Cinta Beda Usia Terhalang Restu

Cinta Beda Usia Terhalang Restu
Bab 21: Telpon


__ADS_3

H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


πŸŒΉβœ¨πŸ’žβœ¨πŸŒΉ


Nian menemani Kakek Dani duduk di taman, sambil melihat bunga-bunga bermekaran.


Meski duduk mendengar cerita Kakek Dani, Nian tidak tenang, pandangan nya terus mengarah kiri kanan mencari-cari.


Berharap seseorang keluar menghampiri mereka, namun semua tidak lah terjadi. Tidak ada seseorang yang datang.


Nian menarik nafas panjang, sedih, tidak ada Aksa di antara mereka.


"Dimana Kak Aksa? kenapa tidak ikut bergabung?" batin Nian bertanya-tanya.


"Nian, sejauh mana hubungan kalian? apa Aksa sudah pernah mengajak mu ke jenjang yang serius?" tanya Kakek Dani menatap Nian.


"Nian," panggil Kakek Dani, melihat Nian tidak menggubris pertanyaan nya.


"Nian."


"Iya Kek," sahut Nian tersadar, menautkan alis menatap Kakek Dani.


"Kamu kenapa? apa ada yang kamu pikirkan?" tanya Kakek Dani.


"Tidak ada Kek, emangnya Kakek ngomong apa?"


"Hubungan kamu dan Aksa sudah sejauh mana? Apa Aksa pernah berbicara untuk serius?"


Uhukkk....


Spontan saja mendengar perkataan Kakek Dani, Nian batuk, dia terkejut secara mendadak mendapat pertanyaan yang tidak pernah terlintas di benaknya sebelumnya.


"Nian kenapa? ini minum dulu," khawatir Kakek Dani menyodorkan gelas berisi air putih pada Nian.


Tanpa bertele-tele lagi, Nian menerima sodoran minum tersebut dan segera minum menghabiskan.


"Bagaimana apa sudah baik kan?"


"Iya Kek, terima kasih, maaf merepotkan," ucap Nian merasa tak enak hati.


"Tidak perlu sungkan seperti itu, Nian pacar cucu Kakek, berarti Nian juga cucu Kakek, jadi tidak perlu minta maaf."


"Iya Kek."


"Seperti nya Kakek tau apa yang membuat Nian tidak fokus. Sana nyusul Aksa di kamar."


"Tidak Kek, Nian di sini saja," tolak Nian.


"Tidak apa-apa pergi lah, jangan takut, Kakek percaya pada kalian," kata Kakek Dani seolah tau apa yang di pikirkan Nian.


"Sudah jangan banyan pikir lagi, cepat pergi," usir Kakek Dani.


"Iya Kek, Nian pergi," sahut Nian, beranjak pergi.


Nian nampak ragu-ragu menyusul Aksa di kamar, entah kenapa dia takut.


Langkah kaki nya semakin lambat, otak nya sudah mulai bercabang, antara ya atau tidak.


"Kak Aksa marah gak sih, kalau aku masuk?" gumam Nian menghentikan langkah nya di anak tangga ke lima.


Saat sedikit keberanian kembali Nian ingin melangkah, namun terhenti karena dering telpon.

__ADS_1


Mengecek ponsel, tertera nama Sarah.


"Kak Sarah," ucap Nian membaca nama di layar ponsel nya.


"Ada apa? tumben Kak Sarah menghubungi ku?" ucap Nian lagi bertanya-tanya.


Karena rasa penasaran, mendorong Nian untuk segera mengangkat panggilan tersebut.


πŸ“ž:" Hallo Kak," sapa Nian sopan.


πŸ“ž:" Hallo Nian, maaf menghubungi mu secara mendadak, apa saya menganggu mu?" tanya Sarah.


πŸ“ž:" Tidak Kak, saya sedang tidak sibuk sekarang, jadi tidak mengganggu. Emangnya ada apa?"


πŸ“ž:" Lega dengar nya kalau saya tidak mengganggu."


πŸ“ž:" Iya Kak."


πŸ“ž:"Apa kita bisa ketemuan hari ini?"


πŸ“ž:"Ketemu?"


πŸ“ž:"Iya, apa kamu tidak bisa? maaf jika ajakan saya secara mendadak."


πŸ“ž:"Tidak, tidak seperti itu kak, saya bisa. Mau ketemu di mana?"


πŸ“ž:"Sebelumnya terima kasih, nanti akan saya serlock tempat nya dan jam berapa."


πŸ“ž:" Iya Kak."


Panggilan telpon pun terputus, tidak ada pembicaraan lagi, Nian kembali jalan ke tempat tujuan awal nya tadi sebelum ada panggilan telpon.


Tiba di depan pintu kamar Aksa, dia ragu untuk mengetuk pintu, tangan gemetar antara ketuk atau jangan.


Otak nya benar-benar terasa ingin pecah dengan tumpukan pertanyaan di benaknya yang di buat sendiri.


Tok... tok... tok....


"Masuk," teriak Aksa dari dalam.


Mendapat izin untuk masuk, Nian membuka pintu dan masuk.


"Kak Aksa," panggil Nian.


"Nian, sedang apa kamu di sini?" kaget Aksa melihat keberadaan Nian mendadak berada di depan nya.


"Tadi Kakek menyuruh saya untuk menyusul Kak Aksa di kamar," jawab Nian.


"Oh, ya sudah sekarang kamu duduk di sana, saya beberes sebentar," ucap Aksa.


"Apa saya bisa membantu Kakak beberes?" tanya Nian menawarkan diri.


"Tidak perlu repot-repot kamu duduk saja, saya bisa melakukan sendiri, saya sudah biasa jadi jangan khawatir," kata Aksa menyakinkan Nian.


"Tapi."


"Duduk lah, tidak usah memikirkan apapun," ucap Aksa cepat.


"Iya," pasrah Nian tidak lagi membantah dan mengikuti.


Nian duduk di sofa sambil melihat Aksa.

__ADS_1


"Apa aku pantas di sebut pacar, jika hanya melihat pacar nya bekerja tapi aku tidak menolong?" batin Nian bertanya.


"Setelah makan nanti, saya akan mengantar mu pulang," ucap Aksa.


"Tidak Kak," balas Nian.


"Kenapa? apa kamu ingin ke suatu tempat? bagaimana jika Mama Hana marah? kamu tidak lupakan pesan nya sebelum pergi tadi?" Aksa mengingatkan Nian.


"Saya ingat Kak, tapi saya tidak lama, Kakak tidak perlu mengantar, saya bisa sendiri."


"No, saya akan mengantar mu."


"Tapi sa-"


"Apapun itu, saya akan mengantar mu, saya tidak mau terlihat buruk di mata Mama mu," potong Aksa cepat, dan Nian tidak lagi protes.


"Baiklah, jika itu mau Kakak."


"Hmmm," balas Aksa dengan berdehem.


"Kak," panggil Nian menatap Aksa.


"Iya," sahut Aksa, menoleh Nian.


"Tadi Kakek bertanya, apakah hubungan kita akan di bawa ke jenjang yang lebih serius atau tidak?"


"Lalu kamu jawab apa?"


Nian menggeleng kepala.


"Saya tidak mengatakan apapun."


"Itu lebih baik, dari pada menjawab kedua akan membuat Kakek berharap atau kecewa."


"Iya."


"Seperti nya hubungan ini sampai kapan pun tidak akan bisa di bawa serius, jawaban Kak Aksa saja biasa. Apa aku nya saja yang terlalu berharap dan kesenangan dengan hubungan palsu ini?" batin Nian sedih.


"Kamu mau makan apa?" tanya Aksa menoleh Nian.


"Apa saja boleh Kak," sahut Nian.


"Saya ke bawa dulu," lanjut Nian pamit.


Aksa melihat Nian pergi, menaikan bahu, bingung. Namun semua tidak bertahan lama, dia kembali beberes.


Tiba di lantai bawa, Nian menuju taman dan di sana tidak ada Kakek Dani, seperti nya sudah pergi setelah kepergian nya. Dan mungkin sekarang sedang berada di dalam kamar nya.


Nian duduk dan pandangan nya mengarah pada bunga, tanpa dia sadari jika ada orang yang memperhatikan nya sejak datang.


Melihat wajah murung dan sedih Nian membuat nya melihat itu jadi penasaran dan juga bingung.


"Kenapa dengan nya? kenapa terlihat sedih? apa terjadi sesuatu?"


"Apa aku kuat menjalani hubungan ini?" ucap Nian.


"Pasti kuat, asal punya tekad yang besar dalam menjalani, sesuatu yang di jalani setengah-setengah tidak bisa memberi hasil yang bagus seperti yang di harapkan, karena hasil yang bagus harus dengan menyelesaikan semua jalan hingga finish."


"Kau," kaget Nian melihat nya di sini.


"Iya, saya."

__ADS_1


...Bᴇʀsα΄€α΄Κ™α΄œΙ΄Ι’......


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2