yang mengantarkan nya ke penjara. andai aku berani melaporkan semuanya ke Polisi, ayu pasti takkan melakukan kegilaan itu.


aku berlari ke arah ayu, kudekap dia meski di lepas paksa oleh polisi. aku minta waktu agar bisa bicara beberapa patah kaya kepada sahabat ku ini. " Ayu, maafkan aku tak bisa menjagamu. maafkan aku terlambat berbuat. maafkan... " uhar ku terputus menahan isak dan menarik napas.


Ayu diam. tatapannya kosong. air matanya terasa panas membasahi pundakku perlahan. semakin kudekap, rasa perih menghantam dadaku.

__ADS_1


" Sabar, Yu. dekatkan dirimu pada Tuhan, minta petunjuknya. semoga hukumanmu di peringan. " Aku berusaha menguatkan nya.


polisi memberitahu bahwa Ayu akan segera di bawa ke rumah tahanan sanchia sambil menunggu proses hukum selanjutnya. mobil polisi perlahan bergerak, suara sirine meraung-raung. Aku masih berdiri terpaku berurai air mata dengan perasaan bersalah. hingga saat ini, dalam keadaan segenting ini aku masih taj mampu berbuat apa-apa untuk menolong Ayu lemas sekujur tubuhku. seraya berjalan pulang aku masih tak percaya dengan semua yang telah terjadi.


" Tuhan mudahkanlah jalannya. " hanya kalimat itu yang mampu terucap dari bibirku yang gemetar.


Dua minggu kemudian, aku menerima surat Ayu lewat kurir, setelah kantor agen menelpon sehari sebelumnya menanyakan alamatku:


\*\*\*\*\*\*\*\*


sungguh aku rindu untuk bisa berbagi cerita. Namun keadaan ku yang menunggu keputusan hukuman. Entahlah, kelak aku akan di pulangkan ke Indonesia atau tidak aku belum jelas. Aku taj bisa menemanimu. Aku paham kak Anya juga tak mungkin menjenguk ku karena jarak dan keterbatasan mu. sudah sejak lama aku ingin bercerita kepadamu, tapi aku tak sanggup. Aku malu dan takut. maka kutulis saja semua ini.


Sore sebelum kak anya datang ke rumahku beberapa waktu yang lalu, Aku.... di perkosa laki-laki bangsat itu. Dia memang sering main ke rumah. Dia selalu membelikan barang atsu kartu telepon seperti yang biasa dia lakukan untuk BMI penjaga Ama sebelum aku. meskipun sudah kutolak, tetap saja dia lakukan. sikapnya yang baik di depan bosku akhirnya membuat dia di percaya menjadi sopir yang mengantar aku dan Ama ke rimah sakit. hari itu dia datang dalam kondisi mabik, lalu dengan brutal membuka satu persatu pakaian ku. hari itu aku kehilangan kehormatan ku.

__ADS_1


Setelah kejadian itu, aku hamil. Namun saat kuceritakan padanya bahwa aku hamil, dia malah marah marah dan melarang aku memberi tau siapa pun. dia berjanji akan mencari cara membuang janin tak bersalah dari dalam perutku.


Suatu malam dia datang lagi. dari mulutnya tercium olehku aroma alkohol. dengan kasar dia mendorong ku masuk ke dalam kamar. aku tak punya tenaga untuk menolaknya. gunting ada di laci, cepat- cepat ku ambil, dan dengan mata terpejam ku gerakan berkali-kali ke arahnya. aku hanya ingin membela diri, tak ada maksud membunuhnya.


Maafkan Ayu sudah mebuatmu cemas, taj dapat menjaga diri, tak bisa jujur kepadamu meskipun kita belum lama kenal, bagiku kau adalah kakaku yang paling peduli. semiga di kehidupan mendatang, Ayu dapat membalas kebaikan mu. semoga hidupmu bahagia, kak.


Saat surat ini terbaca olehmu, mungkin Ayu sudah berada di dunia yang jauh lebih tenang tempat taman bunga seribu warna kebahagiaan trlah menanti Ayu datang. untuk kesekian kalinya maafkan kebodohan Ayu. maafkan Ayu, Kak.......


Salam sayang, Ayu*!


ingin rasanya berteriak sekeras-kerasnya menahan Ayu untuk mengurungkan kegilaannya yang kedua kali, tapi apa daya lemas seluruh tubuhku. hanya air mata yang bercucuran untuk duka yang tak terucap.


" Ayu.... aku bersalah. sekali lagi, maafkan aku yang tak dapat menjagamu........ "

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2