
Hari itu adalah terakhir kalinya bang Cakra bertemu Alya. Sudah tiga minggu berlalu tak dipungkiri bang Cakra bahwa setiap hari dirinya selalu terbayang wajah ayu sang putri komandan, ditambah dengan sang kekasih hati yang ikut menghilang sejak beberapa minggu yang lalu.
“Duh gusti, kenapa jadi kepikiran sama putri komandan terus ya. Ada yang tidak beres ini dengan otakku” gumamnya.
“kenapa aku terus terbayang wajahnya anak komandan” ujarnya mendengus frustasi
“dan kenapa aku merasa biasa biasa saja meskipun kekasihku Sandra tidak lagi bisa ku hubungi” bingungnya.
“apa iya nama Sandra sudah hilang dari hatiku, dan apa mungkin aku jatuh cinta dengan putri komandan” terka nya.
“aakhh pusing. Lebih baik aku bangun sholat malam lalu kembali tidur. Besok kan ada kegiaatan pagi” ucapnya sambil bangun dari tidurnya dan bersiap melaksanakan sholat malam.
Ya saat ini jam telah menunjukkan pukul 1 malam, akan tetapi bang cakra tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan terfikirkan putri sang komandan.
Selesai sholat dan berdo’a bang cakra memilih untuk tidur kembali.
Saat tengah tertidur ia bermimpi berkunjung ke rumah sang komandan dengan masih berpakaian seragam PDL dan membawa banyak sekali buah tangan.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsallam” ucap alya dengan membuka pintu rumahnya.
“Abang sudah kembali, Alya kangen bang jangan tinggalin Alya” ucapnya terisak dengan memeluk bang cakra.
Bang cakra pun tersenyum dan mengarahkan Alya untuk menatap dirinya dengan tetap membiarkan tangan mungil alya melingkar di pinggangnya.
“Abang juga, sudah jangan menangis kasihan si dedek diajak mamanya nangis” ujar bang cakra tersenyum sambal mengelus perut alya yang dirasa sedikit membuncit.
“enggak pa, mama gak nangis lagi kok iya gak dek?..” ujarnya sambil ikut mengelus perutnya
Tersenyum melihat kearah bang cakra lalu melanjutkan bicaranya.
“alhamdulillah, abang pulang selamat” dan memberikan kecupan manis kepada bang cakra
“adek cinta abang” dengan tersenyum manis dan mendekap erat bang cakra.
Tak lama tedengar adzan subuh yang berhasil membangunkan bang cakra dari mimpinya.
“hufftt hufftt astaghfirullohaladziim,, mimpi apa aku barusan. Lancing kamu cakra” menegur dirinya sendiri yang memimpikan memper istri sampai memiliki buah hati bersama anak gadis sang komandan.
“lebih baik aku cepat bersih-bersih ambil wudhu terus berangkat sholat sebelum habis waktu subuh” ujarnya dengan bergegas bangun..
…….
__ADS_1
…….
Siang harinya saat akan keluar dari kesatrian tidak sengaja netra bang cakra menangkap sosok anak gadis sang komandan yaitu Alya yang tengah berjalan dengan menghentak hentakkan kakinya. Lalu bang candra berniat mendekat..
“hei kamu ngapain jalan sambal ngedummel aja” ujar bang cakra
“bapak lagi bapak lagi, ngapain sih pak nongol segala bikin tambah bete tau gak” ujar alya mulai ngegas. Hahaha
“yeee di tanya baik-baik juga malah sewot, yaudah. Niatnya sih saya tadi mau nawarin tumpangan barang kali kamunya lagi buru-buru. Saya lihat sudah hamper jam 7 nih kurang 15 menit doang” sambal melihat jam tangannya.
“tapi kayaknya gabutuh deh, dilihat dari cara kamu jawab pertanyaan saya. Kalua gitu saya permisi dulu lah” dengan nada bicara sedikit menggoda alya dan menakut nakutinya yang terlihat mulai ketakutan terlambat berangkat kesekolah.
Saat akan melajukan motornya tiba-tiba…
“eh eh eh, pak tunggu” mencoba mencegah bang cakra. Dan ya bang cakra pun menoleh dengan mengangkat satu alisnya pertanda dia bertanya “apa”.
“eemm, beneran bapak mau kasih saya tumpangan?” tanyanya sedikit malu karena sudah ketus kepada bang cakra.
Tawa bang cakra pun pecah mendengar gadis gengsian tersebut bertanya berusaha merendahkan dirinya.
“hahahahaa….”
“kok malah ketawa sih pak. Saya tanya loh, cepet pak dijawab nanti saya keburu telat” sambal bersungut cemberut.
“yaudah ayok, terpaksa nih karna udah mau telat” ujarnya malu
“sok-sok an terpaksa lagi,, udah ayok naik pegangan yang kenceng abang mau ngebut” tanpa sada dirinya menginginkan alya untuk memanggilnya abang.
“bapak modus yaa?” selidik alya
“siapa juga yang modus, ayo cepet alya. Atau abang tinggali nih” lagi lagi menyebutkan dirinya abang.
“iya-iya pak” lalu menaiki motor bang cakra.
“panggil abang bukan bapak” tekan bang cakra tidak menerima penolakan.
“iya abang” pasrah alya pada akhirnya dengan mengerucutkan bibirnya.
“gausah dimonyong monyongin tuh bibir, mau abang cium” sambal tertawa membercandai alya
“dih, gausah macem macem deh. Cepat jalan, nanti alya telat abang” dengan rengekan manjanya dan mulai melingkarkan tangganya pada pinggang bang cakra yang membuat jantung bang cakra berdetak kencang.
“khem, iya iya nih berangkat” ujarnya berdehem untuk menghilangkan rasa groginya. Sedangkan alya yang baru kali ini berboncengan dengan laki-laki selain ayah dan saudaranya tidak merasa takut malah merasa nyaman apalagi saat bersandar du punggung bang cakra.
__ADS_1
“mengapa aku merasa nyaman ya dengan bang cakra” batinnya dan tanpa sadar ia mulai membiasakan dirinya memanggil bang cakra dengan sebutan abang bukan lagi bapak.
........
........
sesampainya di sekolahan bang Cakra memberhentikan motornya lalu menoleh ke spion untuk melihat belakangnya lalu tersenyum melihat Alya masih dengan nyaman bersandar di punggungnya dan tetep memeluknya sambil melamun.
(hahaha terlanjur nyaman ya neng)
"dek, adek udah sampai nih" menyadarkan Alya dari lamunannya.
"hah..." beo Alya karna merasa malu atas tingkahnya.
lalu ia turu dari atas motor bang Cakra sembari ingin melepaskan helm nya tapi tidak bisa.
"kenapa dek kok pipinya merah, hahaha" goda bang Cakra
"apaan sih bang, enggak ya" sambil masih berusah melepaskan pengait helm nya.
"kenapa gak bisa ya, sini coba Abang bantu lepaskan"
Alya pun mendekat kearah bang Cakra sambil menahan rasa malunya.
dia menatap bang Cakra yang sedang fokus membantunya melepaskan pengait helm yang terlihat macet. "ternyata bang Cakra ganteng juga ya kalau dilihat dari dekat" batinnya tidak sadar " eh eh apaan sih aku ini sadar Alya sadar" batinnya kembali berusaha menolak kenyataan bahwa dia terpesona dengan paras tampan bang Cakra.
"sudah dek" ucapnya sambil menatap mata Alya.
"kenapa dengan jantungku, setiap berdekatan dengan Alya kok debarannya kenceng banget, jangan sampai Alya dengar jangan sampai Alya dengar" batinnya dengan sedikit grogi.
"eh iya, makasih ya bang udah dikasih tumpangan, Alya mau masuk dulu" dengan manisnya ia bersikap lalu meraih tangan bang Cakra dan menciumnya takzim.
"Assalamualaikum, daa Abang hati hati" diiringi tawa riangnya.
"Waalaikumsallam" ujar bang Cakra sambil mematung di tempatnya. ia tak menyangka bahwa Alya akan salim dengannya. detik kemudia ia sadar dan senyumnya mengembang mengingat perlakuan manis Alya kepadanya.
"sepertinya aku jatuh cinta sama kamu dek" batinnya sadar.
"aku akan mengakhiri hubunganku dengan Sandra yang sudah lama tidak jelas dimana keberadaannya. tunggu Abang dek, Abang akan mengejar cintamu" lalu ia menyalakan motornya untuk kembali kebatalyon sebelum itu ia akan singgah ke supermarket membeli keperluan rumahnya dengan tak pernah luntur senyum lebarnya.
"bismillah, bantu hamba dapatkan hatinya ya Allah" doa batinnya.
...**************...
__ADS_1