
Viona tersenyum cerah melihat banyak wahana permainan. Seumur hidup baru kali ini dia mengunjungi tempat bermain, karena sebelumnya dia terlalu sibuk cari uang untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Sekarang dia bisa bermain sepuasnya, karena Xander yang membayar.
"Bisa aku naik rollercoaster?" tanya Viona serius dengan senyuman bahagia terbit di wajahnya, pria tampan itu menganggukkan kepalanya. Dia merasa sangat senang.
"Kita beli tiketnya dulu. Setelah itu tunggu giliran kita baru bisa naik, okay!" ujar Xander lembut seraya mengelus puncak kepala Viona membuat hati wanita itu hangat. Wanita itu belum tahu betul bagaimana perangai Xander, terkadang pria itu baik, kadang bisa kasar.
Namun, selama dia patuh pada perintah Xander, pria itu akan berbuat baik dan manis padanya. Tidak apa-apa dirinya patuh pada Xander, setidaknya pria itu tidak jahat seperti ayahnya.
"Kalau tahu tadi kamu mau kemari, aku akan menyewa tempat ini agar kamu bisa puas bermain tanpa harus menunggu antrian seperti ini." Xander berkata dengan nada lembut. Mendengar ucapan pria itu membuat Viona tertawa lepas. Dia merasa kalau Xander telah berlebihan.
Ia tahu kalau pria di sampingnya ini kaya, tetapi tak mungkin sampai busa menyesal tempat bermain mewah ini, bukan?
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Xander bingung tak paham di mana letak kelucuan, sampai-sampai Vion tertawa lepas.
"Kamu terlalu berlebihan saat berbicara. Mungkin kamu kaya, tapi tidak sampai mampu menyewa tempat ini, kak!"
Viona terkekeh geli. Dia menutup mulutnya agar tawanya tak lepas. Mendengar ucapan Viona bagaikan hantaman keras bagi Xander. Harga dirinya tercoreng sebagai pengusaha sukses di Eropa. Apalagi kalau sampai anak buahnya tahu, ada wanita yang meremehkan kekayaan nya, pastilah mereka semua tertawa terbahak-bahak.
"Akan aku tunjukkan seberapa kaya aku padamu." Xander berkata dengan nada dingin membuat Viona menghentikan tawanya.
Dia menatap Xander dengan tatapan bingung. Pria itu mengeluarkan ponselnya dari saku lalu segera menghubungi seseorang.
"Kosongkan wahana JK. Aku ingin bermain di sini bersama kekasih ku saat ini juga. Bayar berapapun yang mereka mau!" tegas Xander pada bawahannya lalu segera ia akhiri panggilan tersebut.
Entah mengapa jantung Viona berdegup kencang, dia sendiri merasa kalau Xander sedang serius. Raut wajah pria itu tampak dingin dan kusut.
"Percaya padaku, dalam waktu 5 menit saja. Tempat ini akan kosong." Xander berkata santai dengan nada dingin. Viona menelan ludahnya kasar tak tahu harus menjawab apa.
Benar saja, setelah Xander berkata demikian, alarm berbunyi menandakan semua pengunjung harus pulang. Para sekuriti yang bertugas di sana pun segera mengosongkan zona permainan anak-anak itu.
Viona hanya mampu membuka mulutnya lebar, dia tidak menyangka kalau Xander akan bertindak berlebihan seperti ini. Lihatlah banyak anak kecil yang menangis karena belum puas bermain. Ada pula orang dewasa tampak kesal dan kecewa.
Matanya berkedip-kedip tak tahu harus merespon seperti apa melihat orang-orang di hadapannya sedang melangkah menuju ingin keluar.
Xander tersenyum puas melihat nya.
"Sekarang kau lihat, bukan? Aku lebih kaya dari yang kau kira."
Xander tersenyum angkuh. Melirik ke samping, melihat wajah Viona yang masih terkejut.
__ADS_1
"Ini terlalu berlebihan menurutku," gumam Viona pelan tak terdengar oleh Xander.
Tak seberapa lama sekuriti datang menghampiri keduanya. Sepuluh sekuriti itu menyambut kedatangan Xander, mereka merasa senang sebab pengusaha kaya seperti Xander mau singgah ke tempat mereka.
"Selamat datang di wahana JK, Tuan Xander. Maafkan kami telah menyapa, karena tidak tahu kalau Anda berkenan mengunjungi tempat kamu."
Seorang sekuriti berkepala botak bersuara. Xander menganggukkan kepalanya.
"Aku ke sini atas ajakan calon istriku. Apakah semua wahana di sini aman? Tidak ada korban jiwa, bukan?" tanya Xander serius seraya menaikkan alisnya sebelah.
"Tidak pernah, Tuan. Selama 20 tahun wahana JK berajalan tanpa ada korban jiwa. Safety first, no accident merupakan slogan kamu!" tegas sekuriti itu penuh percaya diri membuat Xander paham. Pria itu mengangguk kepalanya cepat. Artinya dia tak perlu takut terjadi apa-apa nantinya.
Keamanan dan kenyamanan tempat wahana ini merupakan nilai plus. Sehingga menjadi tempat Wahana yang paling di gemari masyarakat.
"Calon istriku mau naik rollercoaster!"
"Baik, Tuan."
Xander menggandeng tangan Viona, membawa wanita itu menuju rollercoaster. Keduanya menaiki wahana tersebut. Sabuk pegangan di pasangkan, jantung Viona berdegup kencang. Dia tidak pernah menaiki wahana ini, hanya pernah melihat di televisi dan internet.
"Kamu takut?" tanya Xander lembut lalu mencium punggung tangan Viona.
"Ada aku di sini, jangan takut!" ujar Xander serius membuat Viona menganggukkan kepalanya.
Dia percaya pada Xander. Rollercoaster itupun bergerak membuat Viona menggenggam erat tangan Xander. Pria itu tersenyum kecil melihat ekspresi takut Viona. Masih sempatnya pria itu mengeluarkan ponsel lalu memotret kebersamaan nya dengan Viona.
Hingga saat rollercoaster bergerak cepat, barulah Xander memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. Suara teriakan Viona terdengar, wanita itu tampak sangat takut. Xander malah santai saja, dia asik menatap wajah histeris Viona dari samping.
"Aaaaa …. Mak … aku takut! Mamak!" teriak Viona kencang membuat Xander tertawa lepas. Pria itu senang melihat Viona mengekspresikan wajahnya seperti ini.
"Lihatlah Zara, cara berteriak nya pun sama sepertimu. Dia sangat mirip denganmu, aku semakin ingin memiliki nya!" batin Xander berkata.
Untung saja Viona tak bisa mendengar suara hati Xander. Kalau tidak, maka dapat di pastikan wanita itu akan sangat takut pada sosok Xander.
*
*
Huwekk.
__ADS_1
Viona memuntahkan isi perutnya ke dalam plastik. Baru satu wahana ia naiki sudah mual begini, tubuhnya lemas dan perutnya seperti di aduk-aduk. Belum lagi kepalanya berdenyut sedari tadi. Dia benar-benar tak sanggup untuk melanjutkan keinginan nya bermain.
Xander memijat tengkuk Viona pelan. Dia menyesal menyetujui calon istrinya itu untuk datang ke wahana. Kalau tahu begini pasti dia tidak akan mau menemani Viona.
"Lain kali aku tidak akan membawamu kemari lagi! Lebih baik aku membawamu ke mall untuk membeli perhiasan dan pakaian!" sungut Xander dengan nada kesal melihat Viona muntah-muntah.
Setelah dirasa perut gadis itu nyaman dan aman. Barulah dia berkumur-kumur dengan air yang di berikan oleh Xander. Tak lupa dia membuang plastik muntahan nya ke dalam tong sampah.
"Makan ini, agar bau mulutmu hilang. Aku tidak mau ciuman dengan wanita yang mulutnya bau muntahan!" dengus Xander memberikan tiga permen mint untuk Viona.
"Terima kasih." Viona berkata lirih, dia menerima permen Xander lalu segera memakan semuanya.
Mulutnya sudah terasa harum. Begitupun dengan nafasnya. Xander senantiasa memeluk pinggang Viona sedari tadi, takut kalau wanita itu tiba-tiba ambruk.
Kaki Viona sudah gemetar seperti jelly. Saat berada di rollercoaster tadi. Dia tidak sabar untuk segera turun.
"Kita pulang sekarang! Keadaan mu tidak memungkinkan untuk jalan-jalan lagi."
Xander menggendong tubuh ramping Viona. Wanita itu tak banyak berontak. Dia merebahkan kepalanya pada dada bidang Xander, wanita itu memejamkan matanya sesaat.
Saat Xander berada dalam mobil. Seseorang menghubungi nya.
"Ada apa?"
[Tuan, ada Nona Jessica di markas. Dia mengancam akan membuat keributan di sini kalau Anda tidak datang menemui nya!]
Xander mengepalkan tangannya erat. Dia sangat kesal mendengarnya.
"Katakan padanya aku akan datang untuk menemui nya!" tegas Xander lalu mematikan panggilan ponselnya.
"Ck, ternyata jadi orang tampan lelah juga yah? Banyak diincar wanita seksoyy," gumam Xander pelan dan narsis.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰
__ADS_1
Salem Aneuk Nanggroe Aceh