
H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
🌹✨💞✨🌹
"Iya, sejak kamu masuk saya melihat wajah mu terus di tengkuk, sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kau terlihat sedih?" tanya Riko.
Pria itu adalah Riko, setelah kejadian di klub, dia memutuskan pergi dan menenangkan diri di sini.
"Jadi."
"Iya, seperti itu lah," ucap Riko cepat seolah tau apa yang akan di katakan Nian.
"Apa yang sebenarnya terjadi? apa kau dan Kak Aksa bertengkar?" lanjut Riko.
"Tidak, tidak ada yang terjadi," jawab Nian.
"Baiklah saya tidak akan memaksa mu untuk bercerita, tapi jika kau ingin berbagi cerita, maka saya siap mendengar kapan pun yang kau mau."
"Terima kasih."
"Iya, apa kau ingin duduk sendiri, atau?" tanya Riko menatap Nian.
"Tidak," Nian menggeleng kepala.
"Jadi gapapa nih, saya duduk di sini?"
"Gapapa."
Kedua nya pun kembali terdiam satu sama lain. Nian tidak lagi memikirkan Aksa, perkataan Riko ada benar nya.
Dan Nian akan berusaha untuk melakukan yang terbaik dan sebisa nya.
"Apa kau marah dengan kejadian kemarin?" tanya Riko, hati-hati dalam berbicara.
"Marah? marah kenapa emangnya?" tanya balik Nian.
"Kejadian kemarin tentang hubungan kalian, saya benar-benar minta maaf, saya tidak bermaksud buruk, tapi saya tau kau mencintai Kak Aksa jadi saya mencoba menyatukan kalian, meski semua tak berjalan lancar," ungkap Riko merasa tak enak hati, meski dia tau Nian menyukai Aksa, pasti tidak keberatan jika membuat kebohongan itu.
"Iya, tidak masalah. Semua telah terjadi jadi lupakan saja," ucap Nian.
"Kau benar. Dan Semarang saya baru menyadari jika kau orang nya asyik juga, tidak seperti apa yang saya pikirkan sebelum nya."
"Masa sih, saya rasa tidak seperti itu juga, semua tergantung pada lawan bicara nya, jika dia nyambung dengan apa yang di bicarakan maka pembicaraan akan menjadi asyik, namun begitu pun sebaliknya," jelas Nian.
"Kau orang yang baik, saya berharap kau bisa membuat Kak Aksa sadar dan kembali membuka hati yang sudah lama tertutup," batin Riko berharap yang terbaik untuk Aksa dan juga Nian.
"Iya iyaa, terserah kau saja. Kenapa kau di berada di sini? dimana Kak Aksa?"
"Kak Aksa di kamar sedang bebersih."
__ADS_1
"Apa kau tidak berniat untuk membantu, mungkin saja dia membutuhkan bantuan mu," kata Riko..
"Tidak," Nian menggeleng kepala.
"Kenapa?" tanya Riko penasaran sambil menatap Nian.
"Kak Aksa tidak butuh bantuan, maka dari itu saya kembali turun, dari pada di atas tapi tidak bisa membantu, itu akan terlihat tidak sopan karena menonton seseorang sedang bekerja," jelas Nian dengan memberikan senyuman manis di akhir penjelasan nya.
Aksa baru menyelesaikan beberes langsung turun ke lantai bawa. Niat nya untuk ke dapur memasak.
Namun mendengar suara tawa seseorang yang familiar di gendang telinga nya. Membuat Aksa mencari letak sumber keberadaan orang tersebut.
Langkah kaki Aksa terhenti tepat di belakang pintu taman, dia dapat melihat keakraban Nian dan juga Riko. Tapi hal yang mengganjal di benak nya adalah, sejak kapan mereka dekat?
Selama ini setau nya, Riko tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun, namun sekarang dalam sekejap mereka sangat akrab seperti sudah mengenal lama.
Pertanyaan pertanyaan mulai memutari otak Aksa, entah kenapa melihat kedekatan mereka membuat nya tidak suka, tidak terima.
"Saya tidak menyangka kau bisa lucu juga, kata anak-anak klub Ultra, kau orang nya irit bicara seperti sedang menabung uang, tapi ternyata itu tidak benar. Apa mereka nya saja kurang mengenal mu lebih dekat?" tanya Nian penasaran.
"Entah lah, saya pun tidak tau. Tapi satu hal yang dapat saya simpulkan, semua itu tergantung pada orang yang kita ajak bicara," jawab Riko.
Mendapat jawaban Riko sama seperti jawaban nya tadi, Nian tersenyum, Riko masih mengingat perkataan nya.
"Ya kau benar itu," setuju Nian.
Aksa mencoba mengalihkan pikiran nya, melihat Nian begitu akrab dengan Riko membuat nya kesal.
Sayuran yang di potong Aksa, bentuk nya sudah sangat buruk dan tidak layak untuk di masak, rasa kesal tersebut membuat dapur menjadi berantakan.
"Kak Aksa sejak kapan di dapur? apa beberes nya sudah selesai?" tanya Nian, masuk ke dapur melihat keberadaan Aksa.
"Saya ke atas dulu, selamat berjuang," ucap Riko pelan dan segera pergi meninggalkan mereka.
"Barusan, kamu sendiri sedang apa di sini?" tanya balik Aksa.
"Saya ingin mengambil minum," jawab Nian.
"Dengan Riko?" tanya lagi Aksa menatap serius Nian.
"Iya."
"Hmmm."
Aksa berbalik dan kembali melanjutkan memasak nya.
Nian melihat sikap Aksa seperti sekarang menjadi bingung, namun dia sendiri tidak tau harus bertanya dan melakukan apa.
"Kakak sedang masak apa? boleh saya bantu?" tanya Nian menawarkan diri.
__ADS_1
"Tidak perlu, kau duduk saja di sana," tolak Aksa.
"Kak, saya bosan terus di suruh duduk setiap menawarkan diri untuk membantu, apa Kakak meragukan kekuatan para perempuan?" protes Nian.
"Bukan seperti itu Nian, saya tidak mau kau kerepotan nanti, jadi duduk anteng saja di sana, biarkan saya yang melakukan," jelas Aksa.
"Tidak repot Kak, malahan saya senang bisa membantu Kakak."
"Ya sudah jika seperti itu, saya tidak bisa melarang lagi, kemari lah saya akan mengatakan hal apa saja yang harus kau kerjakan."
"Siap."
"Kakak sering melakukan ini?" Nian menoleh pada Aksa yang sedang menuangkan minyak di wajan.
"Tidak, hanya sesekali," jawab Aksa.
"Sesekali?"
"Iya, kenapa?"
"Tidak, Kakak terlihat sudah sering melakukan, tapi kebenaran nya terbalik dari apa yang di lihat dan di nilai."
"Benar, tapi semua kembali pada diri kita lagi, apakah ingin mendapat jawaban atau diam di tempat, merasa sudah cukup dengan jawaban yang di lihat," sahut Aksa.
Nian bingung dan menatap Aksa. Perkataan Aksa benar-benar tidak di mengerti Nian.
Menyadari Nian tidak mengerti terlihat dari ekspresi wajah. Aksa kembali bersuara.
"Lupakan saja perkataan saya tadi, kau lanjut kan saja pekerjaan mu."
"Iya Kak," sahut Nian, namun dia tidak melupakan perkataan Aska seperti yang di katakan tadi.
"Ada apa dengan Kak Aksa, kenapa perkataan nya tadi penuh penekanan tertuju pada ku?" batin Nian.
Terus melamun, tidak fokus dengan potongan sayur. Nian melukai tangan nya sendiri.
"Auwh," Nian meringis kesakitan.
"Nian, tangan mu berdarah," khawatir Aksa, mematikan kompor gas dan berjalan mendekati Nian.
"Kenapa bisa terjadi? apa yang kau pikirkan? mendingan tadi saya tidak mengizinkan mu membantu, lihat sekarang kau terluka bukan?" marah Aksa.
"Maaf," satu kata terucap dari mulut Nian.
"Ayo ikut saya," ajak Aksa tidak menggubris permintaan maaf Nian.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...
__ADS_1