CERPEN ( CERITA PENDEK) Kisah Buruh Migran Indonesia Di Taiwan

CERPEN ( CERITA PENDEK) Kisah Buruh Migran Indonesia Di Taiwan
PILIHAN PART 3


__ADS_3

***Suatu hari Laupan Mengajakku bicara. Dia bertanya apa aku betah disini, adakah keluhan dan banyak lagi pertanyaan nya yang di utarakan nya. Semua kujawab, bahkan aku betah disini, hanya saja aku sering bosan karena kadang tak ada yang bisa kulakukan. Laupan tiba-tiba mengambil kunci dan menarik komputer yang di kamar anak nya ke ruang tamu.


" Pakailah, ting-ting juga ntah kapan pulang ke Taiwan! " ujarnya.


Dia memberi izin kepada ku untuk menggunakan komputer anak nya yang sudah lama tak tersentuh.


Awalnya Laupan mengajari ku cara membuka dan menutup saja. Setelah itu aku belajar sendiri. saat membaca tabloid ada iklan buku-buku belajar komputer mudah bagi pemula, aku memesan buku itu. ku bolak-balik kucoba dengan seksama seraya Memperaktekan nya tak berapa lama aku mulai bisa mengoperasikan benda ini. Semakin aku mengenalnya, aku semakin keasikan. aku sering larut di dunia hanya karena dengan membuka tirai jendela elektronik ini aku bisa bertemu banyak orang. Kapan saja. seolah-olah orang yang berada di dalamnya tak pernah tidur! benar-benar menakjubkan!


Mulai aku mengenal dunia Facebook, dunia menulis dan juga teman-teman BMI di Taiwan. dari yang tak kupahami menjadi kupahami. aku kadang sampai lupa waktu untuk masak atau memandikan Laupan yang( majikan perempuan) Kalau sudah di depan komputer. Yang paling fatal pernah Laupan Niang marah-marah karena aku kesiangan bangun. semua terjadi gara-gara malam itu aku larut di Facebook, hingga menjelang subuh baru tidur. Alhasil, saat aku mengantar Laupan niang terapi, aku ketiduran. Ah! benar-benar memalukan sampai perawat senyum- senyum melihat iler ku yang keluar saat tertidur sambil duduk di kursi.


Sepanjang perjalanan pulang Aku hanya diam. Aku bukan saja merasa bersalah, tapi juga menyesal karena tidak disiplin mengatur waktu ku untuk memain di depan komputer dan untuk berkerja. padahal aku sadar komputer hanya boleh aku gunakan mengisi waktu luang, Bukan menghabiskan sebagian besar waktu ku.


" Laupan niang, Duibuqi! ( nyonya maaf)! " ujarku setelah sampai rumah.


Sejak saat itu selang beberapa hari selam itu aku tak berani duduk di depan Komputer.


sampai beberapa sms menanyakan aku kenapa tak pernah muncul di Facebook. aku malu menjelaskan kenyataan yang sebenarnya.


" Maaf, aku beberapa hari ini sibuk. " balasku lewat sms ke beberapa teman yang menanyakan kabar ku.


Setelah keadaan mulai setabil, aku mulai berani membuka komputer. Dsini lah aku awal berkenalan dengan Wahyu, lelaki asal Indramayu. mamanya belastran jawa- belanda dan papanya orang jawa asli. itu menurut ceritanya. foto di Facebook nya hanya beberapa saja. beberapa kali aku memintanya mengupload foto baru, dia berdali kurang suka di foto. Namun karena prasaan cinta aku tak mencurigai apapun. Dia bukan saja tampan namun perhatian dan selalu membuat hatiku senang itu sudah cukup membuatku.

__ADS_1


Akhirnya aku dan wahyu resmi pacaran meski aku sadar, aku masih berstatus istri orang. namun jiwa ku yang kesepian dan mendambakan sebuah kasih sayang tak bisa menipis. segala kegembiraan yang tercura karena hadirnya wahyu. segala kebahagiaan benar-benar mekar setelah kehadiran wahyu. dan Entah bagaimana aku sangat mempercayai nya bahkan aku juga saat dia berjanji akan menikahi ku. setelah masa kontrak ku selsai hingga semua gaji ku kini aku tranfer ke nomor rekening nya. ku Pikir, di tempat wahyu akan lebih aman, Toh kelak dia akan jadi suamiku. selain itu aku juga sudah tabu bagaimana cinta wahyu kepada ku yang di buktikan dengan segala perhatian nya yang sederas hujan.


Tinggal berapa bulan masa kontrak ku selesai, kebahagiaan kini meluap di hatiku. Aku bisa bertemu dengan kekasih pujaan hatiku. terlebih saat orangtua ku saat mengatakan bahwa mereka tak akan melarang ku menentukan sendiri langkah hidup ku. Selama 3 tahun aku tak pernah kontak dengan mas sabri. namun dengan keluarga ku aku selalu memberi kabar pada mereka bagaimana pun aku kesalnya terhadap keputusan mereka dulu, tak mungkin ku pungkiri bahwa aku tetap sayang mereka. Karena mereka lah aku ada di bumi ini.


Saat membuka Facebook Aku kaget tak menemukan wahyu Cahyo. tak percaya, aku segera menelpon nya untuk menanyakan kenapa akun Facebook nya tak bisa aku lihat.


" Telepon yang anda tuju sedang berada berada di luar area. "


Ada puluhan kali aku menelpon nomor itu. Jawaban yang sama aku dapati. Begetar kakiku, aku menahan geram. Aku tersungkur menangisi kebodohan ku. Ternyata selama ini mencintai ku karena motif penipu berkedok cinta.


Yah. Tuhan aku tak berani menceritakan pada siapapun. Aku malu. dengan segala cerita yang membanggakan tentang wahyu hingga orang tua ku yakin dengan segala keputusan ku. aku malu untuk pulang, aku menangis dengan penyesalan yang dalam atas kecerobohan besar yang telah aku lakukan. terlebih jerih payah ku selama ini, di tangan wahyu.


" Oh tuhan kemana aku harus mencari nya dan meminta nya mengembalikan semua uang ku.? "


" Atie, masa kontrak mu hampir selesai. aku juga sudah terbiasa dengan kehadiran mu. aku ingin meminta mu melakukan sesuatu, aku tak memaksa mu." Dia menghentikan pembicaraan nya. Aku terperangah.


" Apa yang bisa aku lakukan Laupan Niang? "


tanyaku penasaran.


" Suamiku baik. namun sebagian istri kamu tahu sendiri, aku tak bisa melakukan kewajiban ku. aku ingin menikah dengan suamiku. " ujarnya dengan nada berat.

__ADS_1


" Tapi... " ujar ku bingung.


" Aku tahu ini bukan sebuah permintaan yang mudah tapi tolong pikirkan lah. " pintas nya.


Aku hanya diam.


" Suamiku orangnya baik. dia bahkan tak pernah marah. Namun untuk menyetujui nya menikah dengan perempuan Taiwan aku tak mau. setelah lama aku pikirkan matang-matang, aku merasa kaulah yang paling cocok untuk nya.


" Oh tuhan, berilah hambamu petunjuk, supaya tak lagi salah membuat keputusan! "


doaku menembus malam.


*******


Dengan langkah pasti ku tarik koper ku memasuki bandara Taiwan. Ku peluk Laupan Niang yang sudah ku anggap seperti kakak ku sendiri. Di Iringi lambaian tangan Laupan dan Laupan Niang yang baik hati, aku melangkah setelah terdengar panggilan bagi para penumpang Eva air jurusan Indonesia untuk segera check-in. Seperti ada yang tertinggal ketika pesawat perlahan-lahan terbang. Separuh hatiku terlanjur mencintai negeri ini. mencintai ketulusan Laupan Niang dan juga rasa simpati pada Laupan.


" Semoga kelak aku kembali lagi, Entah datang senagai siapa. " Gumamku.


Biarlah waktu menemani Mencari jawaban karna aku tak ingin tergesa-gesa mengambil keputusan. kelak, hatiku akan paham meminang sebuah pilihan yang paling baik, tentu dengan ridho nya.


Cukup dekat hanya berjarak sekitar sejepa...

__ADS_1


BERSAMBUNG.......!!!!


__ADS_2