
Selama beberapa hari ini disaat sang papa tidak berada di rumah untuk urusan pekerjaan di luar kota Al gak pernah sarapan atau makan di meja makan bersama ibu tiri dan tante nya yang baru datang saat Al sedang balapan. Tante Al yang bernama Erina Sanjaya datang ke rumah sang kakak diundur tidak sesuai rencana sebelumnya karna dia harus mengurusi sedikit masalah yang terjadi di butik yang dia miliki di kota S.
Beruntung sang tante yang kelelahan tidak mengecek Al saat datang, tidak seperti biasa nya yang mengecek apakah Al sudah tidur atau belum saat dia datang ke rumah sang kakak. Di saat Erina berada di rumah sang kakak dia sering sekali mengawasi dan merecoki keponakannya, itu karena hasutan sang kakak ipar baru yaitu Rada yang mengadu hal tidak baik tentang Al kepadanya.
Erina lebih percaya kepada Rada makanya tidak pernah menanyakan kepada sang kakak atau percaya dengan keponakan satu-satunya. Erina seperti sudah di cuci otak oleh Rada yang mempercayai wanita itu sepenuhnya bahkan menjadi tidak menyayangi sang keponakan, entah sugesti apa yang diberikan Rada kepada Erina.
Pagi itu Al yang seperti biasa suka sarapan bersama bi Sumi, karna Al tidak tahu jika tante nya Erina sudah datang. Al bersiap akan sarapan, namun bi Sumi yang mengetahui kedatangan adik dari tuan besarnya menahan Al untuk kebelakang dan menuntun anak majikan yang sudah dia anggap sebagai anak sendiri itu untuk kembali ke dalam rumah.
"Non, jangan makan di belakang karna ada tante nya non sudah datang semalam" ucap bi Sumi sembari menuntun Al untuk kembali ke dalam.
"Lah, kapan tante datang, kenapa mang Soma semalam ga bilang pas Al pulang ya?" tanya Al pada bi Sumi.
"Mungkin lupa non, udah sana sarapan di dalam nanti kena marah" jawab bi Sumi.
Dengan sangat terpaksa Al melangkahkan kakinya menuju meja makan keluarga yang berasa bagai kursi panas bagi nya tidak seperti sewaktu ada sang mama yang sangat menyenangkan.
Di meja makan Al melihat ibu tirinya sudah duduk dengan manis menunggu tante nya supaya bisa menyerang nya seperti biasa jika sang tante berkunjung kesini. Al memutar mata malas, namun mau gimana lagi Al terpaksa karna dia tidak mau sang tante mengadu yang tidak-tidak sama papa nya.
Tak tak tak, gak membutuhkan waktu lama setelah Al duduk terdengar suara ketukan sepatu memecah keheningan saat Al bersama ibu tirinya menunggu sang tante. Setelah Erina duduk di meja makan, dia melihat ke arah keponakan dan kakak iparnya secara bergantian kemudian membuka pembicaraan sambil mulai bersiap sarapan.
"Al, bisa tidak kamu membuka diri untuk mama Rada udah berapa tahun kalian bersama namun tidak ada perubahan?" tanya tante Erina.
__ADS_1
Al hanya diam dan mengendikkan bahu tanda tidak terlalu peduli.
"Hari ini tante akan mengajak kalian berdua keluar untuk menghabiskan waktu bertiga kita jalan-jalan, belanja, perawatan badan pokoknya yang biasa di lakukan wanita, ya no debat" ucap tegas tante Erina.
"Maaf tante, Al gak bisa jadwal kuliah Al hari ini cukup padat bahkan bisa pulang malam. Tante tau kan Al mengambil 2 jurusan sekaligus" jawab Al sambil menyiapkan sarapan yang akan di makannya.
"Kamu tuh ya, ngapain juga kuliah ngambil 2 jurusan sekaligus, ngabisin waktu dan uang percuma aja, huuuhh" omel tante Erina.
Al yang mulai kesal, apalagi dia yang tidak terima jerih payah nya yang berusaha untuk mendapatkan beasiswa di jurusan arsitektur supaya tidak perlu papa nya mengeluarkan biaya lebih untuk kuliahnya yang mengambil 2 jurusan tersebut di sepelekan sang tante juga berkesan dia menghabiskan uang sang papa.
"Maaf tante, Al gak menghabiskan waktu percuma Al belajar mencari ilmu meraih cita-cita Al. Lagi pula Al gak menghabiskan uang papa, kedua jurusan yang Al ambil ini Al dapatkan dengan jalur beasiswa namun papa menyuruh Al melepas satu beasiswa itu supaya papa bisa membiayai kuliah Al"jawab Al mulai bersuara tegas dan mengeluarkan aura nya walaupun hanya sedikit itu pun karna rasa kesalnya bukan sengaja.
"Iya, terserah kamu aja. Kamu selalu menjawab ucapan tante dan menolak jika tante mengajakmu pergi hanya untuk sekedar menikmati hidup.Entah apa yang ada di pikiranmu itu, gak seperti anak cewek umumnya, huuuhhh" ucap tante Erina kemudian sembari sedikit mendengus kesal terhadap keponakannya itu.
Al pun bergegas menuju ke belakang karna tas nya ada disana tadi Al titipkan ke bi Sumi yang pasti nya sudah tersedia bekal untuk nya.
Sementara setelah kepergian Al, Rada pun makin mempengaruhi Erina supaya semakin tidak suka atau bahkan supaya membenci keponakannya sendiri.
"Tuh apa yang aku bilang benar kan Erin?" ucap Rada.
"Anak itu makin kesini makin liar susah diatur, bukan aku yang tidak mau mendekatkan diri padanya. Belum kelakuannya yang terkadang pualng malam entah kemana dan apa yang dia lakukan diluar sana" ucap Rada kembali yang semakin menjadi.
__ADS_1
Ucapan Rada justru semakin membuat Erina yang kesal karna penolakan dan ucapan keponakannya, semakin membuat Erina berpikir yang tidak-tidak. Erina berpikir mungkin di luar Al melakukan hal yang tidak benar.
"Apakah kakak pernah melihat hal aneh atau mencurigakan yang dilakukan Al?" tanya Erina kepada Rada.
Rada berpura-pura berpikir padahal dia mencari alasan untuk semakin membuat kesan Al itu sangatlah buruk sehingga Erina akan membenci anak tiri nya itu. Rada teringat dengan pembantu kepercayaannya yang melihat kemarin Al berangkat ke kampus di jemput seorang cowok menggunakan motor.
"Oh iya aku ingat, salah satu pembantu disini kemarin melihat Al berangkat di jemput seorang cowok menggunakan motor. Apa mungkin Al memiliki kekasih, dan saat mas Emir tidak ada di rumah Al berani mengajak cowok itu ke rumah" ucap Rada dengan ekspresi seperti sedang berpikir.
"Benarkah! Seperti nya aku harus memastikan hal ini, jangan sampe Al melakukan hal yang tidak benar di luaran sana. Aku harus mengatakan ini kepada kak Emir" ucap Erina.
Setelah selesai sarapan, Erina hendak pergi keluar bertepatan dengan kedatangan Zain yang akan menjemput Al untuk berangkat ke kampus sama-sama.
Zain tidak akan melewatkan kesempatan sekecil apapun untuk bisa lebih sering dan lebih lama bersama calon ratu dan ibu dari anak-anak kelak itu.
Erina yang melihat kedua nya akan bersiap untuk berangkat kemudian berteriak dan menghampiri keduanya.
"Tunggu..." teriak Erina.
Maaf ya gaiiiiss, aku bereskan sampai sini dulu bab ini. Besok deh aku lanjutin lagi, harpa bersabar ya 🤭 🤭 🤭 🤭
Jangan lupa like, komen, video&gift nya ya, makasih
__ADS_1
Love you all