
***Han du kemudian mengajariku membuat akun Facebook dan kami bersahabat di dunia maya. bila dia mogok bicara, aku menyibukkan diri mengutak-atik mainan baru itu. selain ponsel, Han Du membolehkan aku menggunakan komputernya, tapi hanya sekali-kali saja, jika suasana hatinya lagi baik. bahkan, bila hatinya sedang gembira, apapun di perbolehkan. aku pun baru tahu, selain melukis rupanya Han Du juga suka menulis. sayangnya, aku tak paham artinya karena tulisannya dalam bahasa Mandarin.
Aku di beri tahu seorang sahabat bahwa internet kita bisa menggunakan google translate( penerjemah bahasa di internet). tapi, aku tak tahu caranya jika menggunakan ponsel. Maka malam itu aku membujuk Han Du agar diizinkan menggunakan komputernya. ku klik link yang di sebutkan temanku, lalu kusalin beberapa tulisan Han Du dan menerjemahkan nya dari bahasa Mandarin ke bahasa Indonesia. salah satu puisi nya sempat membuat mataku terbelalak. aku berusaha menangkap lebih jelas mengenai makna puisi berjudul " A Hua" yang di tulisnya.
A HUA
A Hua, mengapa takdir memisahkan kita duniamu tak lagi bisa kutembus.
A Hua, di mimpi pun tak lagi kutemui jejakmu.
Engkau kemana?
__ADS_1
A Hua, salahkan aku mengaguminya?
di matanya kulihat kesehajaanmu
A Hua, beri petunjuk untuk ku.....
( Taichung, di malam aku sangat merindukanmu)
Belakangan ini aku sering merasa salah tingkah jika bertemu Han Du, apalagi jika mata kami beradu pandang. Aku dapat merasakan Han Du terlihat jauh lebih ceria di bandingkan sebelumnya, sekalipun perasaannya tak pernah di ungkapkan.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Akhirnya, selesai sudah masa kontrak ku selama tiga tahun
Tatapan Han Du masih kurasakan kala mereka sekeluarga mengantarkan ke bandara saat aku hendak kembali ke tanah air. Dapat kurasakan sinar matanya yang sendu, Namun tak sepotong kalimat pun meluncur dari bibirnya untuk mrnahan langkahku. Han Duh hanya terdiam, sekedae mengatakan terima kasih pun tidak. Aku hanya perempuan biasa, tak berani bermimpi menggapai langit. cukup sudah kebaikan nya selama ini, memperlakukan aku seperti bagian dari keluarga nya, bukan sebagai pembantu. Lambaian tangan mereka membuat langkah ini terasa berat, separuh hatiku serasa tertinggal di negeri formosa.
" Tuhan, jika aku boleh meminta, pertemukan lagi kami kelak, " doaku saat memasuki pesawat yang akan membawa ku terbang meninggalkan Taiwan..
*********
Kepulangan ku disambut gembira keluarga ku. aku menemukan lagi kehangatan yang selama ini kurindukan. kembali menikmati jalan gajah mada. tiga tahun aku merindukan nasi ayam, nasi kari, nasi uduk, sate. Ah betapa nikmatnya semua makanan itu. makanan di Taiwan tawar, tak mengenal rempah. semewah apapun sajiannya, tak mampu menandingi makanan- makanan di pontianak.
Sehari-dua hari, aku mulai menyadari, ada rindu merambat di dalam hatiku. kucoba untuk menepis nya, berharap waktu akan dapat memudarkan namun entah mengapa, tiap rasa rindu ini kuhalau. Ah, bukankah selama berada di Taiwan aku selalu gelisah karena ingin segera pulang ke tanah air kembali ke dalam ruang hangat keluarga? sekarang , aku telah berada di tengah-tengah mereka. " aku harus melupakannya! " tekadku. Ya, aku tak mungkin bersamanya. Aku berasal dari keluarga miskin, selain itu aku tak cantik dan termasuk gemuk tinggi badan 160 cm dan berat 56kg***.
__ADS_1