CERPEN ( CERITA PENDEK) Kisah Buruh Migran Indonesia Di Taiwan

CERPEN ( CERITA PENDEK) Kisah Buruh Migran Indonesia Di Taiwan
DIMENSI HATI PART 1


__ADS_3

Kupandangi dirimu lebih seksama. Dalam diam, jemarimu begitu lincah menyapukan kuas kanvas. Entah sudah berapa lama aku berada disini. Jika kau sudah larut dalam dunia melukis, kau bisa lupa waktu, bahkan tak pernah menganggap ku ada.


Jujur, diam-diam aku mengagumimu. Kau sungguh tampan. Rambut sedikit ikal yang kau biarkan tergerai, jatuh alami menyentuh bahu. Kau asyuk dengan duniamu sendiri, tak mau berinteraksi dengan dunia luar. Srraya menelisik coretan warna yang hampir membentuk pemandangan indah, wekali-kali kau menyelipkan anak ponimu yang jatuh mrnutupi mata ke sisi telinga. Sebuah realita yang kian menyempurnakan kekaguman ku. Ah, andai sorot matamamu tak semurung itu, memendam kekecewaan yang teramat dalam, mungkin kita akan lebih banyak bicara.

__ADS_1


******


Baru enam bulan aku berada di Taiwan. Keinginan hati untuk dapat mendobrak kemiskinan, memaksa ku memilih meninggalkan kampung halaman, kota khatulistiwa yang memberi kehangatan sepanjang tahun. aku meninggalkan orangtua, saudara, sahabat, juga meninggalkan keinginan untuk meneruskan sekolah. Menjadi TKI, dengan tekad bulat kelur negeri, berharap segala harapan yang kusemat dan kupupuk doa akan berbunga.

__ADS_1


Bukan sebuah keputusan yang mudah untuk mewujudkan semua impian. keluargaku tak mampu mengeluarkan seluruh biaya yang menelan belasan juta rupiah ( 49.000 NTS/ dolar Taiwan), Sedangkan pihak agen pun tak akan mau membiayai lebih dulu. maka agency mengenalkanku pada pihak bank. uang 49.000 NTS kelak harus kucicil selama 12 bulan, 8000 NTS per bulan ( total yang harus kukembali menjadi 96.000 NTS). selain itu aku juga harus membayar RP. 2.500.000,00 tunai kepada agency maka, dijuallah barang-barang berharga milik mama seperti gelang, kaling bahkan cincin kawin orangtuaku.


Beberapa hari aku berada di rumah agen hingga akhirnya aku di tempatkan di kediaman keluarga bermarga Lim. Tugasku adalah menjaga Lim Han Du, seorang pemuda tampan berusia 30 tahun, putra tunggal dan anak kesayangan tuan Lim yang setahun lalu mengalami kecelakaan seusai merayakan ulang tahun pacarnya yang bertepatan dengan perayaan akhir tahun Mereka tengah pulang dari ibu kota seusai melihat pesta kembang api di Taipei 101² saat kecelakaan nahas di jalan tol harus merengut nyawa pacarnya. Han Du sempat di rawat di rumah sakit Selama beberapa bulan. Kedua kakinya terpaksa diamputasi. Kini Han Du harus menggunakan kaki palsu dan di rumah dia lebih banyak duduk di kursi roda.

__ADS_1


Sejak peristiwa kecelakaan itu, Han Du menjadi pemurung, emosional, dan enggan berkomunikasi dengan orang lain. sudah beberapa orang di datangkan untuk menjaga dan memudahkan segala aktivitas nya, namun tak sampai sehari, mereka selalu mengundurkan diri. Aku entah orang keberapa yang di datangkan untuk menjaga dan melayaninya.


Pernah kau di usir saat mengantar makan siang. Han Du membentakku. aku yang kaget atas bentakannya secara tak sadar menumpahkan sup panas yang kubawa, hingga kuah sup muncrat ke wajahku. Rasa panas dan perig mejalari wajah dan tubuhku. aku tak sangguo menahan butiran hangat di pelupuk mata. tak sadar air mata perlahan mengalir. melihatku memangis Han Du menjadi panik. Dia menggerakkan kursi rodanya ke arah dapur, membuka kulkas dan mengambil sebotol salep putih untuk luka bakar. untungnya kulit wajahku tak melepuh, hanya tanganku yang terlihat sedikit merah.

__ADS_1


__ADS_2