
saat malam hari setelah selesai makan malam dirumah ayah Lingga tengah berkumpul penghuni rumah di ruang keluarga.
ada ayah Lingga dan sang istri yang duduk berhadapan dengan Alya sang putri bungsu dan bang Bima sang putra sulung.
"khemm, begini ayah mengumpulkan semuanya ada yang ingin ayah sampaikan sama kalian terutama untuk kamu nduk" ujarnya sambil memandang kearah sang putri bungsu.
"tapi sebelum itu ayah ingin menelfon juga putra ayah yang lain" ujarnya.
"coba kamu telphon adek adekmu Bim" ujar ayah kepada bang Bima dan dingguki oleh bang Bima.
sedangkan Alya dan bunda masih dengan kebingungannya.
"sebenarnya ayah mau ngomong apaan sih tumben banget kayaknya serius deh" batin Alya.
"yah ini udah tersambung" ujar bang bima
"assalamualaikum bang" ucap kedua adik bang Bima atau kedua Abang Alya.
yaa ayah Lingga memiliki 4 orang anak 3 lali laki 1 perempuan. dan ketiga putranya mengikuti jejaknya menjadi seorang tentara anak pertama berada satu kesatuan dengannya. anak kedua ada di jawa timur tepatnya kota malang dan satu lagi ada di kota Bandung. sedangkan anak bungsunya ya si Alya itu putri satu satunya dari 4 bersaudara.
"waalaikumsallam" jawab bang Bima
"tumben Abang telpon bertiga gini, ada apa bang?" tanya bang Aksa anak ketiga ayah Lingga pada abangnya.
"iya karna ada perlu, ini ayah yang nyuruh Abang nelpon kalian" jawabnya
"sini bang handphone nya biar ayah yang bicara"
"ini yah" bang Bima menyerahkan handphone nya pada sang ayah.
"assalamualaikum ayah" ujar kedua putranya di sebrang sana.
"waalaikumsallam le"
"maaf ya kalau ayah ganggu waktu istirahat kalian. ini ayah ngumpulin anak anak ayah sama bunda kalian juga ada yang ingin ayah sampaikan hal penting, ayah ingin kalian juga tau"
"enggak kok yah Tama hari ini lepas"
"Aksa juga yah habis turun piket"
__ADS_1
"emang apa yang mau ayah sampaikan?" tanya keduanya bersamaan.
"khem,, jadi gini ini tentang adek bungsu kalian anak gadis ayah dan bunda" menjadi kalimatnya.
"Alya yah?" ucap spontan Alya
dan ayah mengangguk.
"ada yang memintanya pada ayah secara pribadi meminta izin melamar anak gadis ayah bunda, adek bontot kalian"
ketiga kakaknya hanya diam mendengarkan, sedangkan Alya sang adek terlihat syok. dan sang bunda langsung menyahuti ucapan ayah Lingga.
"jangan main main yah, siapa yang dengan tiba tiba ingin melamar putri kita. sedangkan Alya juga gak pernah cerita sama bunda dia dekat dengan siapa bahkan bunda gak pernah tau Alya punya hubungan dengan cowok diluar barang seklipun" ucap spontan Karen tidak percaya putri kecilnya yang masih termasuk remaja itu sudah diminta oleh laki laki.
"siapa yah laki laki yang sudah berani meminta si bungsu langsung pada ayah?" tanya bang Tama dari saluran teleponnya.
"apakah kami kenal dengan orang itu yah?" sahut bang Aksa.
sedangkan bang Bima hanya diam menyimak, tidak tau harus berkata apa karna setahunya sang adik hanya dekat dengan satu laki laki selain anggota keluarga dan para ajudan sang ayah bahkan dia mengingat dikontak sang adik tertulis nama Calon Suami❤️ tapi dia tidak mengira bahwa ternyata akan secepat ini seng adek di lamar orang.
"bisa jadi. coba saja kalian tanyakan pada adek kalian" ucap ayah Lingga yang ingin mengetahui kepekaan sang putri apakah jujur atau tidak tentang hubungannya. sebab itu ia meminta agar Abang abangnya Alya bertanya sendiri kepada Alya.
ayah Lingga mengangguk "iya itu dia."
"a-apa, ke-kenapa bisa?" tanyanya balik karna bingung
"lah trus emang kenapa gak bisa nduk? kamu ini aneh masak tanya begitu" ledek ayah untuk sedikit mencairkan suasana yang sedang tegang.
"y-ya karna belum pernah ada omongan itu ayah antara Alya sama bang cakra" lirihnya
"tapi ayah mau tanya sebelumnya, kenapa Al gak pernah cerita tentang hubungan kalian dari awal, Sampai ayah harus tahu dari orang lain, hufftt"
"ma-maaf ayah, bukannya Alya gak mau kasih tau tapi memang belum Nemu saja waktunya. ta-tapi malah ayah denger dulu dari orang lain"
"yasudah gpp,, yang pasti sekarang kan sudah jelas. jadi gimana kamu nduk, karna ayah sudah mengiyakan Cakra untuk melamar mu Minggu depan" ujarnya tapi malah menambah kaget orang orang yang mendengarnya.
"hahh a-apa yah, mi-minggu d-depan?" syok Alya.
dan ayah Lingga hanya mengangguk
__ADS_1
"t-tapi kenapa harus secepat itu ayah" yang hanya di balas gendikan bahudari sang ayah.
setelah mendengar percakapan Alya dan ayah Lingga, bang Bima yang ada diamping Alya pun langsung menyambar sebuah pertanyaan untuk sang adek.
"jangan bilang kalau kontak yang kamu namai calon suami pakek lope lope itu bang Cakra" selidik bang Bima karna kaget tapi terlihat polos membuka privasi seng adik yang membuat Alya salah tingkah.
"iiihh, Abang apaan sih, iya itu bang Cakra tapi ga perlu di perjelas jika kenapa"ucapnya jengkel dengan bang Bima sampai mencubit perut abangnya.
"aduh,, sakit tau Al, gak kira kira nih anak kalau nyubit"
"habisnya Abang ngeselin kenapa buka privasi orang sih, bete deh sama Abang" ucapnya memanyunkan bibir.
"dih, ya maap dek itu kan spontan" cengirnya.
"hiiihh, kan jadi malu Abang" berujar lirih karena kesal seng Abang sudah membuka privasinya.
"ya maap to cah ayu, adek abang yang cantik sendiri"
"iyalah orang adek Abang yang cewek cuma Alya" sewotnya yang di balas cekikikan bang Bima
"sudah sudah kalian ini orang serius ujung ujungnya bercanda lagi tengkar lagi" ayah Lingga yang ga habis pikir dengan dua anak nya itu. apa lagi anak sulungnya yang memang selalu bisa mencairkan suasana.
"Abang tu yah, ngeselin. adek kan jadi malu" ucapnya
"hallah, akting tuh yah aslinya mah seneng" masih terus menggoda sang adik.
"abaaang" jengkel alya
"hahaha.." tawa puas bang Bima
"hus sudah, lanjut anti dulu kalau tengkar. selesaikan dulu pembicaraan serius ini" ayah Lingga menengahi dan kedua anaknya mengangguk
sedangkan dua putranya yang berada di sebrang tetap termenung diam. seperti tidak asing dengan nama seseorang yang di sebutkan sang ayah meminang si bungsu.
"yah, yang ayah maksud bang Cakra itu apa Lettu giandra Cakra Manggala?" tanya bang Aksa
"ah iya akupun seperti tak asing dengan nama bang Cakra disebut, dan setelah Aksa memperjelas aku baru ingat. apa benar orang itu ayah?" tanya bang Tama.
...*************...
__ADS_1