
"cakraaa..."
"dor dor dor dor..." di iringi suara gedoran pintu.
bang Cakra yang hafal dengan suara orang yang sedang memanggilpun langsung panik.
"alamak,, si mama datang" batinnya
sedangkan bang prabu melihat sang sahabat yang sepertinya ragu untuk membukakan pintu langsung nyelonong membuka pintu rumah.
"dor dor dor tak"
"aduh jidat guaaa" grutu bang prabu yang mendapatkan hadiah getokan saat membuka pintu rumah. sedangkan yang mengetok pintu tidak sempat menghentikan ketukan tangannya dikarenakan pintu tiba tiba dibukak. alhasil ketokan mendarat di jidat bang prabu. hahaha...
"eh,, maaf maaf nak. maafin tante gak sengaja" ucapnya sedikit menyesal karna salah sasaran.
belum juga bang prabu menjawab ada yang menyelanya.
"kenapa ribut ribut nih" bang Cakra datang dengan tampang sok selow nya padahal sih ragu sang mama akan mengomelinya panjang lebar ahaha..
"nah ini nih biang keroknya, dasar anak bandeellll. sini kamu, buat ulah trus aja. bisa bisanya mau ngelamar anak gadis orang lusa tapi mama baru di beri tahu tadi pagi. udah gitu gak dikenalin pula calonnya siapa. dasar anak nakaaalll" jengkel sang mama sambil menjewer telinga bang Cakra yang di sambut teriakan kesakitan bang Cakra.
"aduh duh maa,, mama lepasin dulu Napa, sakit nih adu aduh" sedangkan bang prabu yang melihat itu malah tertawa terbahak bahak melihat sang sahabat tersiksa sampai sampai di melupakan jidatnya yang sakit juga.
(Hahaha dasar teman gada akhlak ya)
"gak,, mama jengkel ya sama kamu cak, gak habis pikir mama itu sama kamu ada aja ulahnya bikin orang tua hampir jantungan" jengkel sang mama yang masih tidak mau melepaskan jewerannya.
"asshh aduh maa udah dong,, gak lucu kan nanti kalau telinga Abang melar. aduh duh"
"biarin biar kapok kamu, abis mama jengkel banget sama kamu itu."
tiba tiba papa bang Cakra ikut masuk rumah di ikuti oleh ajudannya yang bernama Aril. "sudah sudah ma, mama lepasin ya, mama kan baru sampek mama pasti juga capek mending mama istirahat biarin nanti Cakra jadi urusan papa. mama gausah marah marah sayang kan perawatan mama nanti keriput gimana,, emang mama mau?" ujar papa yang tanpa sadar juga mancing emosi sang istri.
"iya si pa mama gamau kalau nanti jadi keriput." ujarnya masih belum sadar. tapi sedetik kemudian ia menyadari ucapannya.
"a-apa papa bilang mama keriput" teriak sang istri sedangkan papa bang Cakra gelagapan menyadari dirinya yang salah berucap.
"duh si papa pakek cari perkara baru lagi" batin bang Cakra.
__ADS_1
"e-eh,, eng-enggak ma, ma-maksud papa bu-bukan gitu"
"gitu gimana?" sewot seng mama
"sudah sudah, mending mama istirahat biar fresh. papa kasian sama mama kecapekan an gitu" mencoba menyelamatkan diri.
"huufftt,, ya sudah mama mau istirahat aja. dari pada di sini bikin darting aja."
"yasudah ayo ma, papa antar sekalian taruh koper mama juga." setelah itu berlalu masuk ke dalam kamar tamu yang berada di sebelah kamar bang Cakra yang sudah di tunjuk nya.
"hufftt slamet slamet" ujar bang Cakra lirih yang di sambut kekehan bang prabu.
"baik baik lu pot, si tante kalau marah ganas, hahaha" ucapnya diikuti tawa renyah menggelegar dan langsung mendapat teguran keras dari bang Cakra.
"hus,, jan ngadi ngadi lu, mau buat mama keluar kamar lagi. bisa bisa yang kenak bukan cuma gua tapi lu juga."
"ih,, ogah ya gua, mending gua pulang ja dah maen game"
"dih, gajelas lu. yaudah sono pulang hus huss."
"waahh,, parah lu pot. temen ndiri di usir"
"brak" suara pintu di tutup sedikit keras
"dasar teman gada akhlak,, awas lu kualat ama gua lu pot" ujarnya tak terima.
"bodo amaat" jawab bang prabu yang masih mendengar teriakan sang sahabat.
"au ah males gua mending pulang nge-game sambil tiduran" kemudian berlalu pulang.
.............
ke esokan harinya di pagi hari sedang berkumpul mama papa dan bang Cakra sedangkan sang ajudan ayah kemarin meminta ijin untuk tidur bersama temannya di barak batalyon.
"khem le, kamu gak mau cerita apa apa sama papa?" tanya papa
"iya,, mama pengen tau calon mantu mama, wanita seperti apa yang ingin kamu lamar"
"baiklah pa, Cakra akan cerita tapi setelah kita makan"
__ADS_1
"yasudah kita lanjutkan dulu saja sarapan nya"
skip setelah sarapan di rung keluarga.
"sekarang coba kamu ceritakan le" perintah sang papa.
"iya pa. jadi gadis ini belum lama Cakra temui itupun tanpa sengaja. sebelum dengan yang sekarang, Cakra memiliki hubungan dengan cewek lain namanya Sandra. sudah lumayan lama tapi ternyata putus juga, mungkin bukan jodohnya" jedanya dan dlm cerita ini dia tidak mau membeberkan fakta mengapa da putus dengan Sandra.
"aku dan sandra putus pada saat aku belum mengenal calonku ini, tapi aku sudah pernah dipertemukan oleh takdir dengan yang sekarang. tapi alasan putus sama Sandra bukan karna yang sekarang tapi memang belum jodoh aja udah jalannya dari Tuhan."
"berarti kamu belum lama kenal dengan gadis yang akan kamu lamar??"
"benar ma baru beberapa bulan"
"tapi kenapa kamu sudah memutuskan untuk melamarnya? apa kamu sudah yakin? apa ini bukan bentuk pelampiasan kamu saja karna putus dengan Sandra?"
"jangan main main kamu le" ujar papa tegas
"enggak ma pa, ini bukan pelampiasan atau main main. Cakra serius dengan gadis ini. dia wanita yang baik masih polos ya meskipun dalam segi usia terpaut cukup jauh dengan Cakra tapi Cakra nyaman ma sama dia. Cakra benar benar jatuh cinta dengannya" bercerita sambil matanya berkaca kaca karna terharu mengenang pertemuan keduanya dan bagaimana awal mula tumbuh rasa cinta diantara keduanya.
"emang berapa umurnya?"
"18 tahun ma pa" ujarnya santai tapi dia tak kepikiran bahwa kedua orang tuanya akan menanggapi dengan tidak santai yang akhirnya menyebabkannya kaget.
"apaa 18 tahun" teriak mama papa.
"astaghfirulloh maa, paa,, kenapa musti teriak sih" gerutunya karna kaget.
"gausah nyalahin mama papa, gak nyadar kamu udah bikin orang tua syok. duh gustiii cakraa dia masih remaja, udah kamu lamar aja. jangan jangan kamu maksa ya"
"ya enggak lah pa, ngawur aja nih papa."
"terus apa namanya, papa tebak pasti kalau gak masih SMA ya baru lulus"
"papa benar dia baru lulus sekolahnya"
"hwaduuhh,, apa gak di damprat kamu sama bapaknya, berani beraninya ngelmar anaknya yang masih remaja lagi" heran seng papa
"dasar anak nakal" jengkel sang mama yang tak bisa lagi berkata apapun.
__ADS_1
...***************...