
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
🌹✨💞✨🌹
"kau serius bukan, ingin melakukan apa saja yang ku katakan?" Nian memastikan ulang dengan tatapan serius pada Eza sepupunya.
"Dua rius, tapi kau harus memaafkan ku," kata Eza.
"Oke, sekarang kau lakukan sesuatu untuk ku, dapatkan nomor ponsel nya untuk ku," ujar Nian.
"Nomor ponsel? cara nya gimana? tidak mungkin aku datang langsung meminta, itu sudah jelas dia tidak akan memberikan nya, kita tidak saling kenal Nian, yang benar saja permintaan mu ini," Eza menggeleng kepala mendengar permintaan aneh sepupunya itu.
"Kata siapa aneh? kau datang menghampiri nya, dan berkata jika dia menang undian. Hari ini warnet kita sedang mengadakan undian dan nama nya lah yang terpilih sebagai pemenang itu," jelas Nian, tidak pernah kehabisan ide dan bahkan dia sangat menyukai ide nya.
"Lalu kaitan nya apa Nian dengan menang undian dan minta nomor ponsel? aku benar-benar belum mengerti," jujur Eza.
Mendengar penjelasan sepupunya itu mengarahkan dia sana sini, Eza bukan mengerti tapi malah sebalik nya.
"Eza! Apa penjelasan ku tapi tidak dapat membuat mu mengerti?" kesal Nian menatap sepupunya.
"Tidak."
Huft.
Nian menghembus nafas panjang.
"Dengarkan ini baik-baik, datang dan minta nomor telpon, ingat nomor yang tersambung di WhatsApp bukan nomor ponsel biasa. Dan juga bilang nomor nya itu tidak akan di sebar luas karena itu hanya keperluan data pemenang tidak lebih," Nian menjelaskan pada Eza dan Eza mengangguk paham mengerti sekarang.
"Baiklah, aku mengerti sekarang," kata Eza.
"Ya sudah sekarang tunggu apalagi, silakan lakukan tugas mu," usir Nian. Eza yang masih berdiri sudah di dorong Nian, langsung pergi.
Kepergian Eza, Nian terus memperhatikan, jantung nya sedikit deg-degan apakah rencana yang di lakukan ini akan berhasil atau tidak.
Mata nya tertuju dan mulut terus komat-kamit tidak jelas berdoa agar semua berjalan lancar.
"Permisi, maaf menganggu waktu nya," ucap Eza berdiri di samping kursi duduk Aksa.
"Iya," sahut Aksa singkat.
"Saya kesini hanya ingin mengatakan selamat pada Kakak, hari ini warnet kami sedang melakukan pengundian nama pelanggan yang pernah berkunjung dan nama Kakak lah salah satu yang beruntung dalam periode kali ini terpilih sebagai pemenang nya, oleh sebab itu saya datang untuk meminta nomor WhatsApp Kakak untuk mendata nama pemenang," jelas Eza panjang lebar dengan kebohongan yang di buat sesuai dengan ajaran Nian.
"Pemenang? Seperti nya kalian salah, saya baru sekali kemari bagaimana langsung menang, sebaiknya di berikan pada yang lain yang memang pantas mendapat kan, bukan saya," tolak Aksa.
__ADS_1
"Tidak kak, jangan salah paham dulu, pemenang tidak di tentukan dari apa yang baru Kakak katakan, karena ini dari undian meski baru sekali berkunjung, jika memang sudah beruntung nama nya terpilih, itu berarti orang tersebut memiliki nasib baik," Eza terus menyakinkan Aksa agar menerima dan memberikan nomor WhatsApp nya atau tidak dia akan end oleh Nian setelah balik dari sini.
Huft.
Aksa menarik nafas panjang Dan menghembus kasar.
"Baiklah, sebagai dokumen tidak di sebar!" tegas Aksa dengan menatap Eza, karena dia tidak suka nomor nya di obral di luar sana.
"Iya hanya dokumen, tidak di obral," janji Eza.
Setelah mendapat nomor WhatsApp Aksa, Eza pergi meninggalkan Aksa dan menemui Nian memberitahu dia berhasil melakukan tugas nya dengan baik.
"Aku mendapatkan nomor nya, apa kau senang?" Eza menatap Nian sambil menyodorkan ponsel nya yang di pakai mencatat nomor Eza tadi.
"Terima kasih, kau memang sepupu ku yang terbaik Eza, aku menyayangi mu," senang Nian dan memeluk Eza.
"Sama-sama, karena tugas ku sudah selesai, sekarang kau lakukan tugas mu, kembali lah berjaga," ucap Eza mengusir Nian agar kembali di tempat jaga.
"Iya."
Nian sudah kembali duduk di kursi operator, dan diam-diam Nian menggambar wajah tampan Aksa. Tanpa di sadari, dan begitu asyik nya gambar, tiba-tiba Aksa menghilang dari kursi duduk nya.
Dan Nian kaget mendadak Aksa berada di depan.
"Saya sudah selesai, berapa semua nya?" tanya Aksa.
"Terima kasih," ucap Nian menerima.
"Apa kau selalu berjaga seperti ini setiap malam?" tanya Aksa tiba-tiba.
"Tidak, kuliah sedang libur jadi saya membantu menjaga warnet milik saudara," jawab Nian gugup dan bingung harus menjawab apalagi.
"Maaf, jangan salah paham dulu. Saya tidak ada maksud lain, saya hanya berpikir seorang gadis kecil berada di warnet tidaklah aman," ujar Aksa dan beranjak pergi.
Perkataan Aksa berhasil membuat Nian semakin suka padanya. Dia tidak menyangka Aksa bisa mengkhawatirkan nya.
Nian berdiri diam memandang kepergian Aksa. Hati nya berbunga-bunga, seperti bunga yang sedang bermekaran.
"Nian," panggil Eza melihat Nian berdiri memandang arah luar dengan senyum tidak jelas.
"Nian," Eza mengulangi lagi, namun Nian masih saja belum sadar, hingga dia memengang bahu kanan dan seketika itu Nian tersadar.
"Ada apa?" Nian berbalik menoleh Eza.
"Kakak tadi melupakan KTP nya," Eza memberitahu sambil menunjukkan KTP di tangan nya.
Saking terpanah dengan perkataan Aksa, Nian sampai lupa mengembalikan KTP yang tadi di simpan.
__ADS_1
"Berikan padaku, aku akan mengembalikan nya."
Nian segera berlari keluar mengejar Aksa.
"Kak!" teriak Nian.
Mendengar seseorang berteriak, Aksa berbalik ke belakang. Nian berjalan mendekat Aksa, dan menyodorkan KTP.
"KTP kakak ketinggalan," ucap Nian.
"Terima kasih," Aksa menerima dan pergi.
"Oh Tuhan Kakak putra sangat tampan, apa aku bisa dekat nya? Tidak, seperti nya akan sangat sulit, semoga saja dia kembali berkunjung lagi agar aku bisa melihat nya," batin Nian penuh harap dapat di pertemukan lagi dengan Aksa.
Nian mengira nama panggilan Aksa adalah Putra, karena di Bio WhatsApp nya tertulis Putra jadi pikirnya itulah nama Aksa.
*****
Tiba di markas Aksa tidak langsung tidur, perasaan nya hingga sekarang masih sedikit kacau.
Dia membereskan tempat tidur yang berantakan. Masuk ke satu persatu kamar, merapikan selimut mereka dan membersihkan meja yang berserakan dengan makanan snack, usai itu barulah dia beristirahat.
Pagi hari anak-anak Ultra sudah langsung berkumpul di depan pintu kamar Aksa. Mereka diam-diam berdiskusi mengenai Aksa yang semalam pulang atau tidak.
Bahkan mereka sudah mulai berpikir nakal.
"Sudah sebaiknya kita cek saja untuk lebih memastikan dari pada penasaran," putus Dimas dan yang lain mengangguk setuju dengan usulan Dimas untuk memeriksa.
Tapi saat mereka ingin masuk membuka pintu, Aksa keluar dan semua langsung berpencar pada kabur. Mereka semua masih takut Aksa masih marah akan kejadian kemarin kalah pertandingan.
"Apa yang kalian lakukan?" ucap Aksa dan seketika menghentikan langkah mereka.
"Tidak, kami hanya memastikan keadaan Bos, apakah hari ini baik atau tidak," jawab Dimas.
"Sekarang cepat kembali bersih-bersih, 1 jam lagi kita akan pergi," ujar Aksa.
Ting!
Tiba-tiba ponsel Aksa berbunyi pesan WhatsApp dari nomor tak kenal. Pesan tersebut berisi mengenai hadiah pemenang yang di dapat dari warnet dan sejenisnya.
Dan tentu saja, semua pesan tersebut di abaikan Aksa, karena dia merasa sangat terganggu karena pesan tersebut bukan sekali tapi sudah berkali-kali.
Anak-anak Ulta menyadari jika Bos nya mulai bermain WhatsApp pun mulai menggodanya.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...
__ADS_1