
Di Taman tempat kenangan masa kecil antara Al dan Zain, mereka masih menikmati kebersamaan dan euforia ungkapan perasaan mereka yang ternyata memiliki perasaan yang sama.
"My Jade, kakak gak ingin hubungan kita kedepannya itu ada dengan istilah pacaran atau apalah itu. Al adalah calon ratu di kehidupan kakak yang telah menjadi ratu di hati kakak selama bertahun-tahun lalu, sekarang dan selamanya dan hanya satu-satunya" ucap Zain diplomatis eh romantis ya salah, hehehe.
Bluuussshhh mendengar perkataan seindah dan seromantis itu membuat panas dingin alias merona, memerah lah wajah Al bahkan sampai telinga nya pun memerah dan jantungnya berdetak lebih cepat seperti sedang lari marathon. Al hanya menundukkan kepala karna tidak berani menatap sang pemilik hati nya sejak kecil itu.
Zain yang melihat Al yang tersipu merasa bahwa moment dan pemandangan di depannya ini sangat indah melebihi keindahan apapun di dunia ini. Semua yang berhubungan dengan Al merupakan sesuatu yang sangat istimewa untuk Zain.
Mereka berdua duduk bersisian, namun Zain menghadap ke arah Al sembari masih tetap menggenggam tangan ratu hati nya itu.
"Kakak akan tetap disini sampai Al lulus, setelah itu kakak akan melamar kepada papa Al dan kita akan tinggal di negara A karna kakak harus menggantikan ayah kelak apalagi bunda sangat menantikan kakak membawa Al sebagai menantunya" ucap Zain kembali.
Mendengar hal itu, Al mulai menaikkan wajahnya dan menatap Zain melihat apa yang Zain ucapkan itu serius atau tidak. Al menatap Zain mencari keseriusan dan melihat apakah Zain hanya bercanda atau tidak, namun Al hanya mendapati pandangan Zain yang hangat dan keseriusan dari perkataan Zain.
"Gimana dengan perusahaan papa Al disini, juga papa?" tanya Al kepada Zain.
"Perusahaan papa Al bisa digabung dengan perusahaan yang kakak pegang sekarang dan berada satu management agar semakin banyak pengusaha atau pebisnis yang mengenal perusahaan tuan Sanjaya. Papa juga bisa ikut kita jika mau" jawab Zain.
"Apa keluarga kakak setuju?" tanya Al yang kemudian menundukkan kepala nya kembali.
"Bunda malahan ingin menjemput Al setelah tamat sekolah, bunda udah gak sabar namun kakak melarang karna kakak ingin Al menikmati masa kuliah dengan sahabat-sahabat Al" jawab Zain sambil mengangkat dagu Al supaya bisa membuat Al melihat ke arahnya lagi.
"Percaya sama kakak, semua keluarga kakak berharap dengan tidak sabar untuk kakak segera menikah dengan Al dan membawa Al ke negara A supaya kakak bisa segera mengemban tugas kakak menggantikan ayah" ucap Zain kembali.
__ADS_1
"Tapi Al masih punya urusan disini kak, Al ingin membuktikan sesuatu ini tentang kecelakaan mama kak" mengingat hal itu Al kembali merasakan sesak di hatinya.
"Kakak akan membantu Al, kita hadapi semua nya berdua ya?"
Al pun akhirnya menganggukkan kepala nya.
Beberapa saat kemudian tiba-tiba hp Al berbunyi, Al melihat siapa yang menelponnya kemudian mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum iya abah ada apa?" "Maaf Abah, kaya nya Al gak bisa kesana, mungkin besok aja bah Al kesana. Al ada sedikit urusan, mungkin Al pun akan agak telat pulang kerumah"jawab Al kepada orang yang menelponnya.
" Apa abah, kok bisa begitu, kenapa mereka seperti itu sih?baiklah Al usahain kesana bah" ucap Al kembali kepada orang yang menelponnya sambil menghela nafas.
"Ada apa Al?" tanya Zain yang penasaran dengan yang Al panggil abah tersebut.
Al kebingungan antara mau menceritakan nya kepada Zain/dia hadapi sendiri. Namun Al ingat ucapan Zain yang menginginkan mereka saling berbagi apapun dan juga saling terbuka.
" Ya udah ayo kakak anter"ucap Zain sembari menggandeng tangan Al dan beranjak dari tempat itu.
Perjalanan menuju tempat Abah Ayub yaitu guru bela diri Al juga mang Soma hanya memerlukan waktu 10 menit memakai motor jika berkendara agak cepat namun mmerlukan 15 menit jika agak santai. Abah Ayub merupakan guru bela diri yang mengajarkan ilmu bela diri juga olahraga fisiknya. Abah tidak mengajarkan sembarangan orang, beliau pernah mengalami kekecewaan yaitu pengkhianatan dari murid sekaligus keponakannya. Maka dengan itu Abah Ayub hanya memiliki sedikit murid saja, namun cukup dikenal di kalangan para pelatih atau pemilik perguruan beladiri, karna beberapa muridnya terkenal menjadi atlet olahraga beladiri.
Abah Ayub tidak hanya terpaku pada satu macam atau aliran bela diri namun abah Ayub terbuka untuk semua olahraga beladiri termasuk Wushu dan Tai chi juga Capoeira selain yang sudah tenar seperti Pencak Silat, Karate, Taekwondo.
Tempat perguruan Abah Ayub cukup luas namun Abah hanya memiliki rumah yang sederhana untuk tempat tinggal keluarga nya juga murid-murid yang kebetulan kemalaman atau sedang latihan intens untuk pertandingan.
__ADS_1
Karna ada putra nya yang menjadi juara, juga beberapa muridnya yang menjadi atlet nasional yang mengharumkan nama bangsa di kancah internasional di bidangnya masing-masing makanya Abah Ayub cukup terkenal. Beliau tidak pernah mau unjuk gigi atau berkumpul layaknya guru-guru besar lain. Beliau hanya diam di rumahnya dan mengembangkan olahraga bela dirinya untuk membuat dirinya tetap sehat di usia nya yang sudah menginjak usia 60 tahun.
Sesampainya Zain dan Al di tempat Abah Ayub mereka melihat banyak orang asing yang tidak Al kenal berada disana, sementara hanya beberapa orang saja yang ada dekat Abah karna mungkin hanya yang baru saja belajar disana yang hadir.
Al menghampiri abah Ayub juga mencium tangan abah dengan takdzim, dan bertanya kenapa banyak orang berada disini.
"Abah, apa yang terjadi?" tanya Al.
"Begini nak, ini ada tamu terhormat yang datang ingin belajar seperti apa disini. Abah sudah bilang jika anak-anak abah sedang di luar semua tidak ada yang disini kecuali yang baru belajar disini beberapa bulan ini" ucap abah dengan bahasa halus dari menantang perguruan abah.
"Lalu kenapa adik Fery seperti terluka begitu bah?" tanya Al yang melihat anak remaja sekitar 14 tahun yang baru belajar di tempat abah selama kurang dari 2 bulan lalu.
"Adikmu itu hanya mewakili menemani senior di hadapanmu untuk berolahraga, namun kan adikmu itu baru saja belajar belum sampai 2 bulan" jawab Abah Ayub yang membuat yang ada disitu terkejut.
Gimana gak terkejut, belum sampe 2 bulan belajar Fery sudah bisa mengimbangi orang mereka yang sudah berlatih lebih dari 5 tahun walau bukan yang terbaik diantara mereka.
Zain yang melihat kharisma abah Ayub mengetahui jika beliau bukan sembarang guru, beliau memiliki kebijakan dan mata yang tidak bisa dibohongi dalam menilai seseorang seperti juga dirinya, apalagi saat secara tidak sengaja tatapan mereka bertemu untuk sesaat.
"Maaf abah, nama ku Zain bolehkah aku belajar bersama oara senior disini walau aku baru datang kesini. Aku disini atas nama keluarga Al yang berarti bagian disini dengan abah?" tanya Zain sambil mengerling pada Al.
"Silahkan nak Zain, pilihlah yang terbaik, abah yakin dengan pilihan nak Al" ucap Abah Ayub yang langsung bisa menangkap apa hubungan antara Zain dan hal sambil menepuk tangannya Al.
Maaf ya baru bisa up, ada sedikit kesibukan yang bikin lambat up, maafkan lah diriku ini ya guys 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
__ADS_1
Makasih sebelumnya atas kesabaran menunggu&perhatian semuanya.
Love you all