
" ***Mas, aku minta izin merantau tiga tahun untuk membalas budi orangtuaku, setelah itu aku akan kembali, " aku memberi alasan untuk bisa keluar dari cengkraman nya karena aku tahu mas sabri pelit. selain itu, aku sama sekali tidak respek dengan segala yang dilakukan mas sabri. perlahan-lahan aku mulai membenci segala keegoisan nya. aku makin tak betah di rumah ini.
Awalnya dia marah dan melarang ku. namun aku desak terus. aku katakan padanya, kalau tak mengizinkan ku, aku akan minta cerai saja. melihat sikapku yang keras, dia dengan terpaksa mengizinkan ku.
__ADS_1
Aku menarik napas lega ketina bisa keluar dari rumah itu. aku menuju PJTKI di jakarta timur tempat aku akan belajar sebelum di berangkat kan ke Taiwan, negara yang kuanggap bisa memberi ku banyak pengalaman, dan setidaknya selama tiga tahun aku bksa menghindar dari mas sabri. Membayangkan saja sudah mengerikan, berasa dalam sebuah rumah tangga yang lelaki nya tak aku cintai, apalagi mesti menjadi istri muda. Ah, hidup kadang memang tak memberi pilihan karena di pagari rasa bakti dan aturan.
Sampailah aku di negeri empat musim, Taiwan. meskipun memiliki empat musim, si negeri ini tak ada salju kecuali di pegunungan, saat suhu tinggi dingin. Namun seperti di jepang, di Taiwan juga ada bunga sakura. semua keindahan itu tak bisa kunikmati meski aku telah lelah berada di negera ini. semua keindahan dan gambaran itu hanya aku ketahui dari tabloit langganan ku.
__ADS_1
Aku tak pernah mengira ternyata jumlah BMI dan pengantin asing Indonesia di Taiwan mencapai 175.000 jiwa. Wow! sebuah angka yang sangat besar. apakah dari separuh angka itu hidup bahagia? Entahlah! menurut ku media yang pernah kubaca, ada sekitar 11.000 orang BMI dengan status ilegal. timbul pertanyaan di kepala ku" Mengapa di negara yang hukumnya sangat ketat biaa terjadi hal seperti ini? "
Di Taiwan aku bekerja di daerah Douliu, Taiwan bagian selatan. Aku menjaga seorang ibu yang setengah lumpuh karena kecelakaan umurnya belum genap 40 tahun. Badannya kurus namun tempramen nya seperti cuaca. bisa sengat baik namun tak jarang meledak-ledak tanpa sebab. Aku berpikir mungkin kecelakaan itu menimbulkan trauma juga cacar fisik yang dia alami nya sehingga membuatnya minder.
__ADS_1
Aku mengikuti saja apa maunya. kalau dia lagi marah ya aku diam saja, anggap kedua telinga ku tong sampah tempat dia membuang uneg-unegnya. setelah bekerja dua tahun, lama-lama aku semakin mengerti tentang dia dan lebih memahami nya.
Suaminyaa, kupanggil Laupan, memiliki usaha pabrik plastik pembuat botol di daerah Huwei. sehari-hari Laupan cukup sibuk dengan usahanya. Laupan orangnya pendiam, bicara seperlunya saja. Tak pernah aku melihat dia bergurau atau tersenyum. Anaknya hanya satu, itu pun sekolah. Meski demikian, setiap hari dia selalu menelpon istrinya, menanyakan apakah istrinya sudah makan, apa ingin di bawakan makanan dari luar, atau memerlukan sesuatu. kadang salut juga dengan perhatian nya yang penuh kepada istrinya. Meski di rumah mereka lebih sedikit bicara namun segala tindakan aku bisa melihat, Laupan orangnya sangat baik pada keluarga***.
__ADS_1