Cinta Beda Usia Terhalang Restu

Cinta Beda Usia Terhalang Restu
Bab 20: Tersinggung


__ADS_3

H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


🌹✨💞✨🌹


Selama perjalanan menuju tempat tujuan Aksa dan Nian sama-sama diam, hingga tiba pun tidak ada pembicaraan.


"Kita sudah tiba, ayo langsung masuk," ajak Aksa.


"Iya Kak," sahut Nian.


"Dan saya juga mau minta maaf," sambung Nian.


"Minta maaf? untuk apa?" tanya Aksa bingung tidak mengerti.


"Perkataan Mama tadi, jangan masukin hati. Mama tidak bermaksud seperti itu," jelas Nian.


"Lupakan saja, sekarang ayo masuk," ajak Aksa lagi tidak mempermasalahkan kejadian tadi.


"Tapi, Kak," tahan Nian yang masih ragu dan kepikiran.


"Sudah, saya tidak tersinggung perkataan Mama mu, jadi ayo masuk," ucap Aksa.


"Iya Kak," sahut Nian tidak berani membantah lagi.


Nian mengikuti langkah Aksa masuk ke dalam, dia masih belum bisa tenang, otak nya masih saja kepikiran mengenai perkataan Mama Hana pada Aksa.


Langkah kaki Aksa seketika berhenti, dan.


Bruk!


Nian menabrak punggung belakang Aksa.


"Auwh," Nian meringis kesakitan pada jidat nya yang mengenai tulang punggung belakang Aksa yang keras.


Tangan nya mengelus jidat nya yang sakit.


"Kamu gapapa?" khawatir Aksa melihat Nian meringis kesakitan.


"Sakit," aduh Nian.


"Kamu kenapa terus jalan saat saya berhenti? gak lihat atau gak fokus?" tanya Aksa bingung dengan Nian.


Nian terdiam dan tertunduk, dia bingung ingin menjawab apa.


"Ya sudah kalau tidak mau jawab tidak apa-apa, mana lihat jidat nya yang sakit," pinta Aksa.


Nian melihat Aksa mendekati nya, wajah Aksa pun sangat dekat, tidak ada jarak hingga dia dapat melihat jelas dan merasakan tarikan dan hembusan nafas Aksa.

__ADS_1


"Jantung ku, ada apa ini? kenapa berdetak kencang begini, apa aku terkena penyakit? tapi kemarin periksa aman, gak ada masalah. Apa dokter nya salah periksa? sebaiknya aku harus periksa ulang kesehatan ku, tapi di rumah sakit lain saja," batin Nian deg-degan.


"Apa ini yang sakit?" tanya Aksa sambil mengelus jidat Nian dengan tangan nya.


"Iya Kak," jawab Nian gugup.


"Sekarang masih sakit?" tanya Aksa lagi.


"Masih lah kak, tapi jika terus seperti ini, aku akan merasa sesak," batin Nian berteriak.


"Nian gimana sekarang?" tanya Aksa ulang, melihat Nian terdiam tidak menjawab.


"Ah, iya Kak, ada apa?" kaget Nian yang baru tersadar dari lamunan.


"Kamu lagi pikirin apa?"


"Tidak ada. Tadi Kakak tanya apaan?"


"Jidat kamu sekarang masih sakit?"


"Oh, tidak Kak, sekarang sudah mendingan."


"Ya sudah karena sudah mendingan sekarang kita masuk saja."


Kakek Dany mendengar salam dari suara yang tak asing tersebut langsung cepat berbalik dan melihat pemilik suara tersebut.


"Kenapa lama sekali? apa kalian singgah di suatu tempat dulu sebelum kemari?" tanya Kakek Dany.


"Lalu kenapa bisa lama, jika bukan singgah ke suatu tempat?"


"Kek, itu tidak penting, sekarang kan, Nian sudah di sini," ucap Nian.


"Nian benar, Kakek sampai lupa. Ya sudah sekarang Nian ikut Kakek saja kita ke taman belakang, di sana banyak bunga yang cantik," ujar Kakek mengajak Nian berkeliling.


"Benarkah, Nian mau lihat tanaman bunga Kakek," antusias Nian semangat.


Nian menyukai bunga, hingga setiap mendengar kata tanaman bunga, dia akan selalu antusias.


"Ayo," ajak Kakek mengandeng Nian pergi meninggalkan Aksa.


Melihat kedekatan Kakek nya dengan Nian, ada perasaaan terharu dan senang Aksa.


Dia tidak ingin mengganggu dan akhirnya memutuskan untuk naik ke atas, masuk ke kamar yang sudah lama tidak di tempati nya itu.


Tiba di dalam Aksa melihat sekeliling kamar yang sudah lama di tinggali semenjak membangun perusahaan ultra, semenjak saat itu pun dia tinggal di sana bersama anggota nya.


Balik ke rumah, hanya untuk libur atau kedatangan Kakek Dany saja, selain itu tidak akan kembali, dan akan tetap setia di markas.

__ADS_1


"Sudah lama tidak ke sini. Apa Bibi masih sering bersihin kamar ku?" gumam Aksa bertanya-tanya.


Tapi saat tangan menyentuh pada meja, dia melihat debu menempel. Dengan inisiatif, dia keluar kamar mencari alat-alat yang di perlukan untuk membersihkan kamarnya seperti sapu, kemoceng dan alat pel.


Aksa pun mulai membersihkan satu persatu sudut kamar yang berdebu.


*****


Di sisi lain para anggota klub ultra pada fokus latihan untuk kompetisi berikutnya, hari-hari, waktu yang mereka habiskan hanya latihan dan latihan.


Riko mengawasi mereka latihan, meski di tugas kan untuk mengawasi anak-anak, Riko tidak latihan dan bermalas-malasan, itu suatu hal yang salah, dia tetap latihan.


"Riko, kemana Bos pergi sepagi ini?" tanya Dimas kepo.


"Kenapa?" tanya balik Riko melirik Dimas sekilas lalu kembali fokus pada komputer nya.


"Tidak seperti biasa Bos keluar pagi, apa Bos pergi menemui kakak ipar meminta maaf?" ucap lagi Dimas.


"Bisa saja, kan kemarin Bos memarahi Kakak ipar. Dan mungkin sekarang Bos menyadari kesalahan nya dan ingin memperbaiki semua lagi," sahut Nino.


"Memperbaiki semua dan memulai ulang dari awal tanpa ada kesalahan lagi. Jika ada maka harus di mulai dari awal lagi hingga tidak ada," timpal Ivan asal.


"Benar, Kakak ipar cantik, baik dan sopan. Pria mana yang bisa menolak pesona Kakak ipar? jika pria itu benar ada, maka pria itu adalah pria bodoh yang menolak untuk bisa bersanding dengan wanita secantik kakak ipar," ucap Dimas, tanpa di sadari perkataan nya itu membuat Riko melirik nya.


Dimas yang tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, memasang wajah santai. Dia merasa tidak melakukan kesalahan jadi terus berbicara.


"Setuju, pria itu adalah pria bodoh, dan bahkan lebih tepat di juluki pria tidak punya otak," sambung Ivan sependapat dengan apa yang di katakan Dimas.


"Ya, bahkan jika sekarang saya tau benar ada pria yang pernah menolak Kakak ipar kita, tuh pria bodoh sudah ku cincang jadi in makanan binatang buas sekalian, biar tau rasa. Bodoh kok di pelihara," ucap Dimas.


Lagi dan lagi perkataan Dimas berhasil menarik Riko melihat nya.


"Apa topik pembicaraan kalian hanya ini?" tanya Riko dengan menahan rasa kesal yang di tutupi di wajah nya.


"Kenapa kau marah? biasa nya jaga kalau kita berbicara apapun kau tidak seperti ini," ucap Dimas bingung dengan ekspresi Riko menurutnya aneh.


"Sudah, sekarang lanjutkan latihan kalian," Riko bangkit meninggalkan mereka, dia malas berdebat karena itu akan membuat suasana hati nya tidak baik.


"Mau kemana? kau tidak latihan?" teriak Dimas melihat Riko pergi.


"Kalian saja."


Anak-anak melihat Riko pergi dengan sikap aneh, bertanya-tanya.


"Ada apa dengan nya? apa pembicaraan kita tadi ada yang salah? atau mungkin Menyinggung nya?" tanya Dimas pada teman-teman yang lain, bingung


"Entahlah, lupakan saja, sekarang kita fokus latihan saja, atau dia akan melapor pada Bos mengenai latihan kita tidak benar," jawab Nino, tidak ingin Aksa tau atau mereka akan mendapat hukuman.

__ADS_1


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2