Cinta Beda Usia Terhalang Restu

Cinta Beda Usia Terhalang Restu
Bab 19: Pesan Mama Hana


__ADS_3

H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


🌹✨💞✨🌹


Nian menunggu Aksa sambil memainkan ponsel, Mama Hana sudah lelah, kehabisan kata-kata berbicara dengan anak semata wayang nya itu.


"Ma gak kerja?" tanya Nian, menoleh pada arah Mama Hana.


"Setelah kamu pergi," jawab Mama Hana.


"Kenapa? Nian tidak apa-apa jika Mama mau pergi sekarang, gak usah nungguin. Kasihan murid nya nungguin Mama kelamaan," ucap Nian.


"Tidak, mending kamu hubungi Aksa lagi, tanya jam berapa tiba?"


"Iya Ma, Nian coba hubungi lagi."


Untuk kesekian kali, dan mungkin sudah berpuluh ribu kali, ( Wkwkwk 🤣) Aksa tak mengangkat panggilan telpon Nian.


Hal tersebut membuat Nian bingung harus berkata apa, tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya Aksa susah di hubungi. Nanti Mama Hana akan marah dan curiga tentang hubungan mereka yang mendadak tersebut.


Nian masih berusaha menghubungi Aksa, dia berharap kali ini ada jawaban.


"Kak Aksa sebenarnya di mana sih? apa sekarang lagi dalam perjalanan? tapi kenapa lama, belum tiba-tiba?" batin Nian bertanya-tanya.


"Nian, gimana? Aksa sekarang sudah di mana? jam berapa tiba?" tanya Mama menoleh menatap tajam Nian yang terlihat bingung.


"Ben-tar lagi Ma," bohong Nian dengan gugup.


"Ya sudah kalau sudah datang, panggil Mama di kamar. Mama siap-siap dulu," ucap Mama Hana dan pergi meninggalkan Nian.


Huft.


Nian membuang nafas lega, setidaknya kebohongan nya tidak ketahuan. Mama Hana percaya.


Saat hendak mencoba menghubungi Aksa lagi, ponsel Nian berdering panggilan telpon dari seseorang masuk.


"Jesy," gumam Nian membaca nama yang tertera di layar ponsel.


"Tumben, ada apa jesy menghubungi ku," Nian bertanya-tanya, tangan nya belum menggeser kan layar ponsel panggilan masuk tersebut.


Dia kasih menatap, membiarkan dering ponsel itu berbunyi.


Karena terus berdering dan juga rasa penasaran hal penting apa yang membuat Jesy menghubungi nya, akhirnya Nian mengangkat panggilan telpon tersebut.


"Hallo Jes," sapa Nian.


"Nian, loh kemana aja sih? kenapa di hubungi susah amat? kenapa baru angkat? loh tau gak sih, gue nungguin loh angkat itu udah kayak nungguin antrian pasien yang nunggu nama di panggil," omel Jesy.


"Sorry Jes, emangnya ada apa? gak biasa telpon sepagi ini? ada yang penting?" tanya Nian.


"Tidak."


"Lalu untuk apa telpon kalau gak ada yang penting?"


"Enggak juga sih, oiya kenapa jam segini belum tiba kampus?"

__ADS_1


"Hari ini gue gak masuk."


"Kenapa? apa ada masalah?"


"Tidak, nanti baru gue ceritain. Cerita nya panjang. Sekarang gue tutup telpon nya dulu, seperti nya dia sudah tiba," ucap Nian langsung mematikan sambungan telpon dan segera berlari keluar.


Namun sebelum keluar, dia mengintip lewat kaca jendela apa benar mesin mobil yang di dengar itu milik Aksa atau bukan


Nian tersenyum senang melihat keluar jendela, tanpa membuang waktu lagi, dia merapikan ulang rambut nya, lalu keluar menghampiri Aksa.


Cekrek.


"Kak," sapa Nian.


"Maaf, saya telat. Kamu gak marah kan?" ucap Aksa memastikan, karena dia sadar akan kesalahan nya.


"Iya, tidak apa-apa," sahut Nian.


"Ya sudah untuk mempersingkat waktu kita langsung pergi saja," ajak Aksa.


"Tunggu Kak," cegah Nian menghentikan langkah Aksa.


"Ada apa?" Aksa menoleh sambil menaikan alis menatap Nian.


"Kita pamitan dulu sama Mama," sahut Nian dan Aksa mengangguk mengerti.


Kedua nya pun langsung masuk ke dalam untuk pamitan.


"Kakak tunggu di sini dulu, saya panggil Mama sebentar," ijin Nian.


"Iya."


Tok... tok... tok...


"Ma, Kak Aksa udah datang," teriak Nian dari luar.


"Iya, bentar Mama keluar," sahut Mama Hana.


"Ya sudah kalau gitu Nian tunggu di ruang tamu ya Ma. Kasihan Kak Aksa sendiri," ucap Nian tidak tega.


"Iya, sana."


________


Melihat Nian datang seorang diri tanpa Mama Hana, Aksa menaikan alis bertanya.


"Mama kamu mana?"


"Mama nyusul katanya. Gapapa kan, kalau kita nunggu sebentar?"


"Gapapa," jawab Aksa tidak keberatan.


Lalu kedua nya pun kembali terdiam, tidak ada pembicaraan lagi.


Kedua sama-sama bingung ingin berbicara apa. Mereka tak memiliki topik pembicaraan yang asyik.

__ADS_1


Aksa yang merasa suasana menjadi tegang, dan aneh, tidak nyaman.


"Hari ini kegiatan apa saja di kampus?" tanya Aksa berusaha mencairkan suasana.


"Buat catatan dan di tempel di papan pengumuman untuk mahasiswa lain nya yang ingin berpatisipasi di setiap prodi," jawab Nian.


"Oh, apa hari ini gak masuk, kamu bisa kena masalah dari dosen?" tanya Aksa lagi.


"Tidak Kak," Nian menggeleng kepala.


"Uhukk."


Kedatangan Mama Hana tidak disadari kedua orang tersebut, hingga suara batuk nya itu membuat mereka seketika menoleh mencari sumber suara.


"Mama," ucap Nian yang kaget dengan kehadiran Mama Hana tiba-tiba.


"Kenapa ekspresi nya gitu? emang nya Mama hantu?" tanya Mama Hana heran pada Nian.


"Tidak Ma," jawab Nian, dengan senyum canggung.


"Kalian pergi kemana saja? pulang jam berapa nanti?" tanya Mama Hana serius dan pada intinya.


"Ma," panggil Nian.


"Diam, Mama sedang berbicara pada Aksa," ucap Mama Hana menegur Nian.


"Silakan jawan," suruh Mama Hana mempersilakan Aksa untuk menjawab.


"Ke rumah Kakek saja, untuk jam saya tidak bisa memastikan tan, semua tergantung lagi pada Kakek," jawab Aksa.


"Oke, kalau begitu. Saya ingat kan pada mu, kalau pulang langsung pulang no singgah kemana-mana. Dan ini pertama dan terakhir Nian tidak masuk kampus, lain kali jika ingin mengajak Nian pergi, tunggu waktu kosong nya. Saya tidak suka anak saya tidak mementingkan masa depan nya, kamu paham itu?" ujar Mama Hana tegas penuh penekanan.


"Iya Tante, saya minta maaf, saya janji lain kali tidak lagi," ucap Aksa.


"Hmmm."


Nian merasa tidak enak dengan Aksa, perkataan dan sikap Mama Hana seolah Aksa bukan lah pria baik. Nian menyadari itu segera ambil alih.


"Ma, kita pamit. Kasihan kakek pasti nunggu lama di rumah."


"Ya sudah hati-hati di jalan. Ingat pulang, langsung pulang jangan kemana-mana lagi," pesan Mama Hana.


"Iya Ma," sahut Nian.


Setelah berpamitan, mencium punggung tangan Mama Hana, kedua beranjak pergi keluar.


Nian yang belum mengenal dekat dan mengetahui sikap dan kepribadian Aksa, yang awal nya canggung dan bingung, kini semakin canggung setelah perkataan yang di lontarkan Mama Hana pada Aksa.


Di dalam mobil Aksa terus terdiam, Nian yang menyadari sejak masuk tadi Aksa tak mengeluarkan sepatah kata pun kata merasa bersalah.


Dia bingung harus berkata apa. Dia menoleh ke samping melihat Aksa, pandangan pria itu tak sekali menoleh balik padanya. Pandangan nya fokus dan tertuju ke depan.


Nian yang tidak tau apa yang di pikirkan Aksa berpikir jika Aksa marah dengan kejadian tadi.


"Apa Kak Aksa marah?" batin Nian bertanya-tanya.

__ADS_1


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2