
H 4 P P Y R 3 4 D I N Gπ»
πΉβ¨πβ¨πΉ
keesokan hari, pagi yang cerah Nian terbangun karena bunyi dering ponsel menganggu waktu tidur nya.
Dengan malas-malasan, Nian bangun.
π:"Hallo," ucap Nian dengan suara khas bangun tidur.
π:"Apa kau masih tidur?" tanya seseorang di sebrang sana yang menghubungi Nian.
π:"Iya, ini dengan siapa Ya?" tanya Nian.
π:"Sekarang cepat bersiap, saya akan datang menjemputmu. Kakek ingin bertemu."
π:"Kakek?
Dan seketika itu, Nian tersadar akan suara seseorang di sebrang sana yang berbicara dengan nya.
Nian bergegas bangkit dari kasur, dan mengucek mata.
π:"Nian apa kau masih di sana? apa kau mendengarkan ku?" tanya Aksa, sebab dia tak mendengar suara Nian lagi.
π:"Iya Kak, aku di sini. Aku mendengar semua nya," jawab Nian.
π:"Bagus, sekarang bersiaplah, sebentar lagi saya akan menjemputmu," ucap Aksa.
π:"Emangnya harus sekarang?" tanya Nian.
π:"Iya, apa kau keberatan?"
π:"Tidak, tapi hari ini saya ada kampus kak."
π:" Oh, jangan pikirkan itu, biarkan masalah itu jadi masalah saya."
π:"Tapi."
π:"Jangan khawatir semua akan beres, sekarang bersiaplah 30 menit nanti saya akan tiba."
Tut.
Panggilan di matikan secara sepihak dari sebrang Aksa, Nian yang mendapat perlakuan Aksa semena-mena menjadi kesal.
"Apaan sih Kak Aksa, hari ini aku kan ada kuis, kalau gak ikut bagaimana dengan nilai ku nanti?" gerutu Nian, meletakkan kembali ponsel di meja dan beranjak bangun dari tempat tidur.
__ADS_1
Di sisi lain, Aksa sudah bersiap-siap untuk menjemput Nian, pagi-pagi kakek adrian menelpon sudah seperti mengajak nya debat bahasa Indonesia, hanya karena ingin membawa Nian ke rumah.
Nian tidak memiliki pilihan lagi, mau tidak mau harus menuruti.
"Bos, pagi-pagi kau kemana? tumben sudah rapi?" tanya salah satu anggota ultra.
"Sana bersiap-siaplah, meski saya tidak ada untuk mengawasi kalian secara langsung, mata-mata saya banyak jadi tetap latihan dengan benar," ucap Aksa.
"Ayolah Bos, beri kami waktu sejenak untuk bersenang-senang, jangan terus latihan," protes Radit.
"Senang-senang?" tanya Aksa penuh penekanan.
"Iya."
"Tidak Bos, kami tidak membutuhkan itu, kami akan giat latihan agar menang. Jika Bos ingin pergi, silakan kami tidak akan mencegahnya," ucap Nino cepat takut terkena masalah dari perkataan Radit.
"Saya akan pergi sekarang, latihan kalian akan tetap saja awasi dari jauh, jangan coba-coba tidak latihan," tegas Aksa.
"Di Mana Riko? apa dia sudah bangun?" sambung Aksa.
"Sudah Bos, Riko sekarang berada di taman sedang berolahraga, apa perlu kita panggil menemui bos?" tanya Dimas, menawarkan diri memanggil Riko agar terhindar dari Aksa.
"Tidak perlu, kalian pergi bersiaplah. Saya akan menghampiri Riko sendiri," tolak Aksa dan memilih pergi sendiri.
"Baik Bos," sahut mengerti mereka dan segera pergi meninggalkan Aksa.
Aksa berjalan ke taman, dia masih belum melihat keberadaan Riko di sana, mungkin saat ini Riko sedang joging hingga dia tidak melihat keberadaan nya sekarang.
Beberapa menit kemudian, Riko muncul dan Aksa melihat itu memandang nya, dan sebaliknya dengan Riko.
"Ada apa?" tanya Riko melirik Aksa, tanpa menghentikan aktivitas olahraga nya.
"Kenapa?" tanya balik Aksa.
"Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan pergi lah, jangan mengganggu," usir Riko merasa kehadiran Riko sangat mengganggu.
"Kau mengusir ku?" tanya Aksa dengan memberi tatapan tajam pada Riko.
"Tidak, sekarang katakan Kak, jangan membuang waktu. Kasihan dia jika harus di suruh menunggu mu yang belum juga pergi hingga sekarang," jawab Riko.
"Jadi kau sudah tau tentang ini? sejak kapan? apa permintaan kakek ini semua ide mu?" tebak Aksa menuduh Riko adalah otaknya.
"Jangan sembarang!" protes Riko tidak terima.
"Lalu dari mana kau tau? tidak mungkin mau tau begitu saja, bukan?" tanya Aksa.
__ADS_1
"Benar, apa itu masalah? kakek sendiri yang menghubungi ku, kakek juga menyuruhku memastikan kau pergi atau tidak," jawab Riko.
"Apa-apaan ini, semua karena kau, jika saja kau tidak berkata seperti itu, saya tidak harus terjebak dalam hubungan ini," marah Aksa tidak terima, menatap kesal Riko.
"Jalani saja Kak, move on jangan berlarut dalam masa lalu, hidup terus berjalan, tidak melangkah mundur, jadi lihat ke depan karena jalan masih panjang," nasehat Riko menyadari Aksa agar dapat membuka mata tidak terus berjalan dengan menutup mata.
Ceramah Riko panjang lebar sedikit membuat Aksa pusing.
"Sudah jangan banyak bicara. Saya ke sini hanya untuk mengatakan awasi anak-anak latihan selama saya pergi," ucap Aksa, lalu pergi meninggalkan Riko.
"Ya, selamat bersenang-senang," teriak Riko memandang kepergian Aksa semakin jauh dengan nya.
Riko sengaja berkata seperti itu untuk mengejek Aksa, dia hanya ingin yang terbaik untuk Aksa, sepupu nya bahagia dan tidak lagi mengingat masa lalu.
Masa lalu Aksa sudah mengubah pribadi Aksa yang dulu hangat menjadi dingin. Aksa yang dulu ceria, menjadi tertutup. Semua karena cinta.
Dia berharap kali ini cinta nya tidak seperti dulu. Meski dia pun sama dengan Aksa perjalanan cinta yang buruk, berantakan tidak mulus.
"Aku berdoa yang terbaik untuk mu Kak, aku berharap cinta mu kali ini tak bertepuk sebelah tangan lagi. Jika terulang kembali, kau tidak beruntung dalam percintaan, dan mungkin kau di takdir kan untuk sendiri, bukan berdua," batin Riko.
Di dalam mobil Aksa mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, dia tidak terlalu buru-buru untuk segera tiba di rumah Nian.
Di tempat lain, Nian yang sudah menunggu sejak tadi, bolak-balik dia gelisah karena sampai saat ini Aksa belum juga tiba, padahal dua jam lalu, Aksa menghubungi nya untuk segera siap, dia akan segera tiba.
Tapi hingga saat ini tidak ada tanda-tanda kedatangan Aksa, hal tersebut membuat Nian tidak tenang, terus ke pikiran.
Pikiran nya pun mulai tidak benar, terus negatif.
"Di Mana sih Kak Aksa? tadi bilang bentar lagi tiba, tapi ini sudah hampir 2 jam belum juga tiba, apa dia sengaja melakukan ini? tapi tidak mungkin Kak Aksa pria yang baik, tidak mungkin tega," batin Nian.
"Nian," teriak Mama Hana di depan pintu sambil mengetuk pintu kamar Nian.
"Iya, Mam," sahut Nian dari dalam dan segera membuka pintu.
"Kenapa belum berangkat kuliah? kamu sakit?" tanya Mama Hana bingung sejak tadi Nian tidak juga keluar dari kamar nya.
"Tidak Ma," jawab Nian.
"Kenapa? kamu sakit? tapi Mama lihat kamu baik-baik saja, lalu apa yang sakit?" Mama Hana melihat Nian dari atas ujung rambut hingga bawa ujung kaki.
"Nian baik-baik saja, tadi Kak Aksa telpon ajak Nian ke rumah, Kakek mau ketemu," jawab Nian tanpa ada yang di tutup-tutupi.
"Jadi hanya karena itu, kamu tidak kuliah? mau jadi apa kamu Nian, belum lama menjalin hubungan saja kamu sudah malas kuliah, lalu bagaimana kalau lama, pasti akan lebih malas," marah Mama Hana, yang sejak awal tidak menyukai hubungan Nian dan Aksa makin tidak suka.
"Tidak seperti itu Ma, Kak Aksa pria baik, Nian akan tetap kuliah dan meraih cita-cita seperti janji Nian sebelum bertemu kak Aksa," ujar Nian serius.
__ADS_1
...Bα΄Κsα΄α΄Κα΄Ι΄Ι’......
...β¨____________ πΌπΌ_______________β¨...