
Susah payah bawahan Xander mencari rujak. Untung saja mereka menemukan nya di restoran Indonesia ke-4, entah apa yang terjadi pada mereka bila sampai tak mendapatkan rujak. Tentunya kepala mereka yang menjadi rujak.
"Huff … permintaan Nona Viona sangat menyusahkan. Untung saja kita mendapatkan rujak, kalau tidak Bisa-bisa kita yang di jadikan rujak oleh, Tuan Xander."
Para bawahan Xander pun menggerutu dalam hati.
*
*
Xander bernafas lega. Dia mengambil dua bungkusan rujak dari bawahan nya. Segera dia masuk ke dalam kamar, melihat Viona sedang bersandar di tepi ranjang dengan memeluk erat bantal guling nya.
"Baby, lihat aku bawa apa ini?" Xander tersenyum ceria menampakkan dua bungkusan rujak pada Viona.
Berharap dapat menyenangkan hati Viona. Namun, senyuman di wajahnya langsung menghilang saat melihat wajah Viona murung.
"Lebih baik kamu saja yang makan! Aku sudah capek dari tadi panggil nungguin rujak nya. Keburu aku kenyang makan angin!" Rajuk Viona dengan suara meninggi.
Raut wajah Xander berubah mengerikan. Pria itu menatap tajam Viona, rasa kesal membalut dirinya. Tidak suka dengan penolakan wanita itu. Padahal anak buahnya capek-capek mencari rujak untuk Viona. Namun, respon wanita itu sangat di luar ekspektasi.
Xander melemparkan dua bungkusan rujak itu ke atas kasur. Kotak rujak berserakan, sontak saja mata Viona terbuka lebar. Dia menoleh ke arah Xander, tubuhnya menggigil ketakutan.
"Makan!" titah Xander dingin. Pria itu menghempaskan bokongnya di dekat Viona.
Aura Xander saat ini sangatlah dingin dan menyeramkan.
"Aku tidak mau lagi." Viona menjawab pelan. Memang benar dia sudah tak ingin lagi makan rujak, karena tadi dia sudah makan sup ayam buatan chef.
__ADS_1
Dia juga merasa aneh dengan tubuhnya. Padahal tadi ngotot ingin makan rujak, namun karena bawahan Xander terlalu lama membawakan dirinya rujak. Viona malah ngambek dan tak ingin lagi makan buah-buahan yang di lengkapi dengan bumbu khas Indonesia itu.
"Aku bilang makan ya makan, Sialan?!" bentak Xander dengan nada tinggi seraya memukul tepi ranjang. Sontak saja Viona menahan tangisnya agar tak pecah. Dia menggigil hebat. Nafasnya tercekat, bola matanya bergetar.
"I-iya aku akan makan," jawab Viona pelan, karena ketakutan.
Segera wanita itu membuka kotak rujak. Tangannya bergetar, dia mengambil garpu plastik yang berada di bungkusan. Lalu memakan rujak itu dengan lahap, dia berusaha menahan mualnya.
Xander tersenyum manis saat melihat Viona patuh padanya. Di belai kepala wanita itu lembut.
"Good girl," puji Xander dengan nada suara lembut. Viona hanya mampu menahan tangisnya. Dia sangat takut pada Xander yang karakter nya berubah-rubah.
Bisa menjadi malaikat, bisa pula menjadi iblis dalam waktu dekat.
"Aku tidak suka orang yang tidak menghargai makanan. Tapi, aku paling benci pada orang yang tidak menghargai perjuangan. Bawahan ku sudah capek-capek mencari rujak agar kamu bisa puas dan senang. Tapi, kamu malah merajuk seperti tadi!"
Xander mencium daun telinga Viona. Wanita itu langsung meringkuk, karena merasa tidak nyaman.
"A-aku …"
Belum sempat Viona berbicara. Rasa muak kembali menyerangnya. Wanita itu langsung berlari ke kamar mandi, lalu memuntahkan semua yang ia telan dari pagi sampai siang tadi.
Xander mengepalkan tangan nya erat. Dia mengira kalau Viona sengaja pura-pura muntah, karena tidak ingin bersentuhan dengannya.
"Benar-benar menguji kesabaran ku," desis Xander pelan.
Pria itu langsung bangkit melangkah pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
"Sudahi pura-pura mu, Viona. Sebelum aku hancurkan wajahmu itu!" sentak Xander dengan suara meninggi.
Viona baru saja selesai memuntahkan isi perutnya. Dia menoleh ke arah pintu dan melihat Xander samar-samar. Telinganya berdenging dan rasa pusing menyerang kepalanya.
Suara Xander tak lagi ia dengar.
"Viona jangan main-main denganku!" teriak Xander marah melangkah cepat ke arahnya.
Namun, Viona lebih dulu jatuh tak sadarkan diri. Xander buru-buru berysaha menggapai tangan Viona, namun tak sempat. Tubuh wanita itu lebih dulu ambruk ke lantai kamar mandi.
"Viona?!" penik Xander panik menekuk salah satu kakinya memangku kepala Viona.
"Hey Baby! Wake up … hey hey … di you hear me?" Xander menepuk lembut pipi Viona. Berharap sang kekasih sadar, sorot mata Xander tertuju pada celana putih hot pant Viona.
Degg.
"Da-darah," lirih Xander pelan.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
__ADS_1