Cinta Beda Usia Terhalang Restu

Cinta Beda Usia Terhalang Restu
Bab 14: Kampus


__ADS_3

H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


🌹✨💞✨🌹


Aksa mengajak semua anggota team-nya untuk kembali ke bus. Nian hanya bisa menatap mereka. Mei jadi merasa bersalah, padahal dia yakin kalau Aksa suka pada Nian, tapi kenapa jadi begini.


"Cinta pertamaku berakhir di kota B," batin Nian sedih. Air mata nya hampir jatuh.


"Nian, kamu gapapa?" tanya Mei. Melihat wajah sedih Nian.


"Tidak, ayo balik," jawab Nian. Pergi lebih dulu meninggal Mei.


Mei kasihan melihat Nian seperti sekarang.


Di Sisi lain Aksa dan anggota lain sudah tiba di hotel penginapan mereka.


"Apa yang akan kau lakukan pada gadis itu?" tanya Eni, penasaran. Berdiri di dekat Aksa.


"Siapa?"


"Gadis berwajah bulat dengan mata besar serta mengenakan rok pendek itu."


"Nian?"


"Iya."


"Sudah selesai."


"Selesai? Bagaimana?"


"Sudah selesai ya berarti tidak ada apa-apa."


"Aksa, sekali saja. Jangan terus memikirkan anak-anak. Sekali-kali urus diri mu sendiri. Umur mu tidak lagi muda, sudah saat nya kau mencari pacar. Dan aku merasa gadis itu cukup baik untuk mu," ceramah Eni dan Aksa hanya diam, jadi Eni pun keluar.


Nian juga sudah pulang. Dia masih sangat sedih karena patah hati. Dia membuka laptopnya dan membuka folder yang berisi foto-foto Aksa. Melihat foto-foto itu, membuat hatinya semakin sedih.


Dia teringat ucapan Aksa agar mereka tidak perlu saling bertemu lagi. Dengan kesedihan di hatinya, Nian menghapus semua foto Aksa dari laptop-nya.


Tapi, baru juga di hapus, Nian membuka laptop-nya kembali. Foto-foto itu masuk ke recycle bin. Dan Nian mengganti nama : recycle bin menjadi APD. Dia tersenyum kecil.


 


Dua hari berlalu.


Nian sudah rapi dan bersiap pamit pada ibunya untuk keluar.


"Ma, aku pergi dulu."

__ADS_1


"Ke mana? ingat kita harus belanja keperluan untuk tahun baru nanti," ujar Mama.


"Aku tidak bisa Ma, Rio sudah menunggu ku kampus."


Mendengar nama Rio ibu jadi bersemangat.


"Apa kau dengan Rio pacaran?"


"Tidak. Mama jangan ngacau. Aku pergi dulu, bye," pamit Nian, langsung pergi.


Satu jam kemudian.


Nian tiba di kampus dengan motor nya. Dia langsung masuk ke kelas dan sudah banyak orang. Nian sampai kaget karena sangat banyak orang. Di dalam sudah ada Rio dan Jesy.


Nian masuk ke dalam.


"Ada apa ini, kenapa ada banyak orang?" bisik Nian pelan pada Jesy.


"Rio takut kalau nanti suasana akan sunyi dan canggung jadi Rio mengundang siswa tahun pertama dan kedua juga," jawab Jesy, menjelaskan.


"Semangat semua akan baik-baik saja," Jesy menyemangati Nian untuk tidak gugup.


"Terima kasih, kau juga," balas Nian.


Pertama-tama Rio mulai dengan memperkenalkan Nian yang adalah juara kedua di kompetisi ACM Computer Programming. Dan hari ini, Nian akan menyampaikan pidato mengenai AI (Artificial Intelligence). Semua bertepuk tangan dengan keras.


Nian selesai menjelaskan mengenai AI kepada para audiens. Setelah itu, dia memperkenalkan juga Rio yang bertanggung jawab untuk pengobatan medis dan sekarang sedang bekerja di deptradiology rumah sakit daerah yang terkenal.


Pada tahun 2019, Rio juga di undang ke konferensi tahunan radiology Eropa. Semua audiens langsung bertepuk tangan. Dengan ramah.


Salah satu audiens, mengangkat tangan dan bertanya.


"Siapa yang bertanggung jawab untuk investigasi kriminal?"


"Saya sendiri dan akan di bantu oleh Jesy untuk hal itu (sepertinya mengenai kuliah mereka, mengenai pembuatan AI gitu. Jadi, Rio membuat AI untuk pengobatan medis, dan Nian dan Jesy membuat AI untuk membantu investigasi kriminal)," jawab Nian.


Dia juga dengan semangat menjelaskan kalau dia dan Jesy sekarang sedang membuat sistem pengenalan wajah. Hal itu di buat agar membuat mereka lebih mudah menangkap penjahat.


"Aku juga ingin bilang sesuatu dari hatiku bahwa ini semua tidak ada hubungannya dengan Al. Beberapa tahun ini, pengalaman terbesarku adalah ... aku sering melakukan perjalanan ke luar negeri untuk kompetisi. Ketika aku di Inggris, aku merasa sangat iri pada orang-orang sana. Kenapa? Mereka hanya perlu menggunakan 1 kartu untuk melakukan banyak hal. Saat itu, aku berpikir, kapan kita bisa melakukan hal seperti itu? Tapi, tidak di sangka, dalam waktu singkat, beberapa tahun kemudian, kita pun bisa melakukan segala hal yang kita inginkan melalui ponsel. Kita dapat menggunakan nya untuk membayar makanan, kopi, bahkan di rumah sakit dan semua hanya di lakukan dengan men-scan code QR. Aku merasa sangat bangga. Bukankah kalian juga begitu?" pidato Nian. "Masa depan tergantung pada kalian semua, jadi lakukan sebaik nya, bangga kan orang tua dan keluarga kalian!" ucap Nian mengakhiri pidato nya.


Selesai acara. Nian pergi, belum jauh meninggalkan kedua teman nya. Mereka memanggil menghentikan langkah Nian.


"Kenapa?" tanya Nian. Berbalik menatap kedua orang tersebut.


"Makan bareng yuk, sudah lama kita gak makan bareng," jawab Jesy, mengajak Nian.


"Maaf Jes, aku gak bisa. Sekarang harus ke toko buku," tolak Nian.

__ADS_1


"Ayo lah, Nian. Ke toko buku nya bisa kapan-kapan saja. Sekarang kita makan bareng yuk. Di dekat sini ada cafe. Makanan nya enak, kamu pasti suka," ujar Jesy membujuk Nian.


Huh.


Nian menghela nafas panjang.


"Baiklah, ayo pergi," Nian menyetujui nya, dia tak tega pada Jesy terus memohon.


Dalam perjalanan menuju cafe. Nian berpapasan dengan Aksa dan manager. Nian menyapa mereka, tapi Aksa bersikap cuek, namun tidak manager dia membalas sapaan Nian.


"Nian, kamu di sini juga?"


"Iya, Kak. Apa Kakak ke sini untuk makan?"


"Iya, sekalian pesan makan untuk anak-anak. Kamu sendiri?"


"Kami juga ingin makan," jawab Nian. Mata nya mencuri pandang melihat Aksa yang cuek, tak melihat pada nya.


Eni menyadari itu, kasihan pada Nian. Dia tidak bisa menyalahkan Aksa. Karena sifat Aksa memang seperti ini. Sejak dulu tak pernah mau berhubungan serius dengan perempuan.


"Kita gabung saja, gapapa kan Aksa?" tanya Eni. Menoleh menatap Aksa.


"Iya," sahut Aksa.


"Kak Aksa benar-benar tak ingin mengenal ku lagi seperti nya," batin Nian sedih.


Di meja, Nian tak lagi mencuri pandang menatap Aksa.


Nian Fokus pada ponsel nya. Entah apa yang di lakukan, dia menyibukkan diri dengan mengotak-atik ponsel.


"Kalian ingin pesan apa? biar di satu kan saja nanti," ucap Eni.


"Nian?"


"Hah, iya. Aku tidak usah kak. Masih kenyang, tadi juga ke sini karena bujukan teman-teman," ujar Nian.


"Makan saja, lagian makan tidak akan membuat mu begitu gemuk bukan?" ucap Aksa. Mendengar perkataan Nian, dia langsung nimbrung.


"Maksud Kak Aksa apaan sih? apa dia sedang menyindir ku?" batin Nian bertanya.


"Terima kasih, tapi bukan seperti itu. Saya benar-benar masih kenyang," sahut Nian.


"Ya sudah tidak apa, saya akan memesan makanan ringan untuk Nian, jadi Nian akan ikut makan bersama dengan kita," ucap Eni menengahi.


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...

__ADS_1


__ADS_2