
ayah Lingga mengangguk.
"kalian benar, dia Lettu Giandra Cakra Manggala alias serigala gunung"
"hah..." keduanya tampak tak percaya setelah benar benar mengetahui siapa yang berniat meminang sang adek bungsu.
"ayah serius?" sahut bang Tama
"iya, tadi siang dia berbicara dengan tegas dihadapan ayah. sebenarnya ayah ragu, bukan ke dianya tapi ragu dengan adek kalian. kalian tahukan bagaimana adek kalian itu. huufftt"
"emang Alya kenapa yah, gini juga udah bisa buat anak" ujar Alya memprotes seng ayah dengan polosnya.
ayah Lingga, bunda, bang Tama, dan bang saka kompak berkata "husss, ngawur kamu" karna kaget dengan jawaban Alya yang kelewat santuy.
sedangkan bang Bima malah tertawa cekikikan. dia tau seluk beluk sang adek yang memang terlihat dewasa tapi aslinya pikirannya saja se polos kertas putih dan terkadang malah memang kelewat santuy tanpa pikir omongannya hihihii..
"hahahah..." tawa bang Bima terpingkal pingkal..
"lihat tuh yah anak gadisnya kelewat polos banget ga tuh, hahaha" sang ayah hanya geleng geleng kepala sedangkan Alya yang tak terima dikatakan kelewat polos pun membantah
"hiihh paan si bang, Alya udah ngerti ya udah dewasa, jangan sitik deh pakek ngatain gitu" sewotnya.
"kalau gak polos apa namanya masih bocah bilang gitu an enteng banget, belum tau aja kamu rumah tangga sesungguhnya tidak hanya soal anak. masak aja gabisa, urus rumah juga tak pandai. makanya kalau ngomong tuh di pikir dek" jelas bang Bima sedikit mengejek.
"sudah sudah kenapa mulai lagi sih. ngalah ke sama adeknya. kamu itu kelewat usil juga sama adekmu"
lagi lagi sang ayah menengahi.
"tuh bang dengerin ayah", ucapnya masih sewot kepada bang Bima
belum sempat bang Bima menjawab, sudah di sela oleh sang ayah.
"udah, kamu juga dek gak usah ladeni abangmu"
dengan muka cemberut tapi akhirnya diam juga.
"sekarang ayah akan lanjutkan yang tadi ayah mau tanya jadi bagaimana tanggapan bunda sama kalian sebagai Abang Abang nya Alya?"
"kalau bunda terserah ayah saja, kalau ayah setuju tandanya ayah yakin pria itu baik buat Putri ayah kan"
"kalau Bima setuju setuju aja sih yah, secara ayah juga udah kasih lalu hijau. tapi kembali lagi sama si adek aja nantinya gimana"
__ADS_1
"Tama juga sama seperti bang Bima"
"begitupun Aksa yah. bener kata bunda sama Abang Abang. kalau ayah sudah setuju tandanya ayah percaya dengan laki laki itu. tapi balik lagi ke adek gimana mau terima apa nggak"
"yasudah, tinggal kamu aja nduk gimana kalau fiks ya Minggu depan lamarannya."
"t-yapi yah apa gak terlalu cepat. lagian Abang Abang juga belum ada yang lamaran masak Alya ngeduluin Abang Abang" ucapnya bingung.
"kalau menurut ayah enggak. punya anak gadis itu was was luar biasa nduk. dari pada anak gadis ayah terjerumus yang gak gak mending kalau memang sudah ada yang pasti dan tentunya itu laki laki baik ya gimana lagi. kalau masalah Abang Abang mu ya coba kamu tanya sendiri sama Abang abangmu"
"apa Abang Abang tidak keberatan jika Alya mendahului kalian" sambil tertunduk, masih tidak menyangka saja bang Cakra secepat itu berniat serius dengannya. sebenarnya ia pun tidak keberatan hanya saja masih ragu dan tidak enak mendahului pada abangnya.
"Abang sendiri gamasalah, Iki kan masih lamaran dek, Gatau kalau abangmu Tama sama Aksa"
"bang Tama bang Aksa apa keberatan kalau Alya mendahului Abang?" tanya nya pada Sanga bang yang berada di sebrang.
"tidak sama sekali Al, Abang malah ikut seneng kamu dilamar orang yang tepat yang bertanggung jawab" ujar bang Tama
"abang pun merestui adek, gak masalah kalau adek mau mendahului Abang. jodoh orang kan datangnya gak harus selalu yang tertua lebih dulu. untuk sekedar lamaran Abang gak masalah" ujar bang Aksa meyakinkan Alya.
"baiklah Abang, kalau gitu Alya mau ayah. tapi Abang Abang harus datang semua. Alya ga mau tahu ya bang. Alya mau didampingi kalian" ujarnya memelas.
"kalau Abang juga sama gak bisa janji tapi nanti bisalah diusahakan" ujarnya tersenyum melegakan seng adek bungsunya itu.
kemudian pandangan selanjutnya berakhir pada bang Bima ayang ada disampingnya.
"Abang gak akan berangkat tugas kan? Abang bisa nemenin Alya kan?" ujarnya
"iyaa adek Abang yang paling bawel. nanti Abang usahakan juga" sambil menyengir.
"ish bang Bima nyebelin. tapi awas aja kalau malah Abang yang gak ada dampingi Alya" ujarnya cemberut.
"iya iya neng Abang janji dampingi kamu" ujarnya meyakinkan dan dibalas anggukan kepala Alya.
"yasudah berarti sudah jelas ya, sudah sepakat ya.
nduk nanti kamu urus untuk jamuan tamu sama mama, bang Bima juga harus bantu mama dam adeknya."
"iya ayah" jawab keduanya.
"yasudah berhubung semua sudah ayah sampaikan dan sudah jelas semuanya boleh istirahat. Tama, Aksa kalian istirahat saja sekarang, maaf ya ayah dan keluarga disini sudah mengganggu waktu istirahat kalian."
__ADS_1
"apaan sih yah, gak ganggu sama sekali malah." bang Tama
"iya yah, malah seneng dapat kabarnya. ayah selalu melibatkan seluruh anggota keluarga meskipun berjauhan" bang Aksa sambil tersenyum.
"yasudah, trimakasih ya le, ayah tutup telepon nya"
"sama sam yah" jawab keduanya
"Assalamualaikum"
"waalaikumsallam"
........
setelah perbincangan yang terjadi di ruang tengah itu akhirnya semua bubar kembali ke kamar masing masing begitupun Alya.
sesampainya dikamar dia langsung mencari ponselnya untuk menghubungi bang Cakra, mrminta penjelasan mengapa sampai ada pembicaraan serius dengan ayah Lingga tapi ia tidak bercerita bahkan sekedar membuat rencana bersama.
saat sudah menemukan ponselnya, dengan tidak sabarnya langsung melakukan panggilan telepon tidak lewat pesan chatting.
"tuuuttt,, tuuuttt, klik"
"halo assalamualaikum adek" suara diseberang
"waalaikumsallam" jawabnya mulai tidak santai hahaha..
"tumben nih pacar Abang ngabari duluan langsung telpon lagi, ada apa kesayangan" ujarnya menggoda.
"ihh apaan sih bang. Alya sebel ya sama Abang, bete banget malah. kenapa Abang gak bilang kalau mau minta ijin ngelamar Alya ke ayah sih"
"oooo jadi telpon mau tanya itu? lucu banget sih pacar Abang, protes nih ceritanya" sambil cekikikan.
"ya gimana ga protes Abang aja gaada bilang apa apa, apa lagi ngajak diskusi tiba tiba ayah bilang kalau Abang minta ijin mau ngelamar Alya. kenapa gak rundingan dulu sih bang, sebel deh" cerocos nya karna jengkel dengan tindakan sang kekasih yang menurutnya terlalu grusa grusu.
"maaf dek bukannya niat gitu. bentar biar Abang jelasin dulu. tadi abang dipanggil komandan keriangannya, Abang juga bingung kok tumben gaada pancaran apa apa komandan manggil Abang. setelah di perjalanan Abang tanpa sengaja denger isu tentang kita dek, ternyata status hubungan Abang sama kamu menyebar. Abang sempat berprasangka apa komandan panggil Abang ada hubungannya dengan ini. dan ternyata benar ayah adek itu manggil Abang karna ingin menanyakan perihal hubungan kita sesudah mendengar berita tersebut...." bang Cakra pun menceritakan apa yang dialaminya diruangan komandan persis seperti cerita diatas.
"lalu Abang memberanikan diri meminta adek karna udah terlanjur ketahuan jadi sekalian aja, awalnya komandan tidak menerima pinangan Abang untuk adek tapi karna penjelasan Abang mungkin keteguhan Abang pada akhirnya di ijin kan dan Minggu depan komandan meminta Abang kerumah dengan membawa serta keluarga untuk melamar adek secara resmi. begitu ceritanya sayang"
sedangkan Alya yang mendengar akhirnya tau apa alasan seng kekasih memintanya secara pribadi kepada sang ayah tanpa berunding terlebih dahulu.
...***********...
__ADS_1