CERPEN ( CERITA PENDEK) Kisah Buruh Migran Indonesia Di Taiwan

CERPEN ( CERITA PENDEK) Kisah Buruh Migran Indonesia Di Taiwan
JEMBATAN TAKDIR PART 1


__ADS_3

***BMI, sebuah profesi yang mungkin bagi sebagian orang adalah profesi yang rendah. Itu pula yang sering aku hadapi. di anggap sebelah mata oleh sekelompok orang dengan sindiran-sindiran, bahkan oleh sahabat- sahabat yang sejak kecil. " Kalau mau jadi babu, Ya gak usah jauh- jauh ke luar negeri, Non!"



Hampir rata-rata, tujuan dari setiap BMI ( buruh Migran Indonesia ) keluar negari adalah untuk mendapatkan keadaan finansial yang lebih baik, perubahan keadaan yang dapat mengangkat mereka dan keluarga nya dari kembah kemiskinan, atau ada pula yang mencari pengalaman karena tak ada perkembangan selama berada di negeri sendiri. Bukan saja pekerjaan yang semakin sulit di dapatkan, Namun gaji yang minim dan kebutuhan yang makin hari makin naik serta hampir mencekik leher. sulit sakali mengharapkan perubahan, apalagi jika kita dari kalangan menengah kebawah. setiap kesuksesan tak hanya harus di imbangi dengan kemampuan, namun juga kesempatan. tapi, siapa yang bisa memberi kami kepercayaan dan bisa percaya bahwa kami juga bisa bekerja dengan prestasi yang baik?,


__ADS_1


Tatkala maju kemiskinan telah melekat di tubuh, lebih sering menampilkan bayangan siapa kami. Mereka sudah memiliki pemikiran mati, kalau orang miskin hanya akan menyusahkan. Sadis bukan? orang miskin bukan saja tak punya tempat, namun juga tak memiliki kesempatan. Tempat dan kesempatan hanya memiliki mereka yang pantas dan mampu membayar dengan penampilan. Padahal, belum tentu otak mereka lebih baik. Tetapi begitulah, penampilan luar mampu lebih cepat menghipnotis hati dan logika seseorang ketimbang isi keseluruhan dari yang di miliki seseorang seperti otak dan hati. bukankah itu semua butuh waktu bisa membuktikan nya. Namun sebelum bisa membuktikan apa-apa, mereka telah di singkirkan karena telah di anggap semak belukar yang menghalangi jalan.



Peluang tak kami dapatkan dari mereka yang harusnya bisa memberinya. Satu-satunya cara untuk melompati pagar kemiskinan menuju prubahan adalah memilih profesi sebagai BMI, yang lebih identik dengan sebutan babu.


__ADS_1



Ku ayunkan langkah pasti menuju Taiwan, setelah 3 bulan berada di PJTKI bogor. pihak agency mengatakan bahwa tugasku adalah menjaga seseorang nenek. Namun sampai di Taiwan ternyata tugasku meliput semua pekerjaan. Dari menjaga nenek yang ku panggil Ama, membersihkan rumah, memasak, membantu di perkebunan teh, membantu membersihkan kamar-kamar di penginapan, menjadi pelayan dadakan jika banyak tamu makan di restoran penginapan. menjaga Ama tugas utama yang di katakan kepada ku, akhirnya malah menjadi urutan yang paling belakang.



Ama yang aku jaga memiliki dua orang putra. yang satu memiliki bisnis di pasar, entah menjual apa aku tidak terlalu mengerti. Putra Ama yang lain membuka usaha penginapan di gukeng, juga memiliki perkebunan teh. sebulan sekali kakak beradik ini bergiliran mengurus dan memberi makan Ama. Lucu juga aku kalau melihat orang-orang Taiwan. Kalau di pikir berapa sih yang mampu di makan Ama, ibu mereka. kenapa mesti di perhitungkan sedemikian rumit. Apakah tidak kasihan melihat Ama mesti bolak-balik setiap bulan menyesuaikan keadaan. namun di Taiwan justru ini sudah menjadi kebiasaan mereka setiap anak mesti bergilir mengurus ibu mereka dengan membawanya pulang ke rumah mereka kalau mereka tak serumah dengan orang tua nya***.

__ADS_1


__ADS_2