CERPEN ( CERITA PENDEK) Kisah Buruh Migran Indonesia Di Taiwan

CERPEN ( CERITA PENDEK) Kisah Buruh Migran Indonesia Di Taiwan
PANTAI RAHASIA


__ADS_3

***Aku masih mengingat-ingat kejadian lucu yang menjadi awal perkenalan kita. Sebenarnya dua orang tiu menjadi akrab bukan karena kebersamaan yang lama. yang penting cocok seperti antara kita, antara aku dan kau. bicara apa pun nyambung sehingga perbincangan selalu mangalir. Banyak ide yang tiba-tiba mencair. Kata demi kata yang keluar dari mulutmu laksana anak panah yang meleset dari busur, menjadi Rangkaian-rangkaian kalimat yang menghibur dan membuka pintu pikiranku dengan pandangan baru kita bicara apa saja, dari teknologi kesehatan pengalaman- pengalaman hidup atau bahkan segala hal yang tak penting. mengisi kekosongan dengan kebersamaan.


bertahun-tahun dua sahabat lama yang sudah bertahun-tahun tak bertemu. serupa seorang bayi yang sudah kehausan yang merindukan ****** susu ibunya. atau bagai orang-orang kelaparan yang membutuhkan roti kehidupan. kita seakan-akan telah memendam rindu yang berabad-abad lamanya yang kemudian tiba-tiba menemukan sebuah ruang, sebuah hati yang di dalamnya mengandung lautan ketulusan, menyatukan dia jiwa yang selama ini saling mencari. Dengan segala kemudahan dan kebaikan teknologi, pada situasi dan keadaan yang tepat kita pertemukan di ruang ini.


" Ah. padahal kita baru beberapa jam yang lalu berkenalan!" gumamku seraya tersenyum memandang layar komputer ku tempat percakapan panjang kita memenuhinya. begitu cepat semua cerita keluar seperti air di pegunungan yang tak bisa di tahan mengalir deras mencari muaranya.


Sejak saat itu aku rela mencuri waktu dari padatnya kesibukan untuk mengirim sapa, kabar, kelakar atau hanya sekedar menulis beberapa baris kalimat baik lewat inbox. SMS, atau percakapan ringan di telepon seluler. Dalam setiap doa, kemudahan dan kebahagiaan yang senantiasa menjadi permintaan utama pada nya terjadi pada kita.


Meski jarak Beribu-beribu tak mengurangi makna dari kebersamaan ini. hingga suatu hari saat kau memberi kabar, kau akan datang ke tempatku untuk mengunjungi ku.


" Apa, kau ke Taipei?" tanyaku meyakinkan diri.

__ADS_1


" Yups!" jawabmu mantap dari balik ponsel aku seperti tersesat pada sebuah sukacita. di sebuah ruang waktu semua tiba-tiba menjadi cahaya yang mengirim kegembiraan.


Kau lelaki dewasa berumur 38 tahun. sempat hampir maenikah di usia 39 tahun namun karena rencana mu gagal total karena pacar mu lebih memilih rekab kerjamu yang berasal dari china. Sejak itu kau menutup usaha tekstilmu lalu mencoba menjadi pedagang grosir di tanah abang dan mengimpor pakaian anakn- anak dari china.


Sedangkan aku, perempuan yang 32 tahun lalu lahir di jakarta dari singkawang, kota yang di kenal dengan julukan kota seribu klenteng. Juga paras cantik orientalnya. sejak dua tahun lalu aku berkerja di sebuah agen penyalur BMI ke Taiwan.


Dengan hati-hati pahat setiap inci kenangan meskipun bukan di atas musim semi, karena cinta semua menjadi serupa surga dengan aroma bunga rasa. cinta dengan kelembutan perlahan mengundang jiwa kita masuk ke dalamnya, seperti tangan mu yang tak pert lepas dari bahuku. merangkulku dengan mesra sepanjang perjalanan ini, di pantai Damsui Old Streatx salah satu tempat wisata kebangaan orang Taiwan.


Kubaca ketegangan mu. meski sudah seharian kita bersama. kau masih tak terlalu berani menatapku, walau sejak tadi tanganmu selalu hangat menggenggam tanganku. tiba-tiba seekor tikus yang gemuk keluar dari cela-celah batu. namun aku tak takut.


" Wah kamu enggak geli ya sma tikus?" tanyamu saat kau lihat aku tiba-tiba berdiri mendekatkan kakiku ke tubuh tikus. Tikys itu kaget langst masuk lagi bersembunyi di antara batu-batu kecil di tepi pantai itu.

__ADS_1


" Tidak, aku tidak merasa takut kecuali dia ( tikus) berlutut dan memohon aku menjadi pacarnya.... " candaku, berharap ketegangan mu bisa sedikit berkurang.


Tawa kita pecah menembus senja. matahari juga telah pulang ke peraduannya. aku pun membalikkan badan ku, dengan posisi kita yang saling berhadapan. aku lingkarkan tanganku ke lehermu. sehingga kita tak lagi berjarak. kau pun mendekapku. melingkarkan tangan mu ke pinggang ku. aku merasakan kasih sayang mu menjalar ke seluruh tubuhku. Ada damai yang seakan-akan bersayap yang mampu membawaku ke ruang cinta yang ajaib. kau sentuh wajahku, kau kecup perlahan keningku. pada senyummu kudapat kekuatan, serupa menara yang sanggup menahan badai.


" Kutulis cinta di keningmu supaya setiap orang yang melihat wajahmu pun tahu.... kau hidup dengan hati yang penuh cinta." bisikmu


Aku tersenyum. cekatan ku tempelkan bibirku ke bibirmu, ku kecup mesra. Dengan tindakan ku nyatakan kebahagiaan ku. karena aku kehilangan kata-kata, entah mesti mengucapkan apa untuk menjawab kelimatmu, sebaris kalimat yang terlontar dari bibirmu, oh begitu lembut dan manis. aku rebahkan kepala ku di dadamu. malam ini ingin ku nikmati setiap detik menjadi semakin yakin, kaulah laki-laki yang kehidupan pilih untuk menjadi suamiku. dengan keyakinan kita akan merawat kesetiaan sampai masa kerjaku di Taiwan selsai. Aku akan pulang ke Indonesia dan kita akan bersama membangun Mimpi-mimpi menjadi kenyataan.


Kita larut dalam pikiran masing-masing kebisuan yang melahirkan keheningan yang menguraj seribu makna. Bulan di atas sana, lampu-lampu perahu nelayan, suara ombak menyempurnakan keindahan di hati inj yang di selingi kelakar dan kecupan di antara waktu yang melaju, sehingga sejenak membuat kita lupa dunia ini bukan hanya kita yang bernapas, dan di luar sana banyak jiwa yang bersenggama dengan air mata dan kepedihan. di menit-menit kebersamaan ini kita seakan tergesa-gesa karena waktu terpacu seribu kali lebih cepat dari biasanya. jiwa serasa berada di sebuah ruang yang tak lagi butuh apa-apa selain anggur cinta, menuai segala kebahagiaan seraya berharap cahaya bulan dan bintang-bintang tak meningalkan satu pun huruf kisah. dia dengan teliti memahat pantai ini. karena esik jejak kita yang tertinggal di pantai ini. karena esok saat mentari datang, burung besi akan kembali membawa ragamu menjauh dariku. kembali membawa ragamu menjauh dariku. kembali kita akan terkurung di ruang rindu, meminta doa berharap kembali ada pertemuan yang di berikati-Nya seperti malam ini.....


BERSAMBUNG***.......!

__ADS_1


__ADS_2