
Aku begitu senang saat diberitahu tetangga ku bahwa orang yang biasa menjaga Ama berasal dari indonesia. ku hampirinya saat berada di taman. kami berkenalan. sejak itu aku dan ayu bersahabat. sering di waktu luang aku mencarinya atau di sore hari kami bertemu di taman. sejak saat itu kami sering berbagi kisah. ayu tak segan lagi bertanya atau minta tolong padaku untuk membeli bener kebutuhan karena keterbatasan untuk keluar rumah kesempatan nya keluar paling hanya ke rumah sakit membawa Ama melakukan pemeriksaan atau jalan jalab di taman tak jauh dari rumah.
jika ada sesuatu aku pun selalu ingin berbagi dengannya. aku sering menjenguknya, sekedar ingin tahu keadannya dengan membawakan beberapa bahan bacaan atau makanan ringan. aku dapat membayangkan, betapa sepinya dia. setiap sepetak rumah di temani televisi yang bahasanya sama sekali tak dimengerti.
Seminggu sekali majikannya bergiliran datang. Ama punya dua putra dan satu putri setahuku, kehidupan anak-anaknya cukup mapan. anaknya yang pertama di kaoshiung memiliki usaha yang bergerak di bidang seafood. yang kedua bekerja di sebuah perusahaan elektronik ternama di Taiwan, dan setiap hari raya imlek setidaknya mendapat uang angpau enam bulab gaji. anak perempuannya menikah dengan seorang polisi yang tempatnya agak jauh, tak jelas di daerah mana. anak perempuan ini jarang terlihat pulang untuk sekedar menjenguk ibunya, entah apa alasannya.
Aku pun tak segan mendatangi dan mengobrol dengan atu setiap aku memiki waktu luang. semua kulakukan kerena sejujurnya aku juga merasa kesepian di tanah rantau ini. kini anak anakku sudah besar. mereka sudah bersekolah. jika suami berkerja, aku sendirian fu rumah melakukan perkerjaan rumah. setelah itu bersantai, membuka komputer, menyapa sahabat sahabat di Facebook, menulis puisi atau cerita sederhana dengan kemampuan bahasa Indonesia yang terbatas karena sudah jarang di oakai dalam kehidupan sehari-hari. senang juga mendapatkan teman meski kami berbeda daerah. di sini jika bertemu orang Indonesia, serasa berjumpa saudara sendiri.
__ADS_1
*******
Aku masih terus saja mengingat kejadian sore itu. sudah beberapa bulan terjadi? kenapa ayu belum menceritakan nya padaku? aku tidak beranj menanyakan nya langsung, takut dia malu atau malah terluka kembali jika mengingat kejadian itu. ini juga yang membuatku lebih mengurangi kunjungan. bukan saja takut bertemu laki-laki yang taj ku kenal itu, namun juga bingung bagaimana menghadapi rasa penasaran ku. lebih lebih semua yang kulihat saat itu selalu menghantuiku. jangan jangan ayu hamil dan dalam kebingungan, atau dia berada dalam ancaman dan bahaya. entah berapa kali hal ini terjadi pada ayu. apakah laki-laki itu pernah datang lagi? siapakah laki-laki itu? aku baru sekali melihatnya. keluarga Ama? atau sopir yang biasa mengantar mereka ke rumah sakit untuk mengantar Ama fuchien?
" Jangan-jangan Ayu.... "
Duh! semakin banyak pertanyaan memenuhi kepalaku. aku berjalan mondar-mandir. apa aku harus pergi ke rumahnya dan menanyakan semua itu? tapi gimana caranya?
__ADS_1
" oh Tuhan, berilah aku petunjuk. "
akhirnya, keputusan untuk pergi menjumpainya. semoga ayu baik-baik saja, doaku dalam hati.
*******
Dari kejauhan aku terkesiap! sebuah mobil polisi berada persis di depan rumah tempat ayu tinggal. cepat cepat aku berlari mendekat. apa yang terjadi? pikirku bingung. dengan terengah-engah dan jantung berdebar debar ku hampiri pak polisi di sekitar kejadian.
__ADS_1