CINTA ABANG TENTARA (Penantianmu)

CINTA ABANG TENTARA (Penantianmu)
Tak Terduga


__ADS_3

setelah semua huru hara dilewati mulai dari rempong nya mempersiapkan barang bawaan atau hantaran untuk lamaran, lupa mengabari orang tua sampai kena omel sang mama dan keribetan keribetan lainnya. kini saat nya hari lamaran itu tiba.


di rumah dinas bang Cakra sudah berkumpul para anggotanya beserta keluarga yang sudah bersiap siap menata barang bawaan yang akan di bawanya kerumah gadis yang akan dilamarnya. sedangkan di dalam kamarnya bang Cakra masih asik sibuk mondar mandir mencari sesuatu. hingga suara sang mama memecahkan konsentrasinya.


"cakra, cepat siap siap sudah hampir jam nya nih. masa yang mau lamaran malah belum siap"


"iya maa sebentar" ujarnya dari dalam kamar


"ngapain sih kamu lama banget cepetan to le" jengkel sang mama


"i-iya iya ma bentar lagi Cakra keluar" masih mnegubek ubek isi kamarnya mencari dimana kira kira cincin itu berada.


"cakraaaa, mama hitung Sampek tiga kalau kamu gak keluar juga mama yang masuk" peringkatnya


"satu......"


"duaa....."


"tii-ga...... oke deal mama yang masuk"


kemudian sang mama pun masuk kedalam kamar bang Cakra dan mendapati kamar sang anak berantakan seperti kapal pecah


"masyaallah leeeee,,, ngapain kamu obrak Abrik kamar begini Sampek kaya kapan pecah"


bang Cakra yang di beri pertanyaan oleh sang mama hanya garuk garuk tengkuk kepalanya yang tidak gatal


"kenapa coba kamu jelasin sama mama"


"emm i-itu ma, a-anu e-emmm" jawabnya terbata bata


"apa,, yang jelas kamu ngomongnya,, mau mama cubit tuh mulutnya biar bisa ngomong jelas" ancam sang mama


"e-em tapi mama janji dulu ja-jangan ma-marah marah" sedikit takut dengan kegarangan seng mama.


"iya udah, cepet mau bilang apa"


"i-itu ma, cincin lamarannya hilang" lirihnya


"apaaa hilang?" teriak sang mama kaget


papa yang berada tak jauh dari mama dan anak itu pun menghampirinya.


"apa ma yang hilang" sahut papa.

__ADS_1


"duh paaa gimana ini masa kata anak Lanang mu cincin lamarannya hilang"


sedangkan sang papa hanya geleng geleng kepala karna kenyataannya tadi pagi ia menemukan kotak cincin itu tergeletak di nakas sebelah televisi kemudian menyimpannya karna takut hilang atau tidak sengaja terselip.


"kenapa papa santai banget" tanya sang mama


"karna cincinnya gak hilang. nih ada sama papa" sambil mengeluarkannya dari saku celananya.


"hah,, kok bisa" ujar bang Cakra dan mama


"ya bisalah, orang papa nemu di nakas sebelah tv tadi pagi, dari pada keselip atau bahkan hilang yaudah papa kantongi aja. rencananya mau papa kasih id mobil, eh tapi udah pada ribut disini kehilangan cincin" jelasnya.


"oooooo" beo sang mama. sedangkan bang Cakra.


"hah" bang Cakra yang masih belum ingat dia meletakkan itu di nakas.


"kenapa?" tanya sang papa. "makanya jangan teledor jadi orang" peringatnya. "yasudah ayo kita kedepan semua sudah nunggu dari tadi kasihan, malah yang mau lamaran belum juga keluar. gak enak sama anak buahmu itu" ajak papa.


"nih di simpen yang bener" perintahnya pada bang Cakra. "ayo ma kedepan duluan" menggandeng sang istri dan berlalu meninggalkan bang Cakra yang bengong.


"kok bisa sih" dialognya dengan diri sendiri. masih belum ingat apa apa sambil garuk garuk kepalanya.


"ya sudah lah yang penting ketemu, sekarang waktunya kerumah calon istri" ujarnya mesam mesem.


.............


sedangkan di kediaman Alya sedang sibuk mempersiapkan jamuan untuk tamunya yang di perkirakan tidak sedikit hehehe.. tidak hanya bunda dan sang bibi saja tapi Abang Abang Alya pun turut membantu sang bunda.


ya seperti janjinya saat di telepon waktu itu kalau Alya ingin para abangnya mendampingin dia di prosesi lamarannya. dan alhasil sekarang semua abangnya berkumpul ada bang Bima bang Tama dan bang Aksa sedang membantu bunda menata hidangan. sedangkan ayah Lingga kini sedang termenung di teras belakang rumahnya.


Alya yang melihat sang ayah diam termenung pun menghampirinya.


"ayah kenapa? ayah kok lesu gitu?" tanya nya


"apa ayah gak seneng kalau Alya mau dilamar?" tanyanya lagi yang hanya mendapatkan gelengan kepala dari sang ayah.


"ngomong dong yah, kalau ayah sedih Alya ikut sedih jadinya" ujarnya mulai berkaca kaca.


"enggak nduk, sini duduk samping ayah" lalu membawa putrinya duduk di sampingnya


"ayah kenapa?" tanyanya lagi


"ayah gapapa"

__ADS_1


"kalau gapapa kenapa murung yah" masih belum puas dengan jawaban sang ayah.


"gapapa nduk, ayah gapapa. ayah cuma kepikiran aja, ternyata ayah udah tua ya ehehe. sekarang putri bungsu ayah aja udah mau di lamar laki laki, Putri ayah udah dewasa" berkata dengan berkaca kaca.


"ayah jangan sedih gitu dong, nanti Alya ikut nangis, hiks" ujarnya tak lama kemudian sudah terdengar sja isakan nya.


"ush ush ush, sudah sayang kenapa malah kamu yang nangis nduk, ayah gapap ini Lo" mencoba menengkan seng putri.


"sudah sudah ayah gapap, jangan mewek lah nanti riasannya luntur kan gak lucu kalau anak ayah lamaran nanti penampilan kaya Wewe gombel hahaha" menenangkan sang putri dan mengalihkannya dengan candaan untuk menutupi juga rasa tidak relanya.


"iiihh ayah nyebelin deh orang anak nya cantik juga malah disamain kaya Wewe gombel" nah kan akhirnya si Alya kepancing juga dengan candaan ayhanya yang mengalihkan agar suasana tidak sedih.


sedangkan sang bunda yang dari tadi melihat interaksi keduanya hanya mengukir senyum tipis. dia tahu bagaimana kekhawatirannya sang suami kepada anak gadisnya.


"hahaha,, ayah bercanda nduk. udah sana kamu masuk benerin tuh riasannya biar cantik lagi. ayah mau temuin bunda lah mau manja manjaan SMA bunda.." ujarnya menggoda sang anak yang dasarnya mudah terpancing.


"huuuu ayah, cari kesempatan aja. yaudah deh Alya mau kekamar dulu trus temuin Abang Abang.


"iya sana" setelah mendengar perintah ayah Lingga, Alya pun bergegas pergi dan begitupun ayah yang mengalihkan keresahannya dengan merecoki sang bunda. setidaknya dia tidak begitu kepikiran masalah putrinya.


.............


jam hampir menunjukkan waktu dimana disepakatinya acara lamaran. tidak lama kemudian datanglah rombongan laki-laki dengan bang Cakra berjalan kearah rumah dengan diapit oleh papa mamanya.


"assalamualaikum"


"waalaikumsallam" suara jawaban dari dalam rumah kemudian di iringi orang rumah yang keluar menyambut tamunya.


saat sudah berhadapan dengan tamunya. papa bang Cakra dan ayah Lingga saling menatap kaget.


"loh. Candra.."


"lingga..." ucap keduanya bersamaan.


"masyaallah broo gak nyangka saya kalau Cakra itu anak mu, hahahah"


"apa lagi aku let ga nyangka banget ternyata dia tugas di wilayahmu bahkan mau melamar putrimu sekarang hahahaha" heboh keduanya saling berpelukan seperti teman lama yang baru berjumpa kembali setelah sekian lama.


sedangkan bang Cakra yang melihatnya bingung sekaligus terkejut tidak menyangka kalau papa dan komandannya adalah teman lama.


"hah, papa sama komandan saling kenal?...."


...************...

__ADS_1


__ADS_2