
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Siang berganti malam, Minggu berganti bulan. Sudah tiga bulan lamanya Viona tinggal di rumah mewah Xander. Segala keinginan dan kebutuhan Viona di penuhi oleh Xander.
Tak ayal rasa senang dan sedih bercampur menjadi satu perasaan. Senang, karena apa yang dulunya diinginkan oleh Viona terkabulkan. Sedih, karena merasa seperti wanita murahan yang hampir setiap malam dijamah oleh Xander.
Terkadang pria itu sangatlah manis, kadang juga tampak mengerikan. Dia sendiri tidak tahu mengapa Xander bisa demikian?
Pagi hari telah tiba, semalam Xander dan Viona kembali melakukan hubungan badan. Wanita itu membuka matanya lebar, rasa mual menyerang dirinya. Segera saja dia berlari ke kamar mandi.
Huek.
Pendengaran Xander yang sangat tajam pun mendengar suara Viona yang mual-mual di dalam kamar mandi. Pria itu segera membuka matanya lebar dan ikut berlari ke kamar mandi.
"Baby, are you okay?" Xander berteriak khawatir bercampur panik.
Saat tiba di kamar mandi dia cukup terkejut melihat Viona muntah-muntah di wastafel.
Huek huek.
"Oh my God, what's going on, Baby? Are you sick?" Xander segera menghampiri Viona. Tanpa jijik ia pijat tengkuk leher Viona, membantu Viona mengeluarkan cairan bening.
Viona segera berkumur-kumur dan mencuci wajahnya.
"Aku tidak tahu … rasanya kepala ku pusing dan perutku mual-mual." Viona berkata dengan suara lemah. Wanita itu bersandar pada dada bidang Xander.
"Kita ke rumah sakit ya." Xander berbicara lembut. Mengajak sang kekasih untuk periksa kesehatan ke rumah sakit.
"No! Mungkin aku begini, karena akhir-akhir ini aku jarang makan nasi! Cuma makan buah saja."
__ADS_1
Viona menjawab, Xander sebagai orang Eropa pun kebingungan. Warga Eropa hanya makan nasi sekali kadang pun seminggu sekali, tidak membuat mereka sakit.
Berbeda dengan orang Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Segala sesuatu harus pakai nasi.
"Kamu mau makan nasi? Nasi goreng mau? Aku akan pesan dari restoran Indonesia!"
Xander berbicara seraya menggendong tubuh Viona ala bridal style. Pria tampan itu membaringkan tubuh sang kekasih atas ranjang dengan hati-hati.
"Tidak usah. Aku lagi tidak ingin makan nasi." Viona menolak dengan suara lemah.
"Lalu kamu mau apa, Baby?" Xander berusaha bersabar menghadapi kemauan Viona.
"Aku mau rujak," jawab Viona pelan membuat Xander bingung.
"Rujak? Makanan apa itu?" Xander bertanya keheranan. Dahi pria itu berkerut penasaran.
"Makanan dari Indonesia. Tapi, terbuat dari buah-buahan yang diiris kecil-kecil dan ada bumbunya!" jelas Viona dengan spesifik membuat Xander sedikit banyak paham.
"Aku akan mencoba mencarinya!" ujar Xander sungguh-sungguh.
Pria itu langsung menghubungi orang suruhannya.
"Halo, tolong kamu beli rusak!" titah Xander salah sebut.
"Rujak, bukan rusak!" ralat Viona sabar membuat Xander menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ah iya … rujak! Tolong beli rujak. Dua porsi yah." Xander segera menutup teleponnya.
__ADS_1
Wajah Viona tampak pucat. Hal itu membuat Xander merasa khawatir.
"Benar, kamu tidak mau ke rumah sakit? Tapi, wajah kamu pucat sekali." Xander mengelus pipi sang kekasih.
Viona menggelengkan kepalanya. Dia menggenggam tangan Xander yang berada di pipinya.
"Peluk!" pinta Viona manja membuat Xander terkejut bukan main. Faktanya selama tiga bulan bersama tak pernah sekalipun Viona minta dipeluk, bahkan wanita itu akan merasa risih bila Xander memeluknya secara tiba-tiba.
"Hah?"
"Peluk!" rengek Viona sekali lagi.
Segera Xander memeluk erat tubuh Viona. Wanita itu malah merangsek ke dalam pelukannya lalu mendusel di ketiaknya.
"Tumben," gumam Xander pelan.
*
*
Maaf baru up lagi, jangan marah yah. Terima kasih semuanya 🙏🥺❤️
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰
__ADS_1