
" Wa, em ka hai bang Han Du, ing ui wa em ka wan tui i nang koting." ( aku tak berani berharap Han Du, karena tak berani melawan keputusan mereka.)
" A Lan, wa ka wa pa be cui inang. Hi bang gun e sim li, u ato kai pien nang kuak thai. " ( A Lan, aku dan papaku akan mencoba mengunjungi mereka. semoga kedatangan ku ke Indonesia bisa mengubah cara pandang mereka.)
" Am co.... " ( tapi...)
Han Du memotong " sssst! mai kong am co...
pay pay hi bang Thi kong pek kak nang tau sekarang.( ssstt! jangan ada tapi, berdoa ya, semoga kita di mudahkan tuhan)
Han Du mengunci. dia tak memberi kesempatan padaku untuk berpikir yang tidak tidak. aku tak dapat lagi menghalangi kedatangan Han Du dan papanya. aku hanya berharap, semoga papaku mau mengubah keputusan nya.
********
Ditemani agency dulu membawa ku ke Taiwan, Han Du dan papanya datang ke rumah kami. rasa malu menyergap, runah sederhana yang kami tinggali jauh berbeda dengan kediaman keluarga Han Du. Tapi rasa malu itu kutepis aku yakin Han Du tak melihat keluarga ku dari sisi luar. dia mencintaiku apa adanya, itu sudah bukti dia nekat kabur daei rumah ketika orangtuanya melarang keinginannya untuk menikahiku. kedatangannya ke pontianak adalah bukti keseriusannya.
__ADS_1
Pihak agency menjadi penerjemah. aku hanya diam mendengarkan, tak berani bersyarat karena takut memperkeruh suasana. papaku tak juga mengangkatkan kepala tanda setuju sakit sekali rasanya. dapat ku lihat kekecewaan mendalam pada wajah Han Du. rona muka tuan Lim tampak merah, entah karena malu atau marah. aku yakin, selama ini Tuan Lim belum pernah menundukkan kepala memohon sesuatu kepada orang lain. dia termasuk orang yang di segani dan di hormati di negerinya.
Aku terharu melihat pengorbanan Tuan Lim demi anaknya. Han du. bulir-bulir bening beringsut dari bola mataku, lalu jatuh di pipi.
" papa kejam! kenapa papa tak dapat mencotoh Tuan Lim? demi kebahagiaan anaknya dia rela merendahkan diri begitu di hadapan mu!" amarahku meledak.
********
Semalaman aku menangis. Dua hari lagi Han Du dan Tuan Lim akan pulang ke Taiwan. Sampai detik ini, papaku masih tetap memegang teguh keputusannya. jam ku menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Aku bangkit ke arah dapur hendak mengambil segelas air minum. aku kaget, kulihat asbaknya di penuhi puntung rokok. Semalaman apap rupanya sulit tidur juga. apakah dia juga resah seperti hatiku? Entahlah.
Papa memanggilku.....
Aku menganggukkan kepala.
" Yakin?" ulangnya.
__ADS_1
Ku anggukan kepala untuk kedua kali dengan mantap.
" Sungguh, papa tidak tega bukan karena Han Du cacat. Namun jaraj Taiwan- Indonesia yang memberatkan papa merestuimu. karena papa tak punya alasan untuk menahan mu, keadaan Han Du yang papa jadikan sebagai alasan."
Aku menangis. kupeluk papa. Aku terharu dan baru mengerti bagaimana hati seorang papa selama ini aku salah menilainya. Aku hanya melihat sisi luarnya.
" Melihat Tekadmu dan cinta Han Du yang begitu kuar kepadamu, papa tak lagi ingin menghalangi kebahagiaan mu."
Aku lemas. " Pa..... andai bisa ingin kubagikan ragaku menjadi dua."
" Itulah takdir, anakku. jika berjodoh, siapa pun gak sanggup memisahkan nya."
" Pa, terimkasih. aku akan menjaga diriku Baik-baik supaya tak membuat papa cemas."
" Sudahkah, tidurlah. besok katakan semua ini kepada Han Du. Papa minta maaf karena telah membuat air matamu banyak menetes. jangan menangis lagi!" papa mengusap air mataku yang meluap.
__ADS_1
Sekali lagi kupeluk papa. " pa, terimakasih. aku sayang papa. aku sayang Han Du. kalian berdua adalah laki-laki paling istimewa dalam hidupku."
BERSAMBUNG.......!!!!