CERPEN ( CERITA PENDEK) Kisah Buruh Migran Indonesia Di Taiwan

CERPEN ( CERITA PENDEK) Kisah Buruh Migran Indonesia Di Taiwan
DIMENSI HATI PART 5


__ADS_3

" ***aku benci kau! kau mempermainkan ku! " teriak ivan saat aku memintanya mengakhiri hubungan dan berteman saja seperti sebelumnya. Ah tak bisa menerima kehadiran laki-laki lain begitu saja.


suatu hari ponselku berbunyi. saat kuangkat tak ada suara. panggilan terputus. sesaat kemudian, telepon ku berbunyi lagi namun saat ku angkat tetap tidak ada suara, hingga berkali-kali terjadi seperti itu. Aku merasa di permainkan hingga akhirnya untuk kesekian lagi ponselku berbunyi, langsung ku angkat dan aku langsung ngomel-ngomel karena kukira ivan sedang mempermainkan ku. namun betapa kagetnya aku, ternyata dari balik sana, suara Han Du yang terdengar. aku segera meminta maaf padanya. dia mengatakan bahwa dia merasa rindu luar biasa Han Du bercerita bahwa dia selama ini dia kabur dari rumah, itu terjadi saat dia memberitahu pada orangtuanya bahwa dia mencintai aku dan ingin menikahi ku, namun untuk kedua kalinya papanya menentangnya. tapi sekarang, papanya akhirnya menyetujui dan merestui jika dia ingin menikah dengan ku, Han Du pun telah kembali ke rumah.


" Ce ma wa pa pa boei wan tui, u ke ling pa pa siu wa lang bo hom pen. Bo cua Taiwan lang." ( sekarang mereka tak lagi melarang. mungkin kali ini papaku berpikir bahwa aku cacat, tak akan mudah mecari jodoh gadis Taiwan.) Han Du juga mengatakan andai aku dan keluargaku setuju, mereka akan datang ke indonesia untuk melamar ku.

__ADS_1


Kuceritakan kisahku bersama Han Du pada orangtuaku. Mama mengatakan, jika aku bahagia, dia tak melarang. namun tak sepakat dengan mamaku, papaku malah menolak. papa tak mau merestui, tak mengizinkan kau menikah dengan laki-laki cacat. sampai kupetik kalimat yang kubaca di internet. ku katakan pada papa, " pa, kira datang ke dunia untuk mencintai mereka yang tak sempurna dengan cara-cara yang sempurna, " dengan harapan hati papaku akan luluh.


" Pa, apakah jika orang yang cacat tak layak mendapatkan cinta yang tulus dari orang lain?"


" pilih kami atau dia? " kalimat pendek yang tercetus dari mulut papa hampir tak dapat kupercaya. tangisku rasanya mau meledak. aku terjepit, antara Han Du dan orangtuaku. apalagi selama ini aku tak pernah membantah larangan orangtua.

__ADS_1


Aku tak berani menceritakan sikap papaku kepada Han Du. aku takut dia frustasi semangatnya. patah, lalu memutuskan hubungan. Aku masih mencoba mencari alasan untuk menunda kedatangan mereka ke Indonesia.


" Tuhan, beri aku jalan. Aku mencintainya. aku ingin membuatnya bahagia. dia pantas bahagia meskipun kakinya cacat. aku siap menerimanya apa adanya. kabulkan doaku ya tuhan. Aminnn."


Hidup kadang memang tak adil, apalagi bagi yang miskin dan cacat. Dunia seakan melihat mereka dengan sebelah mata. "Sungguh kejam!" jeritku menekan dada. Sebelumnya orang tua Han Du yang tak merestui karena aku dari keluarga miskin. Sekarang, setelah mereka setuju, ganti orangtuaku yang menolak. Huh, kemana rasa kesal ini aku lampiaskan?

__ADS_1


Han Du terus mendesak. aku menyerah akhirnya kuceritakan bahwa papa ku tak setuju aku menikah dengannya. " Han Du, kita sudahi saja hubungan ini, ya? aku tak bisa memilih antara kami dan orangtuaku. Tak mungkin semi cinta, aku menjadi anak durhaka." aku berusaha memberinya pengertian.


" A Lan, besai hong ki! Nang ci ko mai cok coi hong huat ho i nang song sin. Wa, cin ai li. Eng wa si mia ka li cou ko" ( A Lan, jangan menyerah! kita akan mencoba berbagai cara untuk meyakinkan mareka bahwa aku benar-benar mencintaimu. Aku akan menggunakan nyawaku untuk menjagamu!), Han Du berusaha meyakinkan ku.


__ADS_2