Cinta Beda Usia Terhalang Restu

Cinta Beda Usia Terhalang Restu
Bab 7: Kakak Ipar?


__ADS_3

🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻




🌹✨💞✨🌹


Nian tidak hilang akal. Dia berjalan ke samping gedung. Berusaha masuk melalui pintu samping. Dan ada. Dia melepas pembatas tanda lewat yang ada di tangga menuju ke atas.


Dengan susah payah, sambil mengangkat koper yang berat dan papan nama Putra, Nian berhasil naik ke atas.


Dia mengintip masuk ke dalam. Dan beruntung nya, pintu samping itu berada di sebelah pintu ruang tunggu team Ultra. Untung nya lagi, Dimas keluar mengantarkan dokter dan melihat Nian yang ada di luar.


"Hei, kenapa kau bisa di sini? aku melihat mu tadi. Kau bicara dengan bos ku," ujar Dimas.


"Kalian berdua berusaha tidak terlihat, tapi aku tetap melihatnya. Kau pasti datang mencari Bos ku, kan?" sambung Dimas lagi.


Nian yang tidak mengerti maksud perkataan Dimas, hanya mengangguk membenarkan semua perkataan nya itu.


Mungkin saja yang di katakan ada kaitan nya dengan Aksa. Bos? siapa itu, Nian benar-benar tidak kenal.


Dimas salah paham dia mengira Nian adalah pacar Aksa, jadi dengan semangat dia mengajak Nian untuk masuk. Nian bingung mau di ajak masuk kemana, tapi meski begitu dia tetap ikut.


"Eh, apa bos tidak memberikan mu Id pass untuk masuk?" tanya Dimas. Kedua berjalan sambil berbicara.


"Memberikan ku? Kayaknya tidak pantas," jawab Nian dengan canggung.


Mendengar itu Dimas tak lagi berbicara, mereka sudah tiba di depan pintu. Dimas meminta Nian menunggu sebentar dan dia masuk ke ruang tunggu.


Tapi Aksa sudah tidak ada. Dan dari balik ruangan, para anggota Ultra dapat melihat siapa saja yang berlalu lalang melewati depan sana, karena kaca ruangan tersebut bening, namun tidak bisa mendengar pembicaraan meski itu dari dalam atau luar.


Nino melihat Nian.


"Itu," ucap Nino.


"Ya, itu Kakak ipar kita, dia pacar Bos," ujar Dimas.


Nian tidak bisa mendengar pembicaraan mereka, meski menyadari dua orang di dalam berbicara sambil melihat nya.


"Tunggu sebentar, aku akan membawa Kakak ipar masuk, kasihan membiarkan dia sendiri di luar," Dimas keluar dan mengajak Nian masuk.

__ADS_1


Saat masuk Nian terdiam, dia melihat seseorang berbaring di sofa dan di kelilingi yang lain. Nian tidak melihat wajah yang berbaring, tapi karena melihat orangnya kesakitan, Nian langsung menyimpulkan itu adalah Aksa.


Nian berjalan mendekat dan menyapa.


"Hello, Putra," ujar Nian dengan gugup. Semua menatapnya bingung. "Aku tidak bermaksud mengganggumu. Aku sebenarnya baru saja pergi, aku dengar dari staff di luar kalau perut mu sakit. Jadi, aku ingin kembali untuk melihat keadaan mu. Apa kau baik-baik saja?"


Radit bingung, dia bangkit dan melihat Nian.


"Siapa kau?!" tanya mereka bersamaan, kaget.


Dua-duanya bingung.


"Kakak ipar, dia adalah Putra, tapi itu hanya nama Id game, jika panggilan nya di luar adalah Radit," ujar Dimas menjelaskan pada Nian. Pas saat itu, Aksa masuk ke dalam.


"Apa yang terjadi? Siapa yang sakit?" bingung Nian bertanya pada hati nya.


"Maaf Bos, tadi saya melihat kakak ipar di luar, jadi saya membawanya masuk. Kakak ipar menunggu seorang diri, apa bos tidak tau? Kenapa tidak memberikan nya kartu pekerja? Bos sangat tidak berperasaan," ujar Dimas memberi laporan, karena dia belum sempat mengatakan apapun pada Aksa tadi.


Aksa terdiam, menatap intens Dimas.


"Kau memanggil nya apa tadi?" tanya Aksa. Dia memastikan ulang, apa pendengaran nya tadi salah atau gimana.


"Kakak ipar," jawab Dimas.


"Kenapa mereka memanggil mu Kakak ipar?" tanya Aksa, berdiri di depan Nian dengan menatap nya.


"Saya tidak tau Kak," jawab Nian, dia juga sama dengan Aksa tidak tau.


Mendengar jawaban Nian, Aksa tidak puas, hingga dia melihat Nian yang memegang papan nama putra. Dan Aksa mengira Radit dan Nian saling kenal.


"Kau mengenal nya?" tanya Aksa dengan menatap tajam Radit.


"Tidak! Saya tidak mengenal nya!" jawab Radit dengan tegas.


"Saya juga tidak mengenal nya Kak," jawab Nian juga dengan tegas. Saat Aksa melihat padanya.


Mendengar jawaban dari kedua sama-sama kompak tidak mengakui. Aksa menghela nafas dan memberi tanda agar Nian mengikuti nya. Mereka bicara di luar.


Di dalam hati Nian terus menggerutu, dia kesal dengan sepupu nya karena telah salah memberitahu nama orang padanya, dan membuat nya malu.


"Awas saja kau Eza, aku tidak akan memaafkan mu kali ini! Kau sudah membuat ku malu. Bagaimana bisa kau memberitahu ku nama pria yang tidak ku sukai, padahal pria yang ku sukai sudah kau ketahui. Apa kau sengaja melakukan ini, agar aku di permalukan?" batin Nian berpikir, kalau saja benar, dia bersumpah tidak akan memaafkan Eza.

__ADS_1


Tiba di luar, Aksa mulai menginterogasi Nian.


Mendengar banyak pertanyaan dari Aksa, Nian bingung harus menjawab apa. Dia benar-benar tidak mengenai Putra Radit.


"Saya serius Kak, saya tidak kenal dengan nya, dan saya hanya mengenal Kakak saja, tidak ada orang lain lagi," ujar Nian berkata jujur. Dia bingung dan pusing harus berkata hal yang sama berapa kali, agar Aksa percaya padanya, jika dia tidak berbohong.


"Kalau begitu, apa kau datang untuk mencari ku?" tanya Aksa, karena Nian berkata hanya mengenal nya dari anggota team Ultra.


"Tidak. Aku tidak datang untuk mencari mu," jawab Nian bohong. Kenyataan memang benar kalau dia datang untuk mencari Aksa. Tapi gengsi harus mengiyakan.


"Maka sangat aneh. Kau hanya mengenali ku. Tapi tidak datang menemui ku. Kenapa kau datang ke ruang istirahat Ultra dan kenapa kau memengang papan nama dengan nama putra?" tanya Aksa.


Dan Nian dengan cepat langsung meletakkan papan nama Putra.


"Semua itu hanya lah salah paham. Saya tadi hanya kebetulan lewat dan mengetahui kalau ada kompetisi langsung mampir melihat untuk senang-senang."


Namun Aksa tidak percaya begitu saja dengan perkataan Nian.


"Katakan sejujur nya. Dan kau juga bisa bertanya padaku," ujar Aksa.


Di beri kesempatan untuk bertanya, Nian tersenyum senang dan segera bertanya.


"Apa Kakak adalah pemainan professional?"


"Aku? Tidak." jawab Aksa.


"Lalu, kenapa mereka memanggil Kakak Bos?"


"Pertanyaan ini.. tidak pernah ku diskusikan dengan amatiran."


Para anggota Ultra menunggu Aksa dan Nian yang berbicara berdua, hingga sekarang belum kembali, akhirnya memutuskan untuk menghampiri. Mereka semua sudah sangat lapar. Tapi, saat tiba di depan pintu, mereka tidak jadi masuk, malah mengintip Aksa dan Nian.


Nian yang masih ingin bertanya lagi, tapi pintu malah terbuka. Itu karena para anggota terus mendorong hingga Dimas dan Nino terdorong ke depan pintu.


Dengan takut-takut mereka mengatakan niat mereka hingga menghampiri kedua yang sedang bicara,


"Apa Bos sudah selesai berbicara?" tanya Nino.


"Ada apa?"


"Tidak ada. Hanya saja kami semua lapar."

__ADS_1


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2