
"a-abang Cakra" ulangnya lirih karna masih tak percaya jika orang yang ada di depannya adalah bang Cakra.
"gawat, kenapa harus bertemu bang Cakra sekarang" batinnya gugup
"ma-maaf,, sa-saya gak sengaja" ujarnya terbata hendak segera bangkit tapi kesulitan karna merasakan pinggangnya yang sakit.
"auhh..." terdengar suara ringisan Alya
"gapapa, ayo Abang bantu" mengulurkan tangannya
"eng-enggak usah, saya bisa sendiri"
"Abang sedang gak mau dibantah Alya" tegas bang Cakra menginginkan Alya menyambut tangannya untuk membantu berdiri.
"huufftt...." helaan nafas Alya pun terdengar tapi selanjutnya ia menyambut uluran tangan bang Cakra.
"Terimakasih, saya permisi dulu" hendak pergi
"tunggu dulu dek" cegah bang Cakra "Abang mau bicara sama kamu" lanjutnya.
"maaf, saya buru-buru. dan saya kira tidak ada yang perlu di bicarakan" kilah Alya karna suasana saat ini sangatlah canggung menurutnya, maka dari itu ia ingin segera pergi dan menghindari suasana yang tidak mengenakkan ini..
"tolong dek, sebentar saja Abang mau bicara sama kamu" mohon bang Cakra.
"yasudah, tapi tidak disini"
................
setelah percakapan keduanya tadi, kini keduanya telah berada di warung bubur ayam sekitar batalyon.
"kenapa kita kesini?" dia mengira bang Cakra akan membawanya ke taman ternyata dugaannya salah, kini ia malah diajak ke warung bubur ayam.
"Abang belum sarapan dek, laper. maus ambil makan aja tapi kamu temenin ya"
Alya yang mendengar itu hanya memutar bola matanya malas.
"modus" lirihnya tapi bisa di dengar oleh bang Cakra
"apa dek, diulangi bicaranya Abang gak denger" tanya bang Cakra sambil tersenyum karna sebenarnya ia Tah tapi hanya mengetes Alya saja.
"bukan apa apa" lanjut Alya yang semakin membuat senyum bang Cakra tambah lebar..
__ADS_1
"dihh,, ngapain senyum senyum ga jelas banget jadi orang" melihat bang Cakra yang tiba tiba tersenyum.
"gapapa kok. adek sudah makan belum?"
"kepo" ketus Alya karna dirinya gagal menghindari bang Cakra malah berakhir berdua an lagi.
"gaboleh gitu kalau di tanya sama calon suami, ga sopan" tersenyum menggoda
"apaan sih, siap juga yang mau jadi istrinya situ"
" hahaha,, kamu lah. liat aja nanti kalau sudah jadi istri Abang, Abang jamin ga mau Abang tinggal meskipun cuma semenit aja" mesam mesem menggoda Alya.
"ga bakalan" sambil mengejek bang Cakra dan ahnya di balas senyuman.
"hahaha.. yaudah abang pesenin sekalian ya. nanti habis makan lanjut ngomongnya"
"terserah,, tapi punyaku ga pakek kacang" diangguki bang Cakra.
.........
"khem dek" Alya merasa dipanggil langsung menoleh kearah bang Cakra.
"kenapa dua Minggu ini adek menghindari Abang?" tanya nya serius. Alya hanya diam rasanya lidahnya seketika kelu tak mampu untuk berbicara apa lagi menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh bang cakra
"kalau memang benar begitu Abang minta maaf ya dek lupakan aja apa yang pernah Abang ungkapkan sama kamu, tapi jangan hindari Abang. Abang pengen Deket sama kamu, jadi temanpun gapapa" ucap bang Cakra penuh harap.
Alya yang mendengar itu menjadi tidak tega pasalnya perkara bang Cakra mengungkapkan perasaan bukanlah sebuah kesalahan karna ia tahu perasaan itu datangnya tiba tiba gak bisa ditebak dari siapa untuk siapa dan kapan akan muncul. akhirnya alya menjawab pertanyaan bang Cakra.
"Abang gak perlu minta maaf, disini Abang gak salah. maaf sudah menghindari Abang. sebenarnya Alya gak maksud untuk menghindar Alya hanya kaget karna ada laki laki yang menyatakan perasaannya sama Alya apa lagi laki laki itu adalah pria dewasa yang bahkan umurnya terpaut lumayan dari Alya. Alya ngerasa aneh aja bang, kenapa bisa Abang mencintai Alya yang notabene nya masih gadis bau kencur, Alya aja masih 18 tahun apa Abang gak salah" dirinya menjelaskan alasan kenapa menghindari pertemuan dengan bang Cakra..
"Alya ngerasa gak mungkin aja. apalagi seperti yang Abang dan teman Abang katakan kalau Alya ini barbar, cerewet, gak ada anggun anggunnya, bengal.. huuffttt" menghela nafas kasar
"apalah Alya ini bang, gadis kemarin sore yang masih sangat manja bahkan baru lulus SMA, sedangkan Abang seorang perwira, berpangkat, karir mentereng, mapan" sambil kembali menundukkan kepala, ia merasa tak pantas mendapatkan cinta dari seorang berpunya seperti bang Cakra.
"Alya bingung,, hiks" mulai menangis
"Alya gak tau harus gimana,, hiks hiks.. se-setiap kali ketemu sama Abang hiks, a-ada yang berbeda Alya rasakan disini" ucapnya terbata karna terisak kecil sambil menunjukkan dada sebelah kiri.
"ra-rasana jantung Alya seperti habis lari maraton detaknya kenceng banget" sudah mulai mampu menguasai dirinya meskipun masih sedikit terbata dalam ucapannya.
"terus setiap kali Alya Deket Abang seperti saat Abang bonceng ketika bersandar di punggung Abang rasanya nyaman banget seperti kalau Alya sama ayah" lanjutnya polos.
__ADS_1
iya polos, Alya terlalu polos untuk mengerti perasaannya.. dia memang gadis bar bar akan tetapi seperti yang diketahui di awal bahwa ke bar bar an nya itu hanya untuk menutupi kepolosannya agar tidak mudah terjerumus atau terperdaya sama orang orang di luaran sana.
"hiks hiks,, Alya bingung" mulai terisak kembali
bang Cakra yang sedari tadi menyimak ungkapan Alya pun tersenyum manis
"polos banget kamu dek" batin nya
lalu membawa Alya kedalam dekapannya..
Alya Yang sedang terisak hanya pasrah ketika bang Cakra membawanya kedalam dekapannya
"nyaman" batinnya..
"apa yang adek rasain saat abang mendekapmu?" tanya bang Cakra.
"nya-nyaman, ta-tapi jantung a-alya ikut berdetak kencang. a-apa Alya sakit jantung ya bang" sudah tak lagi terdengar tangisnya tetapi masih terisak kecil..
bang Cakra semakin melebarkan senyumnya
"bukan tapi itu tandanya adek juga punya rasa sama Abang" Alya yang tidak faham pun langsung mendongak menatap bang Cakra.
"deg deg,, deg deg.." jantungnya semakin berdetak keras..
"itu juga yang Abang rasain saat bersama adek. contohnya sekarang, coba kamu pegang dada Abang yang juga berdetak kencang ketika bersama kamu" sambil mengarahkan tangan Alya untuk menyentuh dadanya sebelah kiri dimana letak jantungnya berada.
Alya pun menurut Jan menyentuhnya. tanpa sadar tidak hanya tangannya yang mendekat tapi kepalanya pun ikut bersandar ingin mendengarkan suara detak jantung bang Cakra yang sedang bertali indah.
"mengapa sangat nyaman mendengar detak jantungnya" batin Alya sambil mulai mengembangkan senyumnya tanpa sadar.
bang Cakra yang melihat itu kembali tersenyum.
"apa sekarang adek sudah tau" Alya langsung mengangguk.
"iya jantung Abang detaknya kenceng banget, Abang sakit jantung juga kaya Alya ya" masih tetap belum menyadari kalau itu karna sebuah perasaan
Tawa bang Cakra pun pecah karna ternyata gadisnya masih belum paham juga.
"hahahaa, aduh dek jadi gemes deh sama kamu. tadi kan Abang bilang kalau ini bukan sakit tapi ini karna ketika kita berdekatan dengan seseorang yang kita sayang kita cintai maka dengan sendirinya jantung itu akan berdetak lebih cepat dari detak normalnya. sudah faham sekarang?" stelah menjelaskan itu ia tersenyum menatap Alya yang saat ini sedang menatap balik dirinya.
Alya pun tersenyum malu, karna baru mengerti maksud dari semua yang ia rasakan saat berdekatan dengan bang Cakra.
__ADS_1
...*************...