
Xander tak sengaja menabrak seseorang. Pria itu terkejut, segera dia matikan ponselnya, lupa berpamitan pada sang istri. Pria itu segera turun dari mobilnya guna melihat korban.
Dia melihat seorang pria telungkup di aspal. Padahal menurut Xander dia tidak mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di tambah pria itu yang salah karena menyeberang jalan secara tiba-tiba.
"Hey, are you okay?" Xander bertanya dengan nada suara khas nya. Dingin dan datar.
Dia menekuk salah satu kakinya, suasana sangat sepi. Telinga tajam Xander mampu mendengar suara derap langkah kaki. Segera dia menoleh ke belakang.
Bugh.
Seorang pria bertato mengayunkan tongkat baseball, ingin memukul kepala Xander. Namun, pria itu cepat tanggap. Langsung menangkis pukulan tersebut dengan tangan kosong.
Hap.
Xander berhasil berdiri, dia melirik ke arah pria tadi, ternyata pria itu telah berdiri dengan sangat baik.
Ah … Xander paham jalan ceritanya, ternyata mereka adalah preman di malam hari yang merampok harta para musafir.
"Haiss … cara kalian ingin merampok sangatlah klasik! Hampir saja aku tertipu," ujar Xander dengan nada santai tak takut sedikitpun.
Xander adalah mantan ketua mafia, dia telah turun tahta dari dunia hitam, semenjak menikah dengan Viona. Tak ingin sang istri mendapatkan percikan amarah musuh nya di dunia hitam.
Melawan atau memberi pelajaran bagi preman kampungan seperti mereka, sangatlah mudah bagi Xander.
"Serahkan harta berharga yang kau punya, maka kami akan mengampuni nyawa mu!" ujar pria asing itu penuh kesombongan.
Cih.
__ADS_1
Xander tertawa mengejek. Sebenarnya sangat mudah menghabisi empat tikus got itu. Sebab, Xander memiliki pistol, hanya saja dia ingin bermain sedikit.
"Kalau kau ingin punya harta, maka bekerja! Bukan malah merampas hak orang lain!" desis Xander menetap hina ke arah pria di hadapannya ini.
"Merampas hak orang lain, juga bekerja namanya?!" Pria itu membalas dengan nada sarkas membuat Xander memasang raut wajah dingin.
"Baiklah, kalau begitu aku juga sedang bekerja sekarang!" ujar Xander dengan nada sangat dingin.
"Ah … terlalu banyak bicara kau! Ayo kita hajar saja dia!" sentak salah satu dari empat pria itu.
"Peraturan nya, kalian tidak boleh mengotori bajuku! Kalau sampai itu terjadi, jangan harap bisa melihat matahari besok!" desis Xander dengan nada penuh penekanan.
Dia tidak mau kalau istrinya khawatir melihat pakaian nya kotor, apalagi sampai berdarah.
Terjadilah perkelahian antara Xander dan empat pria itu. Mereka berkelahi dengan liar, Xander angkat lincah menangkis setiap pukulan empat pria itu
Bugh.
Bugh.
Xander terus menghajar mereka satu persatu. Hingga ponsel Xander berdering berkali-kali, membuat pria itu mencari cara agar bisa mengambil ponselnya dari saku.
"Sial, kenapa dia sangat hebat," batin para preman itu menggerutu kesal, karena baru pertama kali mendapatkan lawan yang sangat sulit di taklukkan.
Saat mereka lengah, Xander berhasil mengambil ponselnya. Dia menerima panggilan dari seseorang, karena Xander tak sempat melihat nama si pemanggil.
"Halo, ada apa?" tanya Xander dengan suara yang di buat-buat santai.
__ADS_1
"Sial, kau anggap kamu apa, huh?! Sedang berkelahi masih berani terima telpon!" teriak mereka marah.
Xander tak menggubris, dia menajamkan telinganya untuk mendengar apa yang di katakan oleh si penelpon.
[Tuan, Nona Viona saat ini sedang kamu larikan ke rumah sakit, karena beliau mau melahirkan! Ketuban nya sudah pecah!]
Xander melebarkan matanya sempurna. Baru tadi dia telponan dengan Xander, mengapa sekarang sudah mau melahirkan. Apakah ada sesuatu yang terlewatkan.
Dia menghentikan aksinya, membuat para preman itu mengambil kesempatan menendang kaki Xander membuat pria itu jatuh.
"Bagaimana bisa? Bukannya dua Minggu lagi istriku baru melahirkan?" tanya Xander dengan suara meninggi, tanpa peduli tubuhnya di injak-injak. Sebab, dia mengalihkan semua atensi nya untuk mendengar kabar sang istri.
[Nona Viona tadi mengkhawatirkan Anda, karena Anda tiba-tiba mematikan telpon, lalu Nona Viona menunggu Tuan di depan rumah, sampai kaki beliau tergelincir di tangga depan, untung ada Emma yang menahan tubuh Nona agar tak jatuh, tapi, tiba-tiba Nona berteriak kesakitan dan ketuban pecah!]
Sang pelayan melaporkan semuanya pada Xander, pria tampan itu langsung mematikan ponsel nya. Matanya berubah tajam, dia segera bangkit berdiri, dan mengeluarkan pistolnya.
"Sudah ku katakan, jangan ootori pakaian ku, Sialan!" Xander menembak kaki kanan semua preman itu membuat mereka meringis kesakitan.
"Akkk … ampun!"
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
__ADS_1
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰